Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7426 tentang Bab: وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dzikir yang dibaca Rasulullah ﷺ ketika menghadapi kesulitan atau kesusahan. Inti dzikir ini adalah mengesakan Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang agung: Maha Mengetahui, Maha Penyantun, Tuhan pemilik 'Arsy yang agung dan mulia, serta Tuhan seluruh langit dan bumi. Dengan meresapi makna dzikir ini, hati seorang mukmin menjadi tenang karena meyakini bahwa hanya Allah yang berkuasa mengatasi segala kesulitan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab: "Dan adalah 'Arsy-Nya di atas air, dan Dia adalah Tuhan 'Arsy yang Agung" (no. 7426). Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: “Nabi ﷺ biasa mengucapkan di saat kesulitan:

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

<p>لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَٰوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ</p>

Terjemahan:

“Tidak ada ilah selain Allah, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tidak ada ilah selain Allah, Tuhan 'Arsy yang Agung. Tidak ada ilah selain Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan 'Arsy yang Mulia.”

Keterangan Rujukan Ulama:

  • Hadits ini diriwayatkan dari jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in ternama, termasuk dalam daftar ulama yang disebut) dari Abu Al-'Aliyah dari Ibnu Abbas. Qatadah dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits yang sangat luas ilmunya.
  • Imam al-Bukhari memasukkannya dalam kitab tauhid untuk menunjukkan keagungan Allah dan tauhid rububiyyah serta uluhiyyah.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (salah seorang ulama dalam daftar) dalam Fathul Bari (13/485-486) menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung penetapan tauhid, pengakuan terhadap sifat ilmu Allah, sifat hilm (keterkendalian kemarahan/kesabaran), serta keagungan 'Arsy sebagai makhluk terbesar yang menjadi singgasana kekuasaan-Nya.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam hadits, maknanya sangat relevan dengan firman Allah:

  • QS. Thaha [20]: 114

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا

"Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan wahyunya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'" (menunjukkan sifat ilmu Allah)

  • QS. Al-A'raf [7]: 199

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (sifat hilm/sabar dianjurkan, dan Allah Maha Penyantun)

  • QS. Al-Baqarah [2]: 255 (Ayat Kursi)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). ... Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (sifat keagungan dan penguasaan langit-bumi)

Penjelasan Rinci

Makna Umum Hadits:

Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk berdzikir dengan kalimat tauhid yang diiringi penyebutan sifat-sifat Allah yang agung ketika ditimpa kesusahan. Dzikir ini menenangkan hati karena mengingatkan bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Dia memiliki sifat ilmu yang sempurna (al-‘Alim), kelembutan dan kesabaran (al-Halim), serta kekuasaan mutlak sebagai Rabb (Pemilik, Penguasa, Pengatur) atas 'Arsy, langit, dan bumi.

Penjelasan Ulama dalam Daftar:

  1. Qatadah as-Sadusi (tabi'in, dalam sanad hadits) menafsirkan bahwa "al-Halim" berarti Dia tidak segera menyiksa orang yang bermaksiat, tetapi memberi tangguh dan kesempatan bertaubat. (Lihat tafsirnya dalam Tafsir ath-Thabari melalui riwayat, namun Qatadah termasuk sumber utama penafsiran).
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Bukhari) menjelaskan:
  • Al-‘Alim: Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ketika seseorang menghadapi kesulitan, ia butuh kepada Allah yang mengetahui keadaan yang sebenarnya dan jalan keluar yang tepat.
  • Al-Halim: Maha Penyantun, tidak tergesa-gesa menghukum. Ini memberi harapan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuan dan akan memberi pertolongan dengan kelembutan.
  • Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim: 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar, dan Allah adalah Pemilik dan Pengaturnya. Ini menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah.
  • Rabbus samawati wal ardhi: Menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Penguasa seluruh alam semesta.
  • Rabbul ‘Arsyil Karim: 'Arsy disebut mulia (karim) karena ia adalah tempat yang paling agung di sisi Allah dan malaikat mengelilinginya.
  1. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-‘Ulum wa al-Hikam (syarh Arbain Nawawi) tidak secara langsung membahas hadits ini, namun beliau menekankan bahwa dzikir dengan tauhid dan nama-nama Allah yang agung merupakan sebab turunnya ketenangan dan pertolongan.
  2. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di (tafsir yang ringkas namun mendalam) seringkali menjelaskan bahwa penyebutan nama-nama Allah yang sesuai dengan konteks doa akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hadits ini, ketika dalam kesusahan, disebut sifat ilmu dan hilm agar kita memohon dengan keyakinan bahwa Allah mengetahui dan Maha Lembut.

Perbedaan Pendapat? Tidak ada pertentangan berarti di kalangan ulama dalam memahami hadits ini. Semua sepakat bahwa dzikir ini mengandung tauhid dan pengagungan terhadap Allah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa dzikir ini bukan sekadar bacaan, tetapi harus diresapi maknanya.

Story Telling

Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengucapkan dzikir ini ketika beliau berada dalam keadaan kesusahan. Suatu ketika, di tengah perjalanan atau dalam peperangan, pasti ada momen-momen sulit. Namun, dengan dzikir ini, beliau mengajarkan umatnya untuk selalu kembali kepada Allah.

Kisah lain: Diriwayatkan bahwa para ulama salaf seperti Al-Hasan al-Bashri (salah satu ulama tabi'in dalam daftar) sangat sering berdzikir dan berdoa dengan nama-nama Allah ketika menghadapi kesulitan. Beliau pernah berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin jika ditimpa musibah, ia mengingat Allah, maka Allah pun mengingatnya dengan rahmat.”

Hikmah: Dzikir ini mengajarkan agar kita tidak larut dalam kesedihan atau keputusasaan, tetapi mengangkat hati kepada Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Penyantun, yang kuasa mengubah kesulitan menjadi kemudahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir ini saat kesulitan: Bacalah dengan penuh keyakinan dan resapi maknanya. Lafalkan dengan tartil dan tadabbur.
  2. Pahami sifat Allah yang disebut: Al-‘Alim (Maha Mengetahui) mengingatkan bahwa Allah tahu persis kesulitan kita. Al-Halim (Maha Penyantun) memberi harapan bahwa Allah tidak akan menyiksa kita dengan kesulitan yang tidak tertahankan, dan akan memberi jalan keluar dengan lembut.
  3. Tanamkan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah: Yakinlah bahwa hanya Allah Tuhan langit, bumi, dan ‘Arsy. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesulitan hanya bisa dihilangkan oleh-Nya.
  4. Jadikan dzikir ini sebagai kebiasaan: Bukan hanya saat sulit, tetapi juga di waktu lapang sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.