Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua pokok aqidah yang sangat penting: (1) Nabi Muhammad ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, dan (2) Nabi ﷺ tidak mengetahui hal-hal ghaib kecuali apa yang Allah wahyukan kepadanya. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan bahwa siapa pun yang menyatakan sebaliknya telah berdusta, karena hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:
Firman Allah Ta'ala:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-An'am [6]: 103)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha melalui jalur Masruq bin Al-Ajda' (seorang tabi'in besar dari Kufah), dari Asy-Sya'bi (Amir bin Syarahil, tabi'in), dari Ismail bin Abi Khalid, dari Sufyan bin 'Uyainah, dari Muhammad bin Yusuf.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab penetapan bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia, dan bahwa ilmu ghaib hanya milik Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa Ahlus Sunnah sepakat Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, dan yang terjadi adalah penglihatan dengan hati atau saat Isra' Mi'raj menurut pendapat yang kuat.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai dalil bahwa Allah tidak dapat dijangkau oleh pandangan mata manusia di dunia.
Penjelasan Rinci
Pertama: Tentang melihat Allah (ru'yatullah)
'Aisyah radhiyallahu 'anha mengoreksi keyakinan sebagian orang yang mengklaim Nabi ﷺ melihat Tuhannya di dunia. Beliau berdalil dengan QS. Al-An'am [6]: 103 yang menyatakan bahwa pandangan mata tidak dapat mencapai Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud 'Aisyah adalah penglihatan dengan mata kepala di dunia. Adapun di akhirat, kaum mukminin akan melihat Allah — ini ditetapkan dalam hadits-hadits shahih lain, seperti hadits tentang melihat Allah seperti melihat bulan purnama (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Ahlus Sunnah berpendapat:
- Allah tidak dapat dilihat di dunia dengan mata kepala
- Allah akan dilihat di akhirat oleh penduduk surga
- Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya saat Isra' Mi'raj (menurut sebagian ulama), bukan dengan mata kepala
Kedua: Tentang ilmu ghaib
'Aisyah juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui hal ghaib kecuali yang diwahyukan Allah. Dalilnya adalah firman Allah:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا
"Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu."
(QS. Al-Jinn [72]: 26)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ilmu ghaib adalah khusus milik Allah. Nabi ﷺ hanya mengetahui apa yang Allah beritahukan melalui wahyu. Ini tidak mengurangi kedudukan beliau, justru menetapkan tauhid yang murni.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa menisbatkan ilmu ghaib kepada selain Allah — termasuk kepada Nabi ﷺ — adalah bentuk kesyirikan dalam ilmu (syirik 'ilmi), karena ilmu ghaib adalah sifat khusus Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepala saat Mi'raj berdasarkan hadits-hadits tertentu. Namun, 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan mayoritas ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Taymiyyah menguatkan bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat 'Aisyah radhiyallahu 'anha karena beliau adalah istri Nabi ﷺ yang paling mengetahui keadaan beliau, dan didukung oleh dalil Al-Qur'an yang tegas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Masruq bin Al-Ajda' (seorang tabi'in terpercaya) datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan bertanya tentang apakah Nabi ﷺ melihat Tuhannya. 'Aisyah menjawab dengan tegas: "Sungguh, rambutku berdiri (karena kaget) mendengar pertanyaanmu..." — kemudian beliau membacakan ayat:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارُ
Kemudian Masruq bertanya lagi tentang ilmu ghaib, dan 'Aisyah kembali mengoreksi dengan ayat:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا
(Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah: 'Aisyah radhiyallahu 'anha menunjukkan keberanian dalam menegakkan kebenaran aqidah, dan beliau tidak segan mengoreksi keyakinan yang salah meskipun datang dari orang-orang yang mengaku beriman. Ini mengajarkan kita pentingnya merujuk kepada Al-Qur'an dan sunnah dalam masalah aqidah, bukan kepada prasangka atau klaim tanpa dalil.
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia — ini adalah aqidah yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan penjelasan 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
- Yakini bahwa ilmu ghaib hanya milik Allah. Nabi ﷺ hanya mengetahui apa yang Allah wahyukan. Jangan percaya kepada dukun, peramal, atau siapa pun yang mengaku mengetahui hal ghaib.
- Berhati-hati dalam masalah aqidah — selalu rujuk kepada Al-Qur'an, hadits shahih, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Taymiyyah, dan Ibnu Katsir.
- Teladani keberanian 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam menegakkan kebenaran dengan ilmu dan adab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.