Penjelasan Hadits Bukhari No. 7378 tentang Kesabaran Allah atas gangguan dan pemberian rezeki

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya sifat sabar Allah ﷻ. Meskipun manusia berbuat syirik dengan menganggap Allah memiliki anak—suatu perkataan yang sangat keji dan menyakitkan—Allah tetap tidak menyegerakan azab kepada mereka. Bahkan, dengan kasih sayang-Nya, Dia tetap memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka. Ini adalah bukti kesabaran Allah yang tiada tandingannya, sekaligus pelajaran bagi kita tentang luasnya rahmat dan kelembutan Allah kepada makhluk-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Hijr [15]: 85:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik."

Ayat ini menunjukkan bahwa karena hari pembalasan itu pasti datang, Allah menunda azab-Nya dan memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar dan memaafkan. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.

2. Hadits Terkait:

Hadits yang sedang kita bahas, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab: Perkataan Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid, di bawah bab yang menyebutkan firman Allah tentang sifat Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Al-Qawiyy (Maha Kuat). Ini menunjukkan bahwa kesabaran Allah adalah bagian dari kesempurnaan sifat-Nya yang agung.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah dan kitab-kitabnya yang lain sering menjelaskan bahwa sifat sabar bagi Allah adalah sifat yang layak bagi keagungan-Nya, bukan seperti sabar manusia yang karena kelemahan. Sabar Allah adalah penundaan hukuman dengan penuh hikmah dan kelembutan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang menjelaskan tentang sifat kesabaran Allah ﷻ. Mari kita bedah maknanya:

1. Makna "Tidak ada yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya dari Allah"

Ucapan ini adalah bentuk tafdlil (pengunggulan) yang menunjukkan bahwa kesabaran Allah adalah yang paling sempurna. Namun, perlu dipahami dengan benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa sifat sabar bagi Allah bukanlah berarti Allah menahan diri dari sesuatu yang Dia tidak mampu lakukan. Mustahil bagi Allah. Akan tetapi, maknanya adalah Allah menunda azab dan tidak menyegerakan hukuman, padahal Dia Maha Kuasa untuk melakukannya. Ini adalah bentuk kelembutan dan kasih sayang-Nya.

2. Gangguan yang dimaksud: "Mereka menganggap Dia memiliki anak"

Ini adalah puncak gangguan dan kedustaan. Manusia musyrik berkata, "Allah memiliki anak." Ini adalah perkataan yang sangat keji. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Maryam [19]: 88-92:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۝ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ۝ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۝ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا

"Dan mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.' Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak."

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan betapa besarnya kemurkaan Allah terhadap perkataan ini. Namun, dalam hadits ini, justru kita melihat betapa besar kesabaran Allah. Meskipun perkataan ini sangat dimurkai, Allah tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.

3. "Kemudian Dia menyembuhkan mereka dan memberi mereka rezeki"

Inilah puncak kelembutan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bukti nyata kesabaran Allah. Jika manusia yang dihina dengan perkataan keji, biasanya ia akan marah dan membalas. Tetapi Allah, meskipun dimusuhi dan didustakan, tetap memberikan nikmat kesehatan dan rezeki kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya.

4. Pelajaran tentang Sifat Sabar Allah

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesabaran Allah adalah konsekuensi dari kesempurnaan sifat Al-Halim (Maha Penyantun) dan Al-'Afuww (Maha Pemaaf). Allah menunda hukuman, memberikan kesempatan untuk bertaubat, dan terus mencurahkan nikmat-Nya. Ini semua adalah bentuk kasih sayang yang tiada tara.

5. Pelajaran untuk Kita

Hadits ini bukan hanya informasi tentang Allah, tetapi juga pelajaran akhlak yang sangat agung. Jika Allah yang Maha Kuasa dan Maha Agung saja bersabar terhadap hamba-Nya yang berbuat syirik, maka sudah sepantasnya kita sebagai manusia yang lemah untuk bersabar terhadap gangguan sesama manusia. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid untuk menegaskan bahwa pengakuan terhadap sifat-sifat Allah yang mulia ini harus membuahkan akhlak yang mulia dalam kehidupan kita.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari -radhiyallahu 'anhu- bahwa pada suatu hari, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu yang membuat mereka takjub. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya dari Allah." Beliau lalu menyebutkan bahwa manusia menganggap Allah memiliki anak, namun Allah tetap menyembuhkan dan memberi mereka rezeki.

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk mengenal Allah lebih dalam. Dan jawaban Nabi ﷺ ini membuka mata mereka tentang betapa agungnya kasih sayang Allah. Al-Hasan Al-Bashri -rahimahullah- ketika menceritakan tentang sifat Allah ini, beliau sering menangis dan berkata, "Betapa penyantunnya Allah kepada hamba-hamba-Nya yang durhaka. Dia tetap memberi mereka makan, minum, dan kesehatan, padahal mereka terus bermaksiat kepada-Nya."

Kesimpulan Praktis

  1. Mengenal sifat sabar Allah adalah bagian dari iman kepada nama dan sifat-Nya. Kita wajib menetapkan sifat ini bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakannya dengan makhluk.
  2. Bersabar terhadap gangguan manusia adalah akhlak mulia yang dicontohkan oleh Allah melalui sifat-Nya. Jika Allah bersabar, maka kita lebih layak untuk bersabar.
  3. Tidak putus asa dari rahmat Allah, karena meskipun manusia bermaksiat, pintu taubat selalu terbuka dan rezeki Allah terus mengalir.
  4. Menjauhi perkataan syirik seperti menganggap Allah memiliki anak, karena ini adalah puncak kedustaan dan gangguan yang sangat besar.
  5. Bersyukur atas nikmat kesehatan dan rezeki, karena ini adalah bukti nyata kesabaran dan kasih sayang Allah kepada kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?