Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7419 tentang Kekuasaan dan kemurahan Allah yang tidak pernah berkurang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits tentang sifat Allah ﷻ yang agung, yaitu sifat Tangan dan sifat di atasnya Arsy. Hadits ini mengajarkan kita tentang kekuasaan dan kekayaan Allah yang tidak pernah habis, serta menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah). Kita wajib mengimani hadits ini sebagaimana adanya, tanpa menakwilkan (mengubah makna) dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ" (Dan Arsy-Nya berada di atas air, dan Dialah Rabb Arsy yang agung), no. 7419, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air." (QS. Hud [11]: 7)

Allah ﷻ juga berfirman tentang sifat Tangan-Nya:

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan kedua Tangan-Ku?" (QS. Shad [38]: 75)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Bukhari, Ibnu Khuzaimah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullah, menjadikan hadits ini sebagai dalil penetapan sifat Tangan bagi Allah ﷻ dan penetapan bahwa Arsy berada di atas air, sesuai dengan keagungan Allah tanpa menanyakan bagaimana caranya.

Penjelasan Rinci

Hadits yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Penetapan Sifat Tangan bagi Allah ﷻ

Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Tangan Kanan Allah penuh..." Ini adalah penetapan sifat Tangan bagi Allah ﷻ. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya menetapkannya, tanpa menakwilkan maknanya menjadi "kekuasaan" atau "nikmat", dan tanpa menyerupakannya dengan tangan makhluk.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Allah menetapkan sifat-sifat-Nya dalam kitab-Nya dan di atas lisan Rasul-Nya. Maka kami menetapkannya sebagaimana Dia menetapkannya, dan kami tidak menanyakan 'bagaimana' (kaifiyah)-nya." Beliau juga berkata: "Tangan adalah sifat Allah, tidak boleh dikatakan 'tangan itu adalah kekuasaan'."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu' al-Fatawa bahwa menetapkan sifat Tangan bagi Allah adalah wajib, karena Allah menyebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Dan kita tidak boleh menakwilkannya, karena menakwilkan sifat-sifat Allah adalah perbuatan yang menyelisihi pemahaman para sahabat dan tabi'in.

2. Makna "Tangan Kanan Allah Penuh"

Maknanya adalah kekayaan dan kemurahan Allah ﷻ tidak pernah habis. Pengeluaran yang terus-menerus siang dan malam tidak mengurangi apa pun dari kekayaan-Nya. Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan kekayaan Allah.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah penetapan sifat Tangan bagi Allah dengan makna yang layak bagi-Nya, dan bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Pemurah, tidak berkurang kekayaan-Nya karena infak dan pemberian-Nya.

3. Arsy Allah di Atas Air

Sabda Nabi ﷺ, "Dan Arsy-Nya di atas air" menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki Arsy yang agung yang berada di atas air, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Hud [11]: 7.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ" untuk menegaskan bahwa Arsy Allah benar-benar ada dan berada di atas air, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Ini adalah bantahan terhadap mereka yang mengingkari keberadaan Arsy atau menakwilkannya.

4. Penetapan Tangan yang Lain dan Sifat Mengangkat dan Menurunkan

Sabda Nabi ﷺ, "Dan di Tangan-Nya yang lain adalah karunia atau kekuasaan untuk menghidupkan dan mematikan, dan Dia mengangkat sebagian orang dan menurunkan yang lainnya" menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki dua Tangan, dan bahwa Allah mengangkat derajat sebagian hamba dan merendahkan yang lain sesuai kehendak-Nya.

Imam Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid menyebutkan hadits ini sebagai dalil penetapan dua Tangan bagi Allah ﷻ, dan beliau mengingkari orang-orang yang menakwilkan sifat Tangan ini.

5. Sikap Kita Terhadap Hadits Sifat

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa kita wajib mengimani hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa:

  • Tahrif (mengubah lafaz atau makna)
  • Ta'thil (meniadakan sifat)
  • Takyif (menanyakan bagaimana caranya)
  • Tamtsil (menyerupakan dengan makhluk)

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah dengan maksud yang Allah kehendaki, dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah dengan maksud yang Rasulullah kehendaki."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang hadits-hadits sifat, seperti firman Allah "الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى" (Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy). Beliau menjawab: "Kami mengimaninya dan membenarkannya, dan kami tidak menanyakan 'bagaimana'. Kami tidak menakwilkannya dengan takwil yang menyelisihi makna lahirnya. Kami tidak menolaknya dan tidak menyerupakannya. Barangsiapa menetapkan apa yang Allah tetapkan dan Rasul-Nya tetapkan, maka dia telah menempuh jalan petunjuk."

Ini adalah sikap para ulama salaf yang mulia. Mereka tidak memperbanyak bertanya tentang "bagaimana" sifat-sifat Allah, karena hal itu bukan termasuk kewajiban dan bukan pula jalan keselamatan. Yang wajib adalah mengimani dan menetapkan sifat-sifat tersebut sebagaimana Allah tetapkan, dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini secara utuh tanpa mengurangi atau menakwilkan maknanya.
  2. Tetapkan sifat Tangan bagi Allah sebagaimana Allah dan Rasul-Nya menetapkannya, tanpa menanyakan "bagaimana" dan tanpa menyerupakan dengan tangan makhluk.
  3. Yakini bahwa Arsy Allah benar-benar ada dan berada di atas air, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits.
  4. Renungkan kebesaran dan kekayaan Allah yang tidak pernah habis, sehingga kita semakin bersyukur dan bertawakal kepada-Nya.
  5. Jangan memperdebatkan kaifiyah (cara) sifat-sifat Allah, karena itu bukan termasuk jalan para salaf dan hanya akan menimbulkan kesesatan.
  6. Rujuklah kepada ulama Ahlus Sunnah yang memahami masalah ini dengan benar, seperti yang telah kami sebutkan di atas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.