Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kesempurnaan Allah ﷻ dan kebalikannya pada Dajjal. Intinya, Allah tidak memiliki kekurangan sedikit pun, tidak seperti makhluk-Nya. Dajjal, sebagai makhluk yang paling besar fitnahnya, memiliki tanda fisik yang jelas, yaitu buta sebelah mata kanannya, agar kaum muslimin tidak tertipu oleh pengakuannya sebagai Tuhan. Hadits ini juga menegaskan bahwa kita wajib menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah dalil utama dalam menetapkan sifat "Mata" bagi Allah ﷻ, namun dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyyah) dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
- QS. Asy-Syura [42]: 11
- Teks Arab:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
- Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
- QS. Thaha [20]: 39
- Teks Arab:
وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي
- Terjemahan: "Dan agar engkau diasuh dan dipelihara di bawah pengawasan-Ku."
Hadits Terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: Wa li tusna'a 'ala 'aini" (QS. Thaha: 39), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Khuzaymah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitab mereka, menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil penetapan sifat al-'Ain (Mata) bagi Allah ﷻ. Mereka menetapkan sifat ini tanpa ta'thil (menolak), tamtsil (menyerupakan), dan takyif (menanyakan bagaimana).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Menetapkan Sifat "Mata" bagi Allah ﷻ: Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah "tidak buta sebelah" (لَيْسَ بِأَعْوَرَ). Ini adalah bentuk penetapan bahwa Allah memiliki mata, karena sesuatu yang tidak memiliki mata tidak akan disebut "tidak buta sebelah". Namun, mata Allah ﷻ tidak sama dengan mata makhluk. Imam Ibnu Khuzaymah dalam Kitab At-Tauhid menegaskan bahwa Allah memiliki mata, dan kita menetapkannya tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.
- Bantahan Terhadap Kaum Mu'attilah: Hadits ini adalah bantahan tegas bagi kelompok yang menolak sifat-sifat Allah, seperti Jahmiyyah dan Mu'tazilah. Mereka menafsirkan sifat mata Allah dengan makna "penglihatan" saja, atau bahkan menolaknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa metode Salaf adalah menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa menolak dan tanpa menyerupakan.
- Tanda Kekuasaan dan Kebenaran Nabi ﷺ: Hadits ini juga menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ. Beliau mengabarkan tentang tanda-tanda Dajjal yang spesifik, seperti buta mata kanan dan matanya seperti anggur yang menonjol. Ini adalah berita ghaib yang tidak mungkin diketahui kecuali dari wahyu Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa kabar tentang tanda-tanda Dajjal ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ.
- Perbedaan Antara Allah dan Dajjal: Hadits ini dengan jelas membedakan antara Allah ﷻ yang Maha Sempurna dan Dajjal yang penuh kekurangan. Dajjal buta sebelah, sedangkan Allah tidak. Ini untuk mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh pengakuan Dajjal sebagai Tuhan, karena Tuhan yang benar pasti Maha Sempurna, tidak memiliki cacat.
Pendekatan Salaf dalam Memahami Sifat Allah:
Para ulama dari kalangan Salaf, seperti Imam Malik bin Anas, ketika ditanya tentang istiwa' (bersemayamnya Allah), beliau menjawab, "Istiwa' itu diketahui maknanya, cara (bagaimana)nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini adalah prinsip yang sama untuk semua sifat Allah, termasuk sifat mata. Kita tetapkan maknanya, kita imani, dan kita serahkan hakikatnya kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah diuji dengan fitnah penciptaan Al-Qur'an. Beliau dipaksa untuk mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Namun, beliau tetap teguh di atas keyakinan Ahlus Sunnah bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Ketika ditanya tentang hadits-hadits sifat, seperti hadits tentang mata ini, beliau menjawab dengan tegas, "Kami menetapkannya sebagaimana datangnya, dan kami tidak menanyakan bagaimana (kaifiyyah)-nya." Ini menunjukkan keteguhan para ulama dalam menjaga aqidah yang benar, tidak menolak nash dan tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Sifat Allah: Wajib bagi kita untuk mengimani semua sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ, termasuk sifat mata, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
- Menjauhi Tahrif dan Ta'thil: Kita tidak boleh mengubah makna lafazh sifat atau menolaknya. Kita juga tidak boleh bertanya "bagaimana" bentuknya, karena itu di luar jangkauan akal kita.
- Menjaga Aqidah dari Fitnah Dajjal: Dengan memahami hadits ini, kita dibekali ilmu untuk tidak tertipu oleh Dajjal. Tanda-tandanya sudah jelas, dan yang terpenting, kita tahu bahwa Tuhan kita Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan.
- Meneladani Manhaj Salaf: Kita harus berpegang pada pemahaman para sahabat dan tabi'in dalam masalah nama dan sifat Allah, karena mereka adalah generasi terbaik yang paling memahami agama ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.