Penjelasan Hadits Bukhari No. 7383 tentang Permohonan perlindungan dengan keagungan Allah yang Maha Hidup

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah doa perlindungan yang sangat agung yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. Intinya, kita berlindung kepada Allah dengan perantara sifat kemuliaan dan keperkasaan-Nya (Al-'Izzah), yang disertai pengakuan bahwa hanya Allah yang kekal abadi, tidak akan mati, sementara seluruh makhluk-Nya, termasuk jin dan manusia, pasti akan mati. Doa ini mengandung pengagungan terhadap Allah dan pengakuan akan kelemahan diri kita sebagai makhluk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala Wa Huwal 'Azizul Hakim", no. 7383, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ: " أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ "

Terjemahan: "Aku berlindung (kepada-Mu) dengan 'Izzat-Mu, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa doa ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah dengan menyebut sifat-Nya yang Maha Perkasa lagi Maha Hidup. Beliau juga menjelaskan bahwa kata "الَّذِي" (alladzi) dalam hadits ini adalah sifat bagi lafazh "عِزَّتِكَ" (keperkasaan-Mu), atau bisa juga merupakan sifat bagi Allah, dan keduanya benar secara makna.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini di bawah bab yang menyebutkan firman Allah "Wa Huwal 'Azizul Hakim" (Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), untuk menunjukkan bahwa sifat Al-'Izzah (Maha Perkasa) adalah salah satu sifat Allah yang agung dan menjadi landasan doa ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

  1. Makna "A'udzu bi 'Izzatika" (Aku berlindung dengan keperkasaan-Mu): Ini adalah bentuk tawassul (perantara) kepada Allah dengan salah satu sifat-Nya yang agung, yaitu Al-'Izzah. Sifat ini mencakup kekuasaan yang tidak terkalahkan, keperkasaan yang mutlak, dan kemuliaan yang tidak tertandingi. Dengan menyebut sifat ini, seorang hamba memohon perlindungan dari segala sesuatu yang dapat membahayakannya, karena tidak ada yang dapat mengalahkan Allah yang memiliki sifat ini.
  2. Makna "Alladzi la ilaha illa anta" (Yang tiada Tuhan selain Engkau): Ini adalah pengakuan tauhid yang merupakan inti dari doa. Doa ini menguatkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Muhammad [47]: 19, "Fa'lam annahu la ilaha illallah" (Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).
  3. Makna "Alladzi la yamutu wal jinnu wal insu yamutun" (Yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati): Ini adalah pengakuan akan keabadian Allah dan kefanaan seluruh makhluk. Allah adalah Al-Hayyul Qayyum (Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri) yang kekal, sementara semua makhluk-Nya akan mengalami kematian. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menyebutkan kematian jin dan manusia secara khusus di sini adalah karena mereka adalah makhluk yang paling banyak membebani diri dengan kesombongan dan keinginan untuk selama-lamanya di dunia. Dengan menyebutkan bahwa mereka akan mati, seorang hamba mengakui kelemahan mereka dan keagungan Allah yang kekal.
  4. Hikmah Doa Ini: Doa ini mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang agung. Ini menunjukkan bahwa doa tidak hanya dengan meminta langsung, tetapi juga dengan mengagungkan Allah terlebih dahulu. Ini adalah bentuk adab yang sangat tinggi dalam berdoa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat muda yang sangat cerdas dan dijuluki "Turjumanul Qur'an" (penerjemah Al-Qur'an). Beliau sering kali bertanya kepada Nabi ﷺ tentang berbagai hal, termasuk doa-doa yang beliau ucapkan. Suatu ketika, beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ doa yang agung ini. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk menangkap dan menghafal setiap ucapan Nabi ﷺ, terutama doa-doa yang beliau panjatkan, karena mereka tahu bahwa doa tersebut mengandung kebaikan yang besar. Hikmahnya, kita sebagai umatnya hendaknya bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, karena itu adalah warisan terbaik yang beliau tinggalkan.

Kesimpulan Praktis

Beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menghafal dan mengamalkan doa ini sebagai bagian dari dzikir pagi dan petang atau ketika merasa takut akan sesuatu.
  2. Mengagungkan Allah dalam setiap doa dengan menyebut nama dan sifat-sifat-Nya yang agung, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan.
  3. Menyadari kelemahan diri kita sebagai makhluk yang fana dan pasti mati, sehingga kita tidak sombong dan selalu bergantung kepada Allah yang Maha Kekal.
  4. Memperkuat tauhid dengan meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan dimintai pertolongan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?