Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke Yaman. Inti hadits ini adalah ajaran tauhid yang paling mendasar: mengajak manusia kepada syahadat "Laa ilaaha illallah" terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Ini menunjukkan bahwa dakwah harus dimulai dari perkara yang paling pokok, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang Anda sebutkan adalah penggalan awal dari hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Apa yang Dikatakan dalam Doa Nabi ﷺ untuk Menyeru Umatnya kepada Tauhid Allah Ta'ala" (no. 7371). Namun, redaksi lengkap hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahihain (Al-Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19) dengan lafaz yang lebih sempurna.
Berikut redaksi lengkap hadits dari riwayat Al-Bukhari (no. 1496) dan Muslim (no. 19) dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
Teks Arab (HR. Al-Bukhari no. 1496):
> عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ: «إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ» وَفِي رِوَايَةٍ: «إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ» فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ.
Terjemahan:
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu'adz ke Yaman, lalu beliau bersabda: 'Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum Ahli Kitab. Maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah' — dalam riwayat lain: 'agar mereka mentauhidkan Allah' — 'Jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka.'"
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
> وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
QS. An-Nahl [16]: 36
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa misi seluruh rasul adalah dakwah tauhid, sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Mu'adz.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat agung tentang manhaj (metode) dakwah para Nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits Mu'adz ini adalah dalil bahwa dakwah harus dimulai dari tauhid, karena tauhid adalah pondasi agama. Beliau berkata: "Rasulullah ﷺ menjadikan tauhid sebagai perkara pertama yang diserukan kepada Ahli Kitab, padahal mereka adalah kaum yang mengakui adanya Allah. Namun tauhid yang mereka butuhkan adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja, karena mereka menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa dakwah kepada tauhid harus didahulukan atas segala sesuatu, karena amal ibadah tidak akan diterima tanpa tauhid. Beliau berkata: "Tauhid adalah kunci dakwah para rasul, dan dengannya Allah menerima amal serta mengampuni dosa."
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan hikmah mengapa Nabi ﷺ memerintahkan Mu'adz untuk berdakwah secara bertahap:
- Pertama: Dakwah kepada tauhid, karena ini adalah inti agama.
- Kedua: Setelah tauhid tertanam, barulah shalat, karena shalat adalah tiang agama.
- Ketiga: Setelah shalat, barulah zakat, karena zakat adalah penyuci harta dan bentuk kepedulian sosial.
Beliau juga menegaskan bahwa urutan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena setiap perkara menjadi pintu masuk bagi perkara berikutnya. Jika tauhid belum benar, maka amal lainnya tidak akan bermanfaat.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil tentang wajibnya mendahulukan tauhid dalam dakwah, dan ini adalah manhaj para ulama Ahlus Sunnah dalam berdakwah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang kebijaksanaan dakwah (al-hikmah fi ad-da'wah), yaitu tidak membebani manusia dengan perkara cabang sebelum mereka memahami perkara pokok. Beliau juga menyebutkan bahwa Mu'adz bin Jabal adalah sahabat yang paling paham tentang halal dan haram, sehingga Nabi ﷺ memilihnya untuk misi dakwah ke Yaman.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ketika tiba di Yaman. Beliau melaksanakan wasiat Nabi ﷺ dengan penuh kelembutan. Ketika beliau mengajak penduduk Yaman kepada tauhid, banyak di antara mereka yang kemudian masuk Islam. Mu'adz tidak terburu-buru memerintahkan ibadah-ibadah lain sebelum mereka mantap dalam keimanan.
Diceritakan bahwa Mu'adz sangat dicintai penduduk Yaman karena akhlaknya yang mulia. Beliau mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah secara bertahap. Ketika beliau kembali ke Madinah, Nabi ﷺ menyambutnya dengan sabda: "Wahai Mu'adz, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah." (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i, dishahihkan Al-Albani).
Kisah ini mengajarkan kita bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang dimulai dari hati, dengan mengajak kepada tauhid terlebih dahulu, kemudian disampaikan dengan kelembutan dan kesabaran, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat yang diutus oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Tauhid adalah fondasi segala amal — sebelum mengajarkan ibadah lainnya, pastikan pemahaman tauhid sudah benar.
- Dakwah harus bertahap — mulai dari perkara yang paling pokok, kemudian yang berikutnya, sebagaimana wasiat Nabi ﷺ kepada Mu'adz.
- Niatkan setiap kebaikan karena Allah — syahadat bukan sekadar ucapan, tetapi komitmen untuk beribadah hanya kepada Allah.
- Sampaikan ilmu dengan kelembutan — sebagaimana Mu'adz berdakwah dengan hikmah dan akhlak mulia.
- Jadikan hadits ini sebagai pedoman dalam mengajak keluarga dan masyarakat kepada kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.