Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa dahsyat di Hari Kiamat, ketika seluruh manusia pingsan (shā'aqa), lalu Nabi ﷺ melihat Nabi Musa عليه السلام dalam keadaan memegang salah satu tiang Arsy. Hadits ini menegaskan kemuliaan Nabi Musa, menetapkan keberadaan Arsy sebagai makhluk Allah yang nyata, dan menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah orang pertama yang dibangkitkan pada hari itu. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai penetapan sifat-sifat Allah dan Arsy sesuai yang Allah kabarkan, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar bab:
QS. Hud [11]: 7
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
"Dan Arsy-Nya berada di atas air."
QS. At-Taubah [9]: 129
فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
"Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb Arsy yang agung.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, dan jalur lain dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Imam Al-Bukhari sengaja meletakkannya dalam Kitab Tauhid untuk menegaskan penetapan Arsy sebagai bagian dari aqidah.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab penetapan Arsy dan sifat-sifat Allah yang harus diimani apa adanya.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa Arsy adalah makhluk terbesar yang Allah ciptakan, dan keberadaannya di atas air disebutkan dalam Al-Qur'an.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Arsy adalah makhluk nyata, dan para malaikat serta para nabi memiliki kedudukan khusus di sisinya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menyebutkan bahwa peristiwa pingsannya manusia di Hari Kiamat adalah tahapan setelah tiupan sangkakala.
Penjelasan Rinci
Makna "yash'aqūn" (يَصْعَقُونَ):
Kata sha'aqa dalam bahasa Arab berarti pingsan, mati, atau terkejut hebat. Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di'amah menafsirkan bahwa ini adalah keadaan ketika manusia mendengar tiupan sangkakala yang sangat dahsyat, sehingga mereka jatuh pingsan atau mati. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini terjadi pada tiupan pertama atau kedua, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]: 68:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ
"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah (pingsanlah) siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki."
Makna "ākhidhun bi qā'imatin min qawā'imi al-'Arsy":
Nabi ﷺ melihat Nabi Musa عليه السلام dalam keadaan memegang salah satu tiang Arsy. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan kemuliaan Nabi Musa di sisi Allah, dan bukan berarti Musa lebih utama dari Nabi ﷺ secara mutlak, karena Nabi ﷺ sendiri memiliki kedudukan maqām mahmūd dan syafā'ah 'uzhmā. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Musa عليه السلام termasuk di antara orang-orang yang dikecualikan dari pingsan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas ("kecuali siapa yang Allah kehendaki").
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami bahwa Musa عليه السلام tidak pingsan karena beliau telah mengalami kematian sebelumnya dan dibangkitkan lebih awal.
- Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan Musa عليه السلام termasuk yang dikecualikan dari pingsan, atau dibangkitkan sebelum manusia lainnya.
- Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa hadits ini tidak menunjukkan keutamaan mutlak Musa atas Nabi ﷺ, karena keutamaan Nabi ﷺ telah tetap dalam dalil-dalil lain, seperti hadits Isra' Mi'raj dan syafā'ah.
Yang paling kuat: Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ adalah sayyidul anbiyā' (penghulu para nabi) tetap berlaku, dan penyebutan Musa عليه السلام dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan kemuliaan beliau secara khusus, bukan untuk menafikan keutamaan Nabi ﷺ.
Penetapan Arsy:
Hadits ini juga menetapkan bahwa Arsy memiliki tiang-tiang (qawā'im), dan ini termasuk perkara gaib yang wajib diimani. Ibn Katsir dan Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa Arsy adalah makhluk nyata, bukan simbol atau kiasan, dan Allah berada di atas Arsy sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak pernah ditanya tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah seperti Arsy, turunnya Allah, dan sebagainya. Beliau menjawab: "Kami mengimani bahwa Allah berada di atas Arsy, dan kami tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan kami tidak menakwilkan sifat-sifat-Nya dengan takwil yang batil." (Disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala).
Al-Awza'i juga berkata: "Kami mengimani sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya, dan kami tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak menyerupakan." (Disebutkan oleh Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah).
Hikmahnya: Para salaf memahami ayat dan hadits sifat dengan cara itsbāt (menetapkan) tanpa tasybīh (menyerupakan) dan tanpa ta'thīl (menolak makna). Ini adalah jalan Ahlus Sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Arsy: Wajib mengimani bahwa Arsy adalah makhluk Allah yang nyata, memiliki tiang, dan Allah berada di atasnya sesuai keagungan-Nya.
- Iman kepada Hari Kiamat: Peristiwa pingsannya manusia dan dibangkitkannya mereka adalah kebenaran yang wajib diimani.
- Menghormati para nabi: Nabi Musa عليه السلام memiliki kemuliaan khusus, dan Nabi ﷺ adalah penghulu para nabi.
- Mengikuti pemahaman salaf: Dalam memahami sifat-sifat Allah, kita mengikuti jalan salaf: menetapkan tanpa menyerupakan, dan mengimani tanpa menakwilkan dengan takwil yang batil.
- Persiapan untuk Hari Kiamat: Hendaknya kita memperbanyak amal saleh dan memohon syafaat Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnahnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.