Penjelasan Hadits Bukhari No. 7380 tentang Allah tidak dapat dilihat dan hanya Dia yang mengetahui yang ghaib

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua pokok aqidah yang sangat penting: (1) Nabi Muhammad ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, dan (2) Nabi ﷺ tidak mengetahui hal-hal ghaib kecuali apa yang Allah wahyukan kepadanya. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan bahwa siapa pun yang menyatakan sebaliknya telah berdusta, karena hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:

Firman Allah Ta'ala:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

(QS. Al-An'am [6]: 103)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha melalui jalur Masruq bin Al-Ajda' (seorang tabi'in besar dari Kufah), dari Asy-Sya'bi (Amir bin Syarahil, tabi'in), dari Ismail bin Abi Khalid, dari Sufyan bin 'Uyainah, dari Muhammad bin Yusuf.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab penetapan bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia, dan bahwa ilmu ghaib hanya milik Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa Ahlus Sunnah sepakat Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, dan yang terjadi adalah penglihatan dengan hati atau saat Isra' Mi'raj menurut pendapat yang kuat.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai dalil bahwa Allah tidak dapat dijangkau oleh pandangan mata manusia di dunia.

Penjelasan Rinci

Pertama: Tentang melihat Allah (ru'yatullah)

'Aisyah radhiyallahu 'anha mengoreksi keyakinan sebagian orang yang mengklaim Nabi ﷺ melihat Tuhannya di dunia. Beliau berdalil dengan QS. Al-An'am [6]: 103 yang menyatakan bahwa pandangan mata tidak dapat mencapai Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud 'Aisyah adalah penglihatan dengan mata kepala di dunia. Adapun di akhirat, kaum mukminin akan melihat Allah — ini ditetapkan dalam hadits-hadits shahih lain, seperti hadits tentang melihat Allah seperti melihat bulan purnama (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Ahlus Sunnah berpendapat:

  • Allah tidak dapat dilihat di dunia dengan mata kepala
  • Allah akan dilihat di akhirat oleh penduduk surga
  • Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya saat Isra' Mi'raj (menurut sebagian ulama), bukan dengan mata kepala

Kedua: Tentang ilmu ghaib

'Aisyah juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui hal ghaib kecuali yang diwahyukan Allah. Dalilnya adalah firman Allah:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

"Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu."

(QS. Al-Jinn [72]: 26)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ilmu ghaib adalah khusus milik Allah. Nabi ﷺ hanya mengetahui apa yang Allah beritahukan melalui wahyu. Ini tidak mengurangi kedudukan beliau, justru menetapkan tauhid yang murni.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa menisbatkan ilmu ghaib kepada selain Allah — termasuk kepada Nabi ﷺ — adalah bentuk kesyirikan dalam ilmu (syirik 'ilmi), karena ilmu ghaib adalah sifat khusus Allah.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepala saat Mi'raj berdasarkan hadits-hadits tertentu. Namun, 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan mayoritas ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Taymiyyah menguatkan bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat 'Aisyah radhiyallahu 'anha karena beliau adalah istri Nabi ﷺ yang paling mengetahui keadaan beliau, dan didukung oleh dalil Al-Qur'an yang tegas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Masruq bin Al-Ajda' (seorang tabi'in terpercaya) datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan bertanya tentang apakah Nabi ﷺ melihat Tuhannya. 'Aisyah menjawab dengan tegas: "Sungguh, rambutku berdiri (karena kaget) mendengar pertanyaanmu..." — kemudian beliau membacakan ayat:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارُ

Kemudian Masruq bertanya lagi tentang ilmu ghaib, dan 'Aisyah kembali mengoreksi dengan ayat:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

(Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Hikmah: 'Aisyah radhiyallahu 'anha menunjukkan keberanian dalam menegakkan kebenaran aqidah, dan beliau tidak segan mengoreksi keyakinan yang salah meskipun datang dari orang-orang yang mengaku beriman. Ini mengajarkan kita pentingnya merujuk kepada Al-Qur'an dan sunnah dalam masalah aqidah, bukan kepada prasangka atau klaim tanpa dalil.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia — ini adalah aqidah yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan penjelasan 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
  2. Yakini bahwa ilmu ghaib hanya milik Allah. Nabi ﷺ hanya mengetahui apa yang Allah wahyukan. Jangan percaya kepada dukun, peramal, atau siapa pun yang mengaku mengetahui hal ghaib.
  3. Berhati-hati dalam masalah aqidah — selalu rujuk kepada Al-Qur'an, hadits shahih, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Taymiyyah, dan Ibnu Katsir.
  4. Teladani keberanian 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam menegakkan kebenaran dengan ilmu dan adab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?