Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah ﷻ. Sejak awal penciptaan, Allah telah menetapkan dan menuliskan di sisi-Nya di atas 'Arsy bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Ini adalah kabar gembira bagi seluruh hamba, bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemarahan-Nya, dan pintu taubat serta ampunan selalu terbuka bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي"
Makna: "Sesungguhnya Allah, ketika telah menyelesaikan penciptaan, menulis di sisi-Nya di atas 'Arsy-Nya: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.'" (HR. Al-Bukhari, Kitab At-Tauhid, Bab: وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ, no. 7422)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz: "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku" (HR. Muslim, no. 2751).
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 156
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:
1. Makna "Ketika Allah menyelesaikan penciptaan"
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi serta seluruh makhluk dalam enam hari, kemudian Allah menetapkan ketentuan ini. Penulisan ini terjadi setelah penciptaan, sebagai bentuk penetapan hukum dan ketetapan yang agung.
2. Makna "Menulis di sisi-Nya di atas 'Arsy"
Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling agung dan paling tinggi. Penulisan ini menunjukkan keagungan perkara tersebut, bahwa rahmat Allah adalah sifat yang mendominasi dan meliputi segala sesuatu. Ini juga menetapkan sifat 'Uluww (ketinggian) Allah di atas 'Arsy-Nya, sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
3. Makna "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku"
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa rahmat Allah lebih dahulu dan lebih dominan daripada murka-Nya. Ini bukan berarti Allah tidak murka, tetapi rahmat-Nya lebih luas dan lebih besar. Murka Allah hanya ditimpakan kepada orang-orang yang benar-benar layak menerimanya, sedangkan rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk di dunia, dan di akhirat khusus bagi orang-orang bertakwa.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya dalam beberapa hal:
- Rahmat Allah ada sejak azali, dan murka-Nya terjadi karena sebab perbuatan hamba
- Rahmat Allah lebih luas cakupannya daripada murka-Nya
- Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai rahmat sebelum datangnya azab
4. Pelajaran tentang sifat rahmat Allah
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid, bab tentang 'Arsy, untuk menetapkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat yang hakiki dan bahwa Allah berada di atas 'Arsy-Nya. Ini adalah penetapan sifat-sifat Allah tanpa ta'thil (menolak), tamtsil (menyerupakan), dan takyif (bertanya bagaimana).
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis di dalam kitab-Nya yang berada di sisi-Nya di atas 'Arsy: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang wanita yang kehilangan anaknya di tengah peperangan. Ketika ia menemukan anaknya, ia memeluknya dengan sangat erat dan menyusuinya. Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Mereka menjawab: "Tidak, demi Allah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya." (HR. Al-Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 2754)
Kisah ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah — betapa pun besarnya dosa, rahmat Allah lebih besar.
- Perbanyak istighfar dan taubat — karena Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
- Berbaik sangka kepada Allah — yakinlah bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya.
- Tetapkan sifat rahmat bagi Allah — tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana caranya.
- Dakwahkan kasih sayang Allah — agar manusia tidak lari dari Allah karena takut yang berlebihan, tetapi mendekat kepada-Nya karena cinta dan harap.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.