Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang proses pengumpulan (kodifikasi) Al-Qur'an pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, setelah Perang Yamamah. Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu ditugaskan untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur'an yang tersebar, dan beliau menemukan akhir Surat At-Taubah (ayat 128-129) hanya pada satu orang sahabat, yaitu Abu Khuzaimah Al-Anshari. Ini menunjukkan kehati-hatian luar biasa para sahabat dalam menjaga kemurnian Al-Qur'an, dan menjadi bukti bahwa Al-Qur'an yang kita baca hari ini adalah persis sama dengan yang dikumpulkan saat itu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab: "Dan adalah 'Arsy-Nya di atas air, dan Dialah Rabb 'Arsy yang agung" (no. 7425). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di tempat lain (no. 4986) dan oleh Imam At-Tirmidzi.
Terkait dengan pengumpulan Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya."
(QS. Al-Hijr [15]: 9)
Ayat ini menunjukkan janji Allah untuk menjaga Al-Qur'an, dan salah satu wujud penjagaan-Nya adalah melalui usaha para sahabat yang tulus untuk mengumpulkannya dalam satu mushaf.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah bagian dari kisah panjang pengumpulan Al-Qur'an yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:
- Latar Belakang Pengumpulan Al-Qur'an: Setelah Perang Yamamah yang menelan banyak korban dari kalangan para penghafal Al-Qur'an, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu untuk mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mushaf. Awalnya Abu Bakar ragu karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, namun akhirnya beliau menyetujui karena kemaslahatan yang jelas. Ini menunjukkan kebijaksanaan para sahabat dalam menjaga agama.
- Peran Zaid bin Tsabit: Zaid bin Tsabit adalah seorang penulis wahyu di masa Nabi ﷺ. Beliau ditunjuk untuk tugas besar ini karena kecerdasannya, hafalannya yang kuat, dan pengalamannya langsung menerima wahyu. Beliau sangat berhati-hati dan tidak mau menerima satu ayat pun kecuali dengan dua syarat: (1) dihafal dengan sempurna, dan (2) ada bukti tertulis yang disaksikan oleh dua orang saksi yang adil.
- Kehati-hatian dalam Menerima Ayat: Dalam riwayat ini, Zaid bin Tsabit mencari akhir Surat At-Taubah (ayat 128-129) dan tidak menemukannya kecuali pada Abu Khuzaimah Al-Anshari. Ini bukan berarti ayat itu tidak dihafal oleh Zaid, tetapi ini adalah prosedur ketat yang beliau tetapkan untuk memastikan setiap ayat yang ditulis memiliki bukti tertulis yang kuat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak pernah main-main dalam urusan agama.
- Hikmah di Balik Penulisan: Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya ilmu dan kehati-hatian. Para ulama, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari, menjelaskan bahwa pengumpulan ini adalah bentuk nyata dari penjagaan Allah terhadap Al-Qur'an. Beliau juga menyebutkan bahwa Abu Khuzaimah Al-Anshari memiliki keistimewaan karena Rasulullah ﷺ menjadikan kesaksiannya setara dengan dua orang saksi (dalam kasus mencari hewan yang hilang), sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat 128-129 Surat At-Taubah adalah ayat yang sangat agung, berisi pujian Allah kepada Nabi-Nya ﷺ dan perintah untuk bertawakal kepada-Nya. Ayat ini adalah penutup surat yang agung, dan penjagaannya hingga ke masa kodifikasi menunjukkan kesempurnaan wahyu.
Story Telling
Kisah ini adalah salah satu kisah terpenting dalam sejarah Islam. Bayangkanlah kegigihan Zaid bin Tsabit yang berkeliling Madinah untuk mencari tulisan-tulisan Al-Qur'an yang tersebar di pelepah kurma, batu, kulit, dan tulang. Beliau tidak merasa cukup dengan hafalannya sendiri, tetapi ingin memastikan dengan bukti tertulis dari para sahabat lain.
Ketika beliau sampai pada akhir Surat At-Taubah, beliau tidak menemukannya kecuali pada Abu Khuzaimah Al-Anshari. Maka beliau pun menuliskannya. Ini bukanlah tanda bahwa Zaid tidak hafal, tetapi ini adalah bentuk kehati-hatian yang luar biasa. Beliau tidak ingin ada satu huruf pun yang tertulis tanpa dasar yang kuat. Dari sini, kita belajar bahwa menjaga agama memerlukan kesungguhan, ketelitian, dan tidak mudah merasa cukup dengan apa yang kita miliki.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah akan keaslian Al-Qur'an: Kisah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an yang kita baca hari ini adalah persis sama dengan yang dikumpulkan para sahabat, dan Allah menjaganya dari segala bentuk perubahan.
- Teladani kehati-hatian dalam ilmu: Dalam belajar dan mengajarkan ilmu, kita harus berhati-hati dan tidak mudah menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang jelas, sebagaimana Zaid bin Tsabit berhati-hati dalam menuliskan wahyu.
- Hargai jasa para sahabat: Kita harus bersyukur atas usaha para sahabat yang telah menjaga Kitabullah, dan memperbanyak membacanya serta merenungkan maknanya.
- Amalkan isi kandungannya: Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.