Penjelasan Hadits Bukhari No. 7374 tentang Keutamaan surah Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Surah Al-Ikhlas (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ), yaitu bahwa pahalanya setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Nabi ﷺ menegaskan hal ini dengan sumpah, sekaligus mengoreksi anggapan sebagian orang yang meremehkan bacaan surah tersebut. Ini adalah bentuk pengagungan terhadap tauhid, karena Surah Al-Ikhlas berisi inti tauhid: mengesakan Allah dalam nama, sifat, dan perbuatan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ikhlas [112]: 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah (Wahai Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه. Jalur periwayatannya: Ismail → Malik → Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sa'sa'ah → dari ayahnya → dari Abu Sa'id Al-Khudri. Imam Al-Bukhari juga menyebut tambahan jalur dari Ismail bin Ja'far dari Malik, bahwa Qatadah bin An-Nu'man رضي الله عنه juga menyampaikan hadits ini dari Nabi ﷺ.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini berkaitan erat dengan penetapan tauhid dan keutamaan surah yang berisi tauhid.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas disebut setara sepertiga Al-Qur'an karena maknanya mencakup inti ajaran tauhid, sedangkan Al-Qur'an secara garis besar terdiri dari tiga pokok: tauhid, hukum (ahkam), dan berita/kisah.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama memahami keutamaan ini karena Surah Al-Ikhlas menghimpun makna mengesakan Allah secara menyeluruh.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Seorang laki-laki mendengar orang lain membaca Surah Al-Ikhlas berulang-ulang. Ia kemudian mengadukan hal itu kepada Nabi ﷺ, seolah-olah ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit atau tidak cukup. Maka Nabi ﷺ bersabda dengan sumpah: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ia setara dengan sepertiga Al-Qur'an."

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Imam Al-Bukhari — Beliau menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, mengisyaratkan bahwa keutamaan Surah Al-Ikhlas berkaitan langsung dengan kandungan tauhidnya. Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah inti Al-Qur'an.
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) — Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur'an secara keseluruhan mencakup tiga hal pokok:
  • Tauhid (mengesakan Allah)
  • Ahkam (hukum-hukum syariat)
  • Akhbar (berita/kisah umat terdahulu)

Surah Al-Ikhlas menghimpun pokok pertama secara sempurna, sehingga pahalanya setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "sepertiga" secara maknawi, bukan jumlah huruf atau ayat.

  1. Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) — Beliau menegaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan Surah Al-Ikhlas sangat banyak dan shahih, dan para ulama sepakat tentang keutamaannya. Beliau juga menjelaskan bahwa membaca Surah Al-Ikhlas dengan penuh penghayatan tauhid akan mendatangkan pahala besar.
  2. Ibn Taymiyyah — Beliau menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas mengandung penetapan tauhid dan penafian segala bentuk kesyirikan, sehingga ia menjadi timbangan yang setara dengan sepertiga Al-Qur'an dari sisi makna.
  3. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah — Beliau menyebutkan bahwa Surah Al-Ikhlas adalah surah yang paling padat makna tauhidnya, dan karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk mencintainya dan membacanya dalam berbagai kesempatan.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah "setara sepertiga Al-Qur'an" berarti:

  • Sepertiga dari pahala membaca Al-Qur'an secara keseluruhan (pendapat jumhur, termasuk Ibnu Hajar).
  • Sepertiga dari makna/kandungan Al-Qur'an (pendapat yang juga kuat, disebutkan oleh Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim).

Yang paling kuat: Kedua makna tidak saling bertentangan. Surah Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Qur'an dari sisi makna (karena berisi tauhid) dan dari sisi pahala (karena keutamaannya yang disebutkan dalam hadits shahih). Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan Imam An-Nawawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Qatadah bin An-Nu'man رضي الله عنه — sebagaimana disebutkan dalam jalur riwayat tambahan hadits ini — juga menyampaikan hadits ini dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa para sahabat saling menyampaikan keutamaan Surah Al-Ikhlas.

Dalam riwayat lain yang shahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengutus seorang amir dalam suatu pasukan, dan amir tersebut selalu membaca Surah Al-Ikhlas dalam shalatnya. Ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukan itu?" Amir itu menjawab: "Karena surah itu menyebutkan sifat-sifat Allah, dan aku mencintainya." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Ketahuilah, Allah mencintaimu karena kecintaanmu kepada surah itu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Hikmah: Kecintaan kepada Surah Al-Ikhlas adalah tanda kecintaan kepada tauhid, dan Allah mencintai orang yang mencintai tauhid.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Surah Al-Ikhlas dengan penuh penghayatan — karena ia berisi inti tauhid dan pahalanya setara sepertiga Al-Qur'an.
  2. Jangan meremehkan surah pendek — sebagaimana kisah dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengoreksi anggapan bahwa Surah Al-Ikhlas tidak cukup. Justru ia sangat agung.
  3. Jadikan Surah Al-Ikhlas sebagai bacaan rutin — dalam shalat, dzikir pagi-petih, dan sebelum tidur, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Pelajari makna tauhid yang terkandung di dalamnya — karena Surah Al-Ikhlas adalah ringkasan aqidah Islam.
  5. Cintailah tauhid dan ahlinya — karena kecintaan kepada tauhid adalah tanda keimanan yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?