Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal besar: pertama, sikap seorang mukmin saat tertimpa musibah, yaitu bersabar dan mengharap pahala dari Allah, karena segala sesuatu adalah milik Allah dan ada batas waktunya. Kedua, bolehnya menangis karena kasih sayang saat kehilangan orang tercinta, selama tidak disertai keluhan atau kemarahan kepada takdir. Tangisan Nabi ﷺ adalah wujud rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-hamba-Nya yang penyayang, dan ini justru menjadi bukti kesempurnaan iman beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
QS. Al-Baqarah [2]: 156
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab firman Allah: "Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-A'raf [7]: 56). Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab "Al-Buka' 'ala al-Mayyit" (menangis atas mayit), dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk faedah-faedahnya dalam bab kesabaran dan bolehnya menangis tanpa meratap.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa menangis karena kasih sayang tidak bertentangan dengan kesabaran, selama tidak ada ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa tangisan Nabi ﷺ di sini adalah tangisan rahmat, bukan tangisan keluhan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Sikap Nabi ﷺ saat menerima kabar musibah
Saat putri beliau mengirim utusan untuk meminta beliau datang menjenguk anaknya yang sedang sekarat, Nabi ﷺ mengirim pesan yang sangat agung: "Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu ada batas waktunya. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung prinsip ridha terhadap qadha (ketetapan Allah). Kata "Inna lillahi ma akhadza" mengajarkan bahwa anak yang meninggal itu sebenarnya milik Allah, dan Allah hanya mengambil kembali milik-Nya. Kata "walahu ma a'tho" mengajarkan bahwa anak yang lahir juga milik Allah, dan Allah yang memberi. Maka tidak pantas bagi seorang hamba untuk bersedih berlebihan atas sesuatu yang bukan miliknya, karena pemilik sejati berhak mengambilnya kapan pun Dia kehendaki.
2. Menangis karena kasih sayang adalah sifat terpuji
Ketika Nabi ﷺ melihat cucunya yang sedang sekarat dengan napas tersengal-sengal, beliau menangis. Sa'ad bin 'Ubadah heran dan bertanya, "Apakah engkau menangis?" Maka Nabi ﷺ menjawab: "Sesungguhnya Allah hanya mengasihi di antara hamba-hamba-Nya yang penyayang."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tangisan Nabi ﷺ di sini adalah tangisan rahmat (kasih sayang), bukan tangisan jaz'a (keluhan) atau qunut (putus asa). Ini menunjukkan bahwa menangis karena kehilangan orang tercinta adalah perkara yang wajar dan tidak tercela, selama tidak disertai meratap, menampar pipi, merobek baju, atau ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
3. Perbedaan antara sabar dan menangis
Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa kesabaran bukan berarti tidak boleh menangis. Kesabaran adalah menahan lisan dari keluhan, hati dari kemarahan, dan anggota badan dari perbuatan yang dilarang. Adapun air mata yang mengalir karena kasih sayang adalah fitrah manusia yang tidak tercela. Bahkan ini menunjukkan kelembutan hati, dan Allah mencintai hamba-Nya yang memiliki hati yang lembut.
4. Pelajaran tentang kasih sayang secara umum
Ucapan Nabi ﷺ "Innamā yarhamullāhu min 'ibādihil ruhama'" (Sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-hamba-Nya yang penyayang) menunjukkan bahwa rahmat Allah kepada hamba-Nya berkaitan erat dengan sifat kasih sayang yang ada pada diri hamba tersebut. Semakin besar kasih sayang seseorang kepada makhluk, semakin besar pula rahmat Allah kepadanya. Ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian disayangi oleh yang di langit." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad; dihasankan oleh Syaikh al-Albani).
5. Keutamaan bersabar dan berharap pahala
Frasa "fal-tashbir wal-tah tasib" (maka bersabarlah dan berharaplah pahala) mengandung dua hal: ash-shabr (kesabaran) dan al-ihtisab (mengharap pahala dari Allah). Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa al-ihtisab adalah kesabaran yang disertai harapan pahala dari Allah. Ini lebih tinggi derajatnya daripada sekadar sabar biasa, karena orang yang sabar biasa mungkin masih merasa berat, tetapi orang yang berharap pahala akan merasa ringan karena yakin ada ganjaran yang menantinya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami masuk bersama Rasulullah ﷺ menjenguk putra Abu Thalhah yang sedang sakit. Abu Thalhah berkata, "Wahai Rasulullah, anakku telah meninggal." Maka Rasulullah ﷺ mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), lalu bersabda: "Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian ini." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan adab seorang mukmin saat menerima musibah. Abu Thalhah tidak menangis histeris, tidak meratap, tetapi ia menyampaikan kabar dengan tenang. Dan Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi mereka. Dari kisah ini, para ulama mengambil pelajaran bahwa di balik musibah selalu ada hikmah dan keberkahan bagi orang-orang yang bersabar.
Dalam riwayat lain, ketika putra Nabi ﷺ, Ibrahim, wafat, beliau menangis. Ketika ditanya, beliau bersabda: "Mata ini menangis, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Dan sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ini adalah contoh terbaik bagaimana seorang mukmin menyeimbangkan antara perasaan manusiawi dan kepasrahan kepada takdir Allah.
Kesimpulan Praktis
- Saat tertimpa musibah, ucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan ingatlah bahwa segala sesuatu adalah milik Allah yang akan kembali kepada-Nya.
- Bersabar dan berharaplah pahala dari Allah, karena kesabaran yang disertai harapan pahala akan mengubah musibah menjadi ladang pahala.
- Menangis karena kasih sayang kepada orang yang meninggal adalah perkara yang wajar dan tidak tercela, selama tidak disertai meratap atau keluhan kepada takdir.
- Perbanyak kasih sayang kepada sesama makhluk, karena rahmat Allah kepada hamba-Nya berkaitan dengan sifat penyayang yang ada pada diri hamba tersebut.
- Jadikan Nabi ﷺ sebagai teladan dalam menyikapi musibah: hati bersedih, mata menangis, namun lisan hanya mengucapkan yang diridhai Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.