Penjelasan Hadits Bukhari No. 7386 tentang Allah Maha Mendengar dan dekat, dzikir tanpa mengeraskan suara

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal yang sangat agung: pertama, ketika berdoa atau berdzikir, kita tidak perlu bersuara keras karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat serta Maha Dekat; kedua, kalimat "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah) adalah salah satu simpanan harta di surga yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Hadits ini juga mengajarkan adab dalam berdzikir, yaitu merendahkan suara dan menghadirkan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: Wa kānallāhu samī'an bashīrā" (HR. Al-Bukhari no. 7386), dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Dalil dari Al-Qur'an yang sangat relevan dengan kandungan hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Baqarah [2]: 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Juga firman-Nya:

QS. Al-Mujadilah [58]: 7

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tauhid yang sangat dalam, yaitu penetapan sifat As-Samī' (Maha Mendengar), Al-Bashīr (Maha Melihat), dan Al-Qarīb (Maha Dekat) bagi Allah Ta'ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam menjelaskan sifat-sifat Allah menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar semua suara, tidak ada satu pun yang luput dari pendengaran-Nya, baik yang keras maupun yang lembut, bahkan bisikan hati sekalipun. Beliau juga menegaskan bahwa Allah Maha Dekat dengan hamba-Nya, dan kedekatan ini adalah kedekatan yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan seperti kedekatan makhluk.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "Wa idzā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb" menunjukkan bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, dan Dia mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya. Kedekatan Allah ini tidak menghalangi-Nya untuk mendengar doa hamba-Nya di mana pun mereka berada.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" adalah kalimat yang agung, karena maknanya adalah pengakuan bahwa tidak ada daya untuk menghindari keburukan dan tidak ada kekuatan untuk melakukan kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat ini adalah salah satu simpanan pahala di surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Arbi'ū 'alā anfusikum" (jangan menyusahkan diri kalian) adalah peringatan agar tidak berlebihan dalam mengeraskan suara ketika berdzikir, karena Allah tidak butuh pada suara keras. Yang penting adalah kehadiran hati dan kekhusyukan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdzikir dengan suara yang tidak terlalu keras, dan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kalimat "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" kepada Abu Musa secara khusus karena beliau mendengar Abu Musa mengucapkannya dalam hati, lalu Nabi ﷺ menguatkan dan mengabarkan keutamaannya.

Adapun makna "kanzun min kunūzil jannah" (simpanan harta dari surga), para ulama menjelaskan bahwa ini adalah pahala yang besar yang disimpan Allah bagi hamba-Nya di akhirat kelak, sebagaimana harta simpanan yang dijaga dengan baik. Kalimat ini juga mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah semata.

Story Telling

Dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika mereka bersama Nabi ﷺ dalam sebuah perjalanan. Ketika mereka menaiki tempat yang tinggi, mereka mengeraskan suara dengan takbir, "Allahu Akbar, Allahu Akbar." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak memanggil orang yang tuli atau yang tidak ada. Kalian memanggil Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Dekat."

Kemudian Nabi ﷺ mendatangi Abu Musa yang sedang mengucapkan dalam hatinya, "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh." Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, karena sesungguhnya kalimat itu adalah salah satu simpanan harta dari surga."

Kisah ini menunjukkan betapa lembutnya Nabi ﷺ dalam membimbing para sahabatnya. Beliau tidak hanya melarang perbuatan yang kurang tepat, tetapi juga menggantinya dengan ajaran yang lebih baik. Beliau juga memperhatikan kondisi setiap sahabat, bahkan yang berdzikir dalam hati sekalipun, lalu membenarkan dan menguatkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Rendahkan suara dalam berdzikir dan berdoa — karena Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat, tidak perlu berteriak atau mengeraskan suara secara berlebihan.
  2. Perbanyak mengucapkan "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" — karena kalimat ini adalah simpanan harta di surga dan mengandung makna penyerahan diri total kepada Allah.
  3. Hadirkan hati dalam setiap dzikir — karena yang terpenting bukan suara yang keras, melainkan kekhusyukan dan kesadaran bahwa kita sedang berbicara dengan Allah.
  4. Yakini sifat-sifat Allah — bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Dekat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?