Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa segala yang Allah ambil dan beri adalah milik-Nya, dan setiap ajal sudah ditentukan. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan bersabar dan mengharap pahala (ihtisab). Hadits ini juga menunjukkan bahwa menangis karena kasih sayang bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya yang penyayang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, no. 7377, dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.
Ayat yang menjadi judul bab dan sangat berkaitan dengan tauhid nama-nama Allah:
QS. Al-Isra' [17]: 110
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
"Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru, maka Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma'ul Husna)."
Ayat lain yang menjadi dasar sabar dan ihtisab:
QS. Al-Baqarah [2]: 155–156
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan sabar adalah kunci menghadapi musibah kematian. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah hadits ini) menegaskan bahwa hadits ini mengandung pokok-pokok tauhid: menetapkan bahwa Allah yang memberi dan mengambil, serta menetapkan sifat rahmat bagi Allah sesuai keagungan-Nya.
Penjelasan Rinci
1. Tauhid dalam menerima takdir.
Nabi ﷺ mengajarkan kepada putrinya melalui utusan: "Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang ditentukan." Ini adalah pelajaran tauhid: Allah adalah Pemilik mutlak. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kalimat ini menghibur hati yang berduka dengan mengembalikan segala urusan kepada Allah, karena apa yang diambil bukanlah milik kita hakiki, melainkan titipan yang sudah ditentukan waktunya.
2. Perintah sabar dan ihtisab.
Nabi ﷺ memerintahkan: "Perintahkan dia bersabar dan mengharap pahala (ihtisab)." Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa sabar yang sempurna adalah menahan hati dari keluh kesah, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang tidak diridhai Allah. Sedangkan ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah, bukan sekadar pasrah tanpa harapan.
3. Menangis karena rahmat bukan celaan.
Ketika Nabi ﷺ melihat cucunya sekarat lalu menangis, Sa'd bin 'Ubada bertanya. Nabi ﷺ menjawab: "Ini adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya." Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menangis karena kasih sayang dan bukan karena keluhan terhadap takdir adalah hal yang diperbolehkan bahkan terpuji. Ini menunjukkan bahwa iman tidak menghapus perasaan manusiawi, justru iman mengarahkannya kepada rahmat.
4. Allah merahmati yang penyayang.
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rahmat Allah yang khusus diberikan kepada hamba-Nya yang memiliki sifat kasih sayang kepada makhluk. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa sifat rahmat Allah adalah sifat yang tetap dan agung, dan hamba yang meneladani sifat ini akan mendapatkan rahmat-Nya.
5. Kaitan dengan bab tauhid.
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, bab tentang nama-nama Allah. Ini menunjukkan bahwa hadits ini mengandung penetapan tauhid: Allah Maha Pemberi, Maha Pengambil, Maha Penyayang, dan segala urusan kembali kepada-Nya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid menegaskan bahwa mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya adalah inti tauhid.
Story Telling
Dikisahkan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat muda yang sangat dicintai Nabi ﷺ — bahwa suatu hari ketika mereka sedang duduk bersama Nabi ﷺ, datanglah seorang utusan dari putri beliau. Putri Nabi ﷺ memanggil beliau karena anaknya sedang sekarat. Nabi ﷺ memberi pesan penuh hikmah: bahwa Allah yang memberi dan mengambil, dan segala sesuatu ada waktunya. Namun karena cinta seorang ibu, putri beliau memohon lagi. Maka Nabi ﷺ pun berangkat bersama Sa'd bin 'Ubada dan Mu'adh bin Jabal.
Ketika sampai, anak kecil itu sudah dalam kondisi kritis, napasnya berbunyi seperti kantong air yang berguncang. Melihat itu, air mata Nabi ﷺ mengalir. Sa'd bertanya keheranan, dan Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang menjadi pelajaran abadi: "Ini adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya, dan Allah hanya merahmati hamba-Nya yang penyayang."
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam kisah ini terkandung pelajaran bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam menggabungkan antara kesabaran, ketundukan pada takdir, dan kasih sayang yang tulus. Ibnu Rajab menambahkan bahwa menangisnya Nabi ﷺ bukanlah tanda ketidaksabaran, melainkan bukti kesempurnaan kemanusiaan dan kelembutan hati seorang nabi.
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa semua milik Allah. Saat kehilangan, ucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan sadari bahwa itu semua titipan.
- Bersabar dan ihtisab. Jangan hanya menahan diri, tetapi iringi dengan mengharap pahala dari Allah.
- Jangan malu menangis karena kasih sayang. Menangis karena rahmat bukanlah kelemahan iman, selama tidak disertai keluhan terhadap takdir.
- Latih hati untuk penyayang. Karena rahmat Allah yang khusus diberikan kepada hamba-Nya yang penyayang kepada makhluk.
- Pelajari tauhid nama dan sifat Allah. Sebagaimana Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, agar kita mengenal Allah dengan benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.