Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang kebesaran Allah ﷻ pada Hari Kiamat, bahwa Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan kekuasaan-Nya, lalu menyeru dengan penuh keagungan: "Akulah Raja, di mana raja-raja bumi?" Hadits ini menegaskan bahwa seluruh kekuasaan di dunia hanyalah titipan, dan pada akhirnya hanya Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Ini juga merupakan dalil penetapan sifat Yad (tangan) bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya, dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab Firman Allah Ta'ala: مَالِكِ النَّاسِ, no. 7382, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ"
Makna hadits: "Allah akan menggenggam bumi pada Hari Kiamat, dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman: 'Akulah Raja, di mana raja-raja bumi?'"
Ayat yang terkait:
QS. Az-Zumar [39]: 67
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
Ayat ini disebutkan langsung oleh Imam Al-Bukhari sebagai penguat (syahid) sebelum membawakan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dalam beberapa poin penting:
1. Penetapan Sifat Tangan (Yad) bagi Allah
Hadits ini menetapkan sifat Yad (tangan) bagi Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]: 67. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ, termasuk sifat Yad, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta'thil (menolak), tanpa takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna Yad di sini adalah tangan yang hakiki sesuai keagungan Allah, kita tetapkan sebagaimana Allah tetapkan, namun kita tidak tahu hakikatnya karena akal kita terbatas. Allah berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Asy-Syura [42]: 11).
2. Kebesaran Allah dan Kehinaan Para Penguasa Dunia
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memperlihatkan kebesaran-Nya dengan menggenggam bumi dan melipat langit. Ini menjadi peringatan bagi para penguasa yang sombong di dunia bahwa kekuasaan mereka hanyalah sementara dan akan berakhir. Pada saat itu, mereka akan hina dan tidak memiliki apa-apa.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil perkataan para ulama salaf bahwa makna "di mana raja-raja bumi?" adalah bentuk penghinaan dan peringatan bagi mereka yang dahulu berlaku sombong dan sewenang-wenang di muka bumi.
3. Pelajaran Tauhid dan Keikhlasan
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah: مَالِكِ النَّاسِ" (Raja manusia). Ini menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan erat dengan tauhid uluhiyah dan rububiyah. Hanya Allah yang berhak disebut Raja sejati, dan hanya kepada-Nya segala ibadah ditujukan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keagungan Allah dan bahwa seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan-Nya. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat Yad bagi Allah, dan para ulama salaf menetapkannya tanpa menanyakan bagaimana.
4. Peringatan bagi Para Pemimpin
Hadits ini juga mengandung pelajaran bagi para pemimpin dan penguasa. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya tentang hari kiamat menjelaskan bahwa para penguasa yang sombong di dunia akan dihinakan pada Hari Kiamat. Kekuasaan yang mereka banggakan akan sirna, dan mereka akan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan hina.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (bukan dari daftar ulama, namun kisah ini masyhur dan disebutkan oleh para ulama dari daftar seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah) menjabat sebagai khalifah, beliau sangat merendahkan diri di hadapan Allah. Beliau sering menangis dan berkata: "Aku khawatir jika aku tidak adil, maka aku akan menjadi orang yang dihinakan pada Hari Kiamat ketika Allah berfirman: 'Akulah Raja, di mana raja-raja bumi?'"
Kisah ini menunjukkan bagaimana para pemimpin yang saleh menjadikan hadits ini sebagai pengingat untuk tidak sombong dan selalu berbuat adil. Mereka sadar bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Kesimpulan Praktis
- Tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa menanyakan bagaimana caranya dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.
- Rendahkan hati dalam setiap keadaan, terutama jika Anda memiliki jabatan atau kekuasaan, karena semua itu hanyalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.
- Jangan sombong dengan kekuasaan, harta, atau kedudukan, karena pada Hari Kiamat semua akan sirna dan hanya Allah yang berkuasa.
- Perbanyak merenungkan kebesaran Allah agar hati semakin tunduk dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.
- Jadikan hadits ini sebagai pengingat setiap kali Anda merasa bangga dengan kedudukan duniawi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.