Penjelasan Hadits Bukhari No. 7449 tentang Perselisihan surga dan neraka serta kepenuhan keduanya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Surga dan Neraka "berbicara" kepada Allah dengan keadaan masing-masing: Surga merasa hanya diisi orang-orang lemah dan rendahan, sedangkan Neraka merasa diisi orang-orang sombong. Allah menegaskan Surga adalah rahmat-Nya dan Neraka adalah siksa-Nya, dan keduanya pasti akan dipenuhi. Hadits ini mengajarkan tawadhu', tidak sombong, dan bahwa pintu rahmat Allah terbuka bagi siapa saja yang rendah hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab firman Allah: "Inna rahmatallāhi qarībun minal-muḥsinīn" (Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik). Perawi sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ayat yang menjadi judul bab:

QS. Al-A'raf [7]: 56

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) baik, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Ayat lain yang berkaitan dengan "bertengkar"-nya Surga dan Neraka serta "Qat! Qat!":

QS. Qaf [50]: 30

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

"Pada hari itu Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah engkau sudah penuh?' Dan ia menjawab, 'Apakah masih ada tambahan?'"

Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dan Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa "bertengkar" di sini adalah kiasan (tamtsil) yang Allah jadikan untuk menggambarkan keadaan penghuni, bukan berarti Surga dan Neraka benar-benar berbicara seperti makhluk berakal. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa ini termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani tanpa menyerupakan dengan makhluk.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Surga dan Neraka bertengkar"

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini adalah gaya bahasa Al-Qur'an dan Sunnah yang disebut tamtsil (perumpamaan) untuk memuliakan Surga dan mengagungkan Neraka. Allah menjadikan keduanya seolah-olah berbicara agar manusia memahami hakikat masing-masing: Surga adalah tempat rahmat, Neraka adalah tempat siksa.

2. "Hanya orang-orang lemah dan rendahan yang masuk Surga"

Kata dhu'afa dan saqath di sini bukan berarti hina di sisi Allah. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang lemah secara duniawi — fakir, yatim, hamba sahaya, orang-orang yang tidak memiliki kedudukan di mata manusia — namun hati mereka bersih dari kesombongan. Mereka inilah yang paling mudah tunduk kepada Allah. Sebaliknya, orang-orang yang sombong dan merasa tinggi biasanya enggan masuk pintu rahmat yang menuntut kerendahan hati.

3. "Neraka diutamakan dengan orang-orang sombong"

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa kesombongan adalah dosa yang paling pantas dihukum di Neraka. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain (Shahih Muslim) bahwa orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk Surga. Maka Neraka menjadi tempat yang "cocok" bagi para mutakabbirin.

4. "Engkau adalah Rahmat-Ku, engkau adalah Siksa-Ku"

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa Surga dan Neraka adalah dua makhluk Allah yang menjadi manifestasi sifat rahmat dan sifat 'adzab-Nya. Rahmat dan siksa itu Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, sesuai hikmah-Nya. Tidak ada yang bisa memaksa Allah, dan tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya.

5. "Setiap dari kalian pasti dipenuhi"

Allah berjanji Surga dan Neraka sama-sama akan penuh. Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. Qaf [50]: 30 menjelaskan bahwa Neraka akan terus berkata "hal min mazīd" (apakah masih ada tambahan?) sampai Allah meletakkan "Kaki-Nya" — yang menurut Ibnu Hajar dan An-Nawawi adalah sifat Allah yang wajib diimani tanpa menyerupakan dengan makhluk (bila kaif). Setelah itu Neraka merasa cukup dan berkata "Qat! Qat! Qat!" (cukup! cukup! cukup!).

6. Perbedaan pendapat ulama daftar

  • Ibnu Hajar dan An-Nawawi: "bertengkar" adalah kiasan, dan "Kaki" adalah sifat Allah yang wajib diimani tanpa takwil.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa: menegaskan bahwa sifat-sifat Allah seperti "Kaki" (qadam) adalah sifat hakiki yang layak bagi Allah, tidak boleh ditakwil menjadi "orang-orang yang mendahului" sebagaimana sebagian kelompok menyimpang.
  • As-Sa'di dalam Tafsir: menekankan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan kerasnya siksa-Nya, sehingga manusia harus berharap dan takut secara seimbang.

Yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Hajar: mengimani sifat Allah sebagaimana datangnya, tanpa takwil, tanpa tasybih (menyerupakan), dan tanpa ta'thil (menolak).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang orang-orang sombong. Beliau menjawab: "Sesungguhnya kesombongan itu adalah selendang Allah. Barangsiapa yang menyaingi Allah dalam kesombongan, maka Allah akan melemparkannya ke dalam Neraka." Beliau juga berkata: "Aku tidak pernah melihat orang sombong kecuali ia pasti merendahkan orang lain, dan tidak pernah aku melihat orang tawadhu' kecuali ia pasti memuliakan orang lain."

Suatu ketika Fudail bin 'Iyadh berkata: "Barangsiapa yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain, maka ia telah sombong." Lalu beliau menangis dan berkata: "Aku takut diriku termasuk orang-orang yang sombong, karena aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku." Inilah sikap salaf: takut kepada kesombongan, meski sudah berilmu dan beramal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi kesombongan dalam bentuk apa pun — merasa lebih baik, lebih kaya, lebih berilmu, atau lebih mulia dari orang lain.
  2. Rendahkan hati — karena Surga adalah rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang tawadhu'.
  3. Seimbangkan harap dan takut — berharap pada rahmat Allah, namun takut pada siksa-Nya.
  4. Imani perkara ghaib seperti "bertengkar"-nya Surga dan Neraka serta sifat Allah tanpa takwil dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjadikan kita penghuni Surga dan menjauhkan kita dari Neraka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?