Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits Shahih Bukhari no. 74 ini mengisahkan kerendahan hati Nabi Musa ‘alaihissalam yang mau mencari ilmu kepada Khidir meskipun beliau seorang nabi utama. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan ilmu, selalu bersemangat menuntut ilmu, dan bersabar dalam proses belajar. Juga menunjukkan bahwa ilmu Allah sangat luas dan tidak ada seorang pun yang memiliki seluruh ilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits:
HR. Al-Bukhari no. 74, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2380 dengan jalur lain.
Ayat Al-Qur’an:
Kisah ini disebutkan dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Ayat yang terkait dengan awal pencarian:
﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا﴾
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun'.” (QS. Al-Kahfi [18]: 60)
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (1/206) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang alim mengakui adanya orang yang lebih alim darinya sebagai bentuk tawadhu’.
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5/187) menjelaskan panjang lebar tentang perjalanan Musa dan Khidir, serta mengambil pelajaran tentang ilmu laduni dan adab berguru.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/146) juga membahas adab-adab dalam kisah ini, terutama tentang keutamaan mencari ilmu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diawali dengan perselisihan antara Ibnu Abbas dan Hur bin Qais tentang siapakah teman Musa yang dicarinya. Kemudian Ubay bin Ka’b menceritakan hadits dari Nabi ﷺ bahwa ketika Musa duduk bersama Bani Israil, seorang lelaki bertanya apakah ada yang lebih berilmu darinya. Musa menjawab “tidak” karena saat itu ia tidak mengetahui adanya orang yang lebih alim. Namun Allah mewahyukan bahwa ada hamba-Nya yaitu Khidir yang lebih berilmu dalam beberapa perkara ghaib.
Pelajaran pertama: tawadhu’ dalam ilmu.
Nabi Musa, seorang nabi ulul ‘azmi, tidak segan mencari ilmu kepada orang lain. Ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu tidak memandang status. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad (no. 21299) berkata: “Musa adalah nabi yang mulia, namun ia tetap bersedia belajar dari Khidir. Maka siapa pun yang merasa memiliki ilmu, jangan sombong.”
Kedua: kesabaran dalam perjalanan.
Musa dan pembantunya (Yusya’ bin Nun) berjalan jauh dengan tanda ikan yang hidup kembali. Ketika sampai di batu, mereka kehilangan ikan. Di sinilah mereka berjumpa Khidir. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (hal. 235) menyebutkan bahwa kesabaran Musa dalam mencari ilmu adalah teladan bagi para penuntut ilmu.
Ketiga: ilmu laduni dan hikmah di balik peristiwa.
Khidir melakukan hal-hal yang tampak kontroversial: melubangi perahu, membunuh anak, dan menegakkan tembok. Setelah dijelaskan, ternyata di balik itu ada rahasia takdir Allah yang tidak diketahui Musa. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa’adah (1/199) menekankan bahwa ilmu tidak hanya dhahir tetapi juga batin yang terkait dengan hikmah syariat. Tugas seorang mukmin adalah menerima ketetapan Allah walaupun tidak memahami hikmahnya saat itu.
Keempat: adab bertanya.
Musa tidak langsung membantah perbuatan Khidir, tetapi bertanya dengan sopan: “Bolehkah aku mengikutimu?” (QS. Al-Kahfi: 66). Ini menunjukkan adab seorang murid kepada gurunya. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (1/207) mencatat bahwa Musa bertanya dengan izin, bukan dengan paksaan.
Story Telling
Diriwayatkan dalam hadits shahih (HR. Bukhari no