Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan sedekah yang berasal dari harta yang halal dan baik, meskipun jumlahnya sangat kecil seperti sebiji kurma. Allah Ta'ala menerima sedekah tersebut dengan penerimaan yang istimewa, kemudian melipatgandakan pahalanya hingga menjadi sebesar gunung. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi kaum muslimin yang bersedekah dari rezeki yang halal, dan sekaligus peringatan agar kita menjauhi harta haram karena Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala, no. 7430, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Terkait dengan hadits ini, Allah Ta'ala berfirman:
QS. Fathir [35]: 10
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
"Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya."
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Para ulama menjelaskan bahwa makna "tangan kanan Allah" dalam hadits ini adalah sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kita menanyakan bagaimana caranya (tanpa takyif) dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tanpa tamtsil). Ini sebagaimana dipahami oleh ulama Ahlus Sunnah dalam masalah nama dan sifat Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan Sedekah dari Harta Halal
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bersedekah dengan seukuran biji kurma dari penghasilan yang baik..." Kata "bi'adli tamrah" artinya seukuran atau senilai sebiji kurma. Ini menunjukkan bahwa sedekah tidak harus banyak. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesucian sumber hartanya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amal yang diterima Allah adalah amal yang dibangun di atas keikhlasan dan sesuai sunnah, serta berasal dari sumber yang halal.
2. Makna "Tidak Naik kepada Allah Kecuali yang Baik"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa amal-amal baik akan naik kepada Allah dan Allah menerimanya. Adapun amal yang buruk atau harta yang haram, maka ia tidak akan diterima dan tidak akan naik kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Suci dan hanya menerima yang baik-baik saja. Karena itu, seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal agar amalnya diterima.
3. Penerimaan Allah dengan "Tangan Kanan-Nya"
Ungkapan "Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya" adalah penetapan sifat Yad (tangan) bagi Allah Ta'ala. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini sebagaimana Allah tetapkan untuk diri-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolaknya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Allah ditetapkan dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ, kita tidak melampaui Al-Qur'an dan hadits."
4. Pelipatgandaan Pahala Sedekah
Sabda Nabi ﷺ: "Kemudian Dia akan membesarkannya untuk pemiliknya seperti salah satu dari kalian membesarkan anak kuda, hingga ia menjadi sebesar gunung." Ini adalah gambaran yang sangat indah tentang bagaimana Allah melipatgandakan pahala sedekah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan pertumbuhan pahala yang terus bertambah di sisi Allah hingga menjadi sangat besar, sebagaimana anak kuda tumbuh menjadi kuda yang besar.
5. Sedekah yang Ikhlas dan Halal
Hadits ini juga mengajarkan bahwa syarat diterimanya sedekah ada dua:
- Sumber hartanya halal dan baik
- Diniatkan ikhlas karena Allah
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sedekah dari harta haram tidak akan diterima oleh Allah, bahkan pelakunya mendapat dosa karena telah mencampurkan sesuatu yang haram dalam ibadahnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah mengalami masa sulit ketika hijrah ke Madinah, bahkan sering merasakan lapar yang sangat. Namun demikian, beliau tetap bersemangat mencari ilmu dan menghafal hadits dari Rasulullah ﷺ.
Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan darinya pada hari kiamat..." (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat memperhatikan tolong-menolong dan sedekah, meskipun dalam keadaan sulit sekalipun.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para sahabat hidup dalam keadaan yang sangat sederhana, namun mereka tetap bersemangat untuk beribadah dan bersedekah. Mereka memahami bahwa yang terpenting bukanlah banyaknya harta yang disedekahkan, tetapi keikhlasan dan kesucian sumbernya.
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Bersemangatlah bersedekah meskipun hanya sedikit, karena Allah menerima sedekah sekecil biji kurma dan melipatgandakannya menjadi sebesar gunung.
- Pastikan sumber harta kita halal, karena Allah hanya menerima yang baik-baik. Harta haram tidak akan diterima sebagai sedekah.
- Ikhlaslah dalam bersedekah, jangan mengharap pujian atau balasan dari manusia, karena Allah melihat hati dan niat kita.
- Jangan meremehkan sedekah kecil, karena bisa jadi sedekah kecil yang ikhlas lebih dicintai Allah daripada sedekah besar yang disertai riya'.
- Yakinlah dengan janji Allah tentang pelipatgandaan pahala, karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.