Penjelasan Hadits Bukhari No. 7433 tentang Matahari berhenti di bawah Arsy

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang berlaku.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa matahari bergerak pada garis edarnya menuju tempat yang telah ditetapkan Allah, yaitu di bawah 'Arsy. Nabi ﷺ menegaskan bahwa "mustaqarr" (tempat menetap) matahari itu berada di bawah 'Arsy, bukan sekadar tempat peredarannya di angkasa. Ini termasuk perkara gaib yang wajib kita imani dan buktikan kebenarannya, tanpa menakwilkan atau menolaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Firman Allah Ta'ala:

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin [36]: 38)

Hadits:

Hadits riwayat Al-Bukhari (no. 7433) dalam Kitab Tauhid, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang firman Allah "Wa asy-syamsu tajri li mustaqarrin laha": "Mustaqarruha tahta al-'Arsy" ("Tempat menetapnya adalah di bawah 'Arsy").

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan sifat khabariyah (berita gaib) yang wajib diimani tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa matahari terus berjalan hingga berhenti di bawah 'Arsy, lalu bersujud dan meminta izin untuk terbit kembali.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan menjadi tempat kembali segala urusan.
  • Syaikh as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa perjalanan matahari adalah bukti kekuasaan Allah dan ketetapan takdir-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam bab Tauhid, khususnya penetapan sifat-sifat Allah dan berita gaib yang hanya diketahui melalui wahyu. Abu Dzarr bertanya langsung kepada Nabi ﷺ tentang makna ayat "Wa asy-syamsu tajri li mustaqarrin laha". Pertanyaan ini menunjukkan semangat para sahabat untuk memahami Al-Qur'an secara mendalam.

Nabi ﷺ menjawab dengan jelas: "Mustaqarruha tahta al-'Arsy" — tempat menetapnya di bawah 'Arsy. Ini adalah penjelasan langsung dari Nabi ﷺ, sehingga tidak perlu ditakwilkan atau diragukan.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan 'Arsy sebagai makhluk Allah yang paling tinggi, dan matahari memiliki tempat kembali yang telah ditetapkan. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama Ahlus Sunnah menerima berita ini apa adanya tanpa menolak atau mengubah maknanya.
  2. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Abdullah bin 'Abbas dan lainnya bahwa matahari berjalan hingga sampai di bawah 'Arsy, lalu bersujud dan meminta izin untuk terbit kembali, lalu diizinkan. Ini menunjukkan bahwa matahari tunduk kepada perintah Allah.
  3. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi, dan segala sesuatu berada di bawahnya. Beliau juga menegaskan bahwa berita tentang matahari ini adalah bagian dari iman kepada yang gaib.
  4. Syaikh as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa matahari berjalan pada garis edarnya menuju tempat yang telah ditetapkan, dan itu adalah bukti kekuasaan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama menafsirkan "mustaqarr" sebagai tempat peredaran matahari di angkasa, namun hadits ini secara tegas menyebutkan bahwa mustaqarr-nya adalah di bawah 'Arsy. Maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang berpegang pada zhahir hadits, yaitu bahwa matahari memiliki tempat menetap di bawah 'Arsy, dan ini termasuk perkara gaib yang wajib diimani.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat mencintai ilmu dan berani bertanya langsung kepada Nabi ﷺ. Suatu hari, ia bertanya tentang ayat "Wa asy-syamsu tajri li mustaqarrin laha". Nabi ﷺ tidak menegurnya, tetapi menjawab dengan jawaban yang jelas dan tegas: "Mustaqarruha tahta al-'Arsy."

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga bersabda bahwa matahari tidak pernah berhenti berjalan hingga sampai di bawah 'Arsy, lalu ia bersujud dan meminta izin untuk terbit kembali. Ini menunjukkan bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada perintah Allah, dan matahari pun memiliki tempat kembali yang telah ditetapkan.

Hikmah: Seorang mukmin hendaknya menerima berita gaib dari Nabi ﷺ dengan penuh keimanan, tanpa menolak atau menakwilkan tanpa dalil. Sebagaimana Abu Dzarr bertanya dengan adab dan mendapatkan jawaban yang memuaskan, kita pun hendaknya bertanya kepada ahlinya dan menerima kebenaran dengan lapang dada.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani berita gaib ini — bahwa matahari memiliki tempat menetap di bawah 'Arsy, dan itu adalah ketetapan Allah.
  2. Jangan menakwilkan berita gaib tanpa dalil yang jelas, karena ini termasuk bab tauhid dan iman kepada yang gaib.
  3. Renungkan kekuasaan Allah — matahari yang begitu besar dan panas pun tunduk kepada perintah Allah, maka bagaimana dengan kita sebagai hamba yang lemah?
  4. Bertanyalah kepada ahlinya — sebagaimana Abu Dzarr bertanya kepada Nabi ﷺ, kita pun hendaknya bertanya kepada ulama yang terpercaya tentang perkara agama.
  5. Jauhi perdebatan tanpa ilmu — cukup imani dan amalkan, karena ini termasuk perkara yang hanya Allah yang Maha Mengetahui hakikatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?