Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7439 tentang Makna firman Allah: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Rabbnya.” (QS. Al-Qiyamah: 22–23)

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang kenikmatan terbesar di akhirat, yaitu melihat Allah ﷻ dengan mata kepala sendiri oleh orang-orang beriman di surga. Hadits ini juga menggambarkan peristiwa dahsyat di hari kiamat, mulai dari dikumpulkannya manusia, ditampakkannya neraka, pertanggungjawaban, hingga syafaat dan rahmat Allah yang agung bagi ahli tauhid. Intinya, hadits ini menegaskan keyakinan Ahlus Sunnah bahwa Allah ﷻ benar-benar dapat dilihat di akhirat dan bahwa keselamatan hanya bagi mereka yang beriman dan ikhlas kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab: "Makna firman Allah: 'Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Rabbnya.'" (QS. Al-Qiyamah: 75:22-23). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab: "Melihat Allah ﷻ pada hari kiamat."

Ayat yang menjadi dasar bab ini adalah firman Allah ﷻ:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)

Artinya: "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat."

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah dalil paling tegas tentang ru'yah (melihat Allah) bagi orang-orang beriman di akhirat. Beliau menukil perkataan para sahabat dan tabi'in seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan Al-Bashri yang menafsirkan "ila rabbiha nazhirah" dengan makna melihat Allah dengan mata kepala mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits terpanjang dan paling agung dalam Shahih Al-Bukhari, yang merangkum beberapa peristiwa besar hari kiamat. Berikut penjelasan rincinya berdasarkan pemahaman ulama Ahlus Sunnah:

  1. Kepastian Melihat Allah ﷻ: Pertanyaan para sahabat dijawab Nabi ﷺ dengan perumpamaan yang sangat jelas. Beliau menyamakan kemudahan melihat Allah dengan kemudahan melihat matahari dan bulan di siang hari yang cerah. Ini menunjukkan bahwa melihat Allah adalah suatu keniscayaan bagi orang beriman, tanpa keraguan dan tanpa kesulitan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ini adalah ijma' (konsensus) Ahlus Sunnah bahwa Allah ﷻ dapat dilihat di akhirat.
  2. Peristiwa Sebelum Melihat Allah: Sebelum kenikmatan melihat Allah, ada beberapa tahapan yang harus dilalui:
  • Pemisahan Manusia: Manusia akan dipanggil untuk mengikuti apa yang mereka sembah. Ini adalah pemisahan yang adil antara ahli tauhid dan ahli syirik.
  • Ditampakkannya Neraka: Neraka diperlihatkan seperti fatamorgana. Ini adalah ujian dan azab bagi orang-orang kafir.
  • Pertanggungjawaban Ahli Kitab: Orang Yahudi dan Nasrani akan ditanya tentang sembahan mereka dan mereka akan mengakui kesyirikan mereka, lalu mereka akan dilemparkan ke neraka. Ini menunjukkan bahwa keyakinan yang salah akan membawa kepada kebinasaan.
  • Menunggu Rabb: Orang-orang mukmin yang tersisa dengan sabar menunggu Rabb mereka, meskipun orang lain telah pergi. Ini adalah puncak kesabaran dan keyakinan mereka.
  1. Sujud dan Pengakuan: Ketika Allah ﷻ datang (dengan cara yang sesuai keagungan-Nya) dan menyingkapkan betis-Nya (ini adalah sifat Allah yang wajib kita imani tanpa menanyakan bagaimana), maka semua orang mukmin akan bersujud. Namun, orang-orang munafik yang dulu shalat karena riya' tidak akan mampu sujud; punggung mereka menjadi kaku. Ini adalah azab yang sangat pedih bagi mereka yang tidak ikhlas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa ini adalah bukti bahwa amal tanpa keikhlasan tidak akan diterima di akhirat.
  2. Jembatan (Ash-Shirath): Ini adalah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam. Jembatan ini sangat licin dan tajam, penuh dengan duri dan kait. Kecepatan orang mukmin melewatinya tergantung pada amal dan keimanan mereka di dunia. Ada yang secepat kilat, ada yang seperti angin, dan ada yang tersungkur ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka. Ini adalah manifestasi dari hisab (perhitungan) yang adil.
  3. Syafaat dan Rahmat Allah: Setelah orang-orang mukmin selamat, mereka memohon syafaat untuk saudara-saudara mereka yang masih di neraka. Ini menunjukkan tingginya akhlak dan kepedulian mereka. Kemudian Allah ﷻ mengabulkan syafaat para nabi, malaikat, dan orang-orang mukmin. Namun, yang paling agung adalah syafaat Allah sendiri. Allah mengeluarkan orang-orang yang memiliki iman sebesar atom dari neraka. Ini adalah bukti bahwa rahmat Allah ﷻ sangat luas dan tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di sisi-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman saat menafsirkan QS. An-Nisa [4]: 40 (yang dikutip oleh Abu Sa'id dalam hadits ini) menjelaskan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya walau sebesar zarrah (atom). Bahkan, jika ada kebaikan sebesar zarrah, Allah akan melipatgandakannya dan memberinya pahala yang besar.

  1. Air Kehidupan dan Masuk Surga: Orang-orang yang dikeluarkan dari neraka akan dimandikan di sungai "Maa-ul-Hayaat" (Air Kehidupan) di pintu surga. Mereka akan tumbuh kembali seperti biji yang tumbuh subur di tepi air. Ini adalah simbol pembersihan total dari dosa dan pengembalian kehidupan yang sempurna. Mereka kemudian masuk surga tanpa amal, sebagai bentuk kemurnian rahmat Allah. Penduduk surga akan menyebut mereka "'utaqa'ur Rahman" (orang-orang yang dimerdekakan oleh Ar-Rahman).

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil hikmah dari kisah para sahabat yang bertanya tentang hal yang paling agung, yaitu melihat Allah. Mereka tidak bertanya tentang surga atau bidadari, tetapi tentang Rabb mereka. Ini menunjukkan tingginya cinta dan kerinduan mereka kepada Allah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 7437) dari hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajali, bahwa suatu malam mereka sedang duduk bersama Nabi ﷺ, lalu beliau melihat bulan purnama dan bersabda:

"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ..."

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan terhalang (atau kesulitan) dalam melihat-Nya..."

Para sahabat sangat antusias mendengar kabar gembira ini. Mereka adalah generasi yang paling rindu untuk bertemu dengan Allah. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu merindukan pertemuan dengan Allah dan beramal dengan ikhlas hanya untuk-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah dengan Rukun Iman: Iman kepada hari akhir dan melihat Allah ﷻ adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini.
  2. Ikhlas dalam Beramal: Hadits ini mengingatkan kita bahwa amal yang tidak ikhlas (riya' dan sum'ah) akan menjadi penyebab azab di akhirat. Mari kita perbaiki niat kita dalam setiap ibadah.
  3. Jangan Meremehkan Dosa Kecil: Hadits ini menunjukkan bahwa iman sekecil atom pun akan dihargai oleh Allah. Sebaliknya, jangan meremehkan dosa kecil karena bisa menjadi penghalang di atas shirath.
  4. Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan kemudahan melewati shirath dan diberikan syafaat Nabi ﷺ. Doa adalah senjata orang mukmin.
  5. Bergembiralah dengan Rahmat Allah: Hadits ini penuh dengan kabar gembira tentang luasnya rahmat Allah. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya, selama kita masih berpegang pada tauhid.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.