Penjelasan Hadits Bukhari No. 7403 tentang Kecemburuan Allah dan larangan perbuatan keji

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua sifat agung Allah: Al-Ghayrah (cemburu) dan Mahabbah lil-Madhi (suka dipuji). Rasa cemburu Allah adalah cemburu yang sempurna, yang mendorong-Nya mengharamkan perbuatan keji. Dan kecintaan Allah terhadap pujian adalah kecintaan yang layak bagi-Nya, karena segala pujian yang benar hanyalah milik-Nya. Ini bukan seperti cemburu atau suka dipuji makhluk yang tercela, tetapi sifat Allah yang Maha Sempurna.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan Allah memperingatkan kamu akan diri-Nya. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Ali 'Imran [3]: 28)

Ayat ini adalah dasar dari bab hadits ini dalam Shahih Al-Bukhari. Allah memperingatkan hamba-Nya dari murka dan siksa-Nya, dan ini adalah bentuk cemburu-Nya terhadap hamba yang berbuat dosa.

2. Hadits Riwayat Lain yang Menguatkan:

Dalam Shahih Muslim, dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

"Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, enggan memberi dan meminta-minta. Dan Allah membenci kalian dari: banyak bicara yang tidak berguna, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta." (HR. Muslim)

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menunjukkan bahwa sifat ghayrah dan cinta pujian adalah bagian dari tauhid, yaitu menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini berkaitan dengan firman Allah "wa yuhadzdzirukumullahu nafsah" — bahwa peringatan Allah terhadap diri-Nya adalah bentuk cemburu-Nya kepada hamba yang berbuat dosa.

Penjelasan Rinci

Makna "Ghayrah" (Cemburu) Allah:

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ghayrah Allah adalah sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya. Cemburu Allah berarti Allah tidak meridhai hamba-Nya berbuat dosa dan melanggar batas-batas-Nya. Ini berbeda dengan cemburu makhluk yang kadang tercela karena didorong hawa nafsu.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa cemburu Allah mengharuskan Dia mengharamkan segala perbuatan keji — baik yang tampak maupun tersembunyi — karena perbuatan keji adalah pelanggaran terhadap hak Allah dan hak hamba.

Makna "Cinta Pujian" Allah:

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Allah mencintai pujian karena pujian itu adalah pengakuan atas kesempurnaan-Nya. Allah memuji diri-Nya dalam Al-Qur'an, dan Allah menyukai hamba-Nya yang memuji-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang indah.

Namun perlu dipahami: cinta pujian Allah bukan seperti manusia yang suka dipuji karena sombong atau riya'. Allah Maha Suci dari itu. Cinta pujian Allah adalah karena pujian itu benar dan layak bagi-Nya, dan Dia mencintai hamba yang mengakui kebenaran itu.

Bagaimana Ulama Menerapkan:

  • Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah memiliki sifat ghayrah yang hakiki, tanpa menanyakan "bagaimana" dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.
  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tauhid untuk menetapkan sifat-sifat Allah dan menolak mereka yang menolak sifat-sifat Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib — salah seorang ulama tabi'in yang paling utama — pernah ditanya tentang sifat ghayrah Allah. Beliau menjawab dengan tenang: "Allah memiliki sifat yang layak bagi-Nya. Kita tidak boleh menyerupakan-Nya dengan makhluk. Cemburu Allah adalah keagungan-Nya, dan keharaman perbuatan keji adalah bukti cemburu-Nya."

Kemudian beliau mengingatkan: "Jika seorang suami cemburu terhadap istrinya, maka Allah lebih berhak dengan cemburu-Nya yang sempurna. Karena itu, jauhilah perbuatan zina dan segala yang mendekatinya."

Hikmah dari kisah ini: sifat ghayrah Allah adalah motivasi bagi kita untuk menjaga diri dari dosa, bukan untuk berputus asa dari rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi perbuatan keji — zina, dan segala yang mendekatinya — karena itu adalah bentuk penghormatan kita kepada cemburu Allah.
  2. Perbanyak memuji Allah — dengan membaca hamdalah, bertahmid, dan berdzikir — karena Allah mencintai pujian yang benar kepada-Nya.
  3. Jangan menyerupakan sifat Allah dengan makhluk — tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (bertanya bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).
  4. Jadikan cemburu Allah sebagai pengingat — ketika kita ingin berbuat dosa, ingatlah bahwa Allah melihat dan tidak meridhai perbuatan itu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?