Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu landasan penting dalam akhlak Islam. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa rahmat (kasih sayang) Allah kepada seorang hamba sangat berkaitan dengan bagaimana hamba tersebut menyayangi sesama manusia. Ini adalah kabar berita sekaligus peringatan bahwa sifat kasih sayang adalah kunci untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah ﷻ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah: 'Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman...'", no. 7376, dari sahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman tentang sifat kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin ia sangat penyayang dan pengasih." (QS. At-Taubah [9]: 128)
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat rahmah (kasih sayang) dan ancaman bagi yang tidak memilikinya. Beliau menukil perkataan Al-Khaththabi bahwa makna hadits ini adalah balasan yang setimpal; barangsiapa yang tidak memiliki sifat rahmat kepada manusia, maka Allah tidak akan memberikan rahmat-Nya kepadanya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Makna "Rahmat" dalam Hadits Ini
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa rahmat di sini adalah kasih sayang yang mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain, baik berupa bantuan, nasihat, doa, atau meringankan beban mereka. Ini mencakup seluruh makhluk, sebagaimana dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau ﷺ bersabda, "Sayangilah apa yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi oleh yang ada di langit." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
2. Balasan Sesuai dengan Amal
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ini termasuk sunnatullah (hukum alam ketetapan Allah) bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amalan. Barangsiapa menyayangi makhluk Allah, maka Allah akan menyayanginya. Sebaliknya, barangsiapa tidak memiliki rasa kasih sayang, maka ia akan terhalang dari rahmat Allah.
3. Cakupan "Manusia" dalam Hadits
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang tidak, karena kasih sayang kepada sesama manusia adalah akhlak mulia yang diperintahkan. Namun, kasih sayang kepada orang mukmin tentu lebih utama dan lebih sempurna.
4. Peringatan bagi yang Tidak Menyayangi
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang hatinya keras dan tidak memiliki kelembutan kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa sifat kasih sayang adalah bagian dari iman dan akhlak para nabi.
Story Telling
Ada kisah yang masyhur tentang seorang sahabat yang dijuluki Ghautsul Ummah (penolong umat) karena kasih sayangnya. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz (yang dikenal sebagai ulama dan khalifah yang sangat zuhud) menulis surat kepada para gubernurnya agar memperlakukan rakyat dengan lembut. Beliau berkata, "Sesungguhnya aku tidak khawatir terhadap sesuatu yang lebih besar daripada hati yang keras. Maka barangsiapa yang hatinya keras, niscaya Allah akan mengeraskan hatinya dan menjauhkannya dari rahmat-Nya." Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf sangat memahami pesan hadits ini dan menerapkannya dalam kepemimpinan.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak kasih sayang kepada semua orang, dimulai dari keluarga, tetangga, dan sesama muslim.
- Ringankan beban orang lain dengan bantuan, baik materi maupun tenaga.
- Jauhi kekerasan dan kekasaran dalam perkataan maupun perbuatan.
- Doakan kebaikan untuk orang lain sebagai wujud kasih sayang.
- Latih hati untuk lembut dengan merenungkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.