Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada Raja Persia (Kisra) melalui perantara penguasa Bahrain. Ketika Kisra membaca surat itu, ia merobeknya dengan sombong. Mendengar itu, Nabi ﷺ mendoakan agar kerajaannya dirobek-robek dan tercerai-berai. Hadits ini mengajarkan adab dalam berdakwah, pentingnya menyampaikan kebenaran kepada penguasa, dan akibat buruk dari kesombongan terhadap wahyu Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7264), dari sahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — salah satu ulama Tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan.
Kaitan dengan Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا
QS. Al-Kahfi [18]: 57
Terjemahan ringkas: "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menutup hati mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya, dan di telinga mereka ada sumbatan. Dan jika engkau menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya."
Ayat ini menjelaskan keadaan orang yang berpaling dari wahyu — sebagaimana Kisra yang merobek surat Nabi ﷺ. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang menolak kebenaran setelah mengetahuinya akan dihalangi dari petunjuk.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Metode dakwah kepada penguasa.
Nabi ﷺ mengirim surat kepada Kisra (raja Persia) melalui penguasa Bahrain sebagai perantara. Ini menunjukkan hikmah dalam menyampaikan dakwah — menggunakan perantara yang tepat dan beradab. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dengan cara yang bijak, karena dakwah kepada penguasa membawa manfaat besar bagi rakyatnya.
2. Kesombongan Kisra terhadap kebenaran.
Ketika Kisra membaca surat Nabi ﷺ, ia merobeknya. Ini adalah bentuk penolakan terhadap wahyu dan penghinaan terhadap utusan Allah. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan Kisra merobek surat menunjukkan kesombongan dan keangkuhan terhadap kebenaran, dan ini adalah sifat yang tercela.
3. Doa Nabi ﷺ terhadap Kisra.
Az-Zuhri menyebutkan bahwa Ibn al-Musayyib (Sa'id bin al-Musayyib, salah satu ulama Tabi'in dalam daftar) berkata bahwa Nabi ﷺ berdoa agar Kisra dan pengikutnya dirobek-robek (tercerai-berai). Doa ini dikabulkan Allah — sebagaimana diketahui dalam sejarah, kerajaan Persia hancur dan tercerai-berai setelah itu. Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa kerajaan Kisra runtuh dan tidak pernah kembali bersatu setelah doa Nabi ﷺ.
4. Adab dalam menerima kebenaran.
Hadits ini mengajarkan bahwa menerima kebenaran dengan lapang dada adalah sifat orang beriman, sedangkan menolak dan menghina kebenaran adalah sifat orang yang sombong. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar dari menerima kebenaran.
5. Perbedaan pendapat ulama.
Para ulama dalam daftar rujukan sepakat bahwa Kisra telah melakukan kesalahan besar dengan merobek surat Nabi ﷺ. Namun, mereka berbeda dalam menyebutkan nama Kisra yang dimaksud — sebagian menyebutnya Kisra Abrawiz (Khosrau II). Ibn Hajar al-Asqalani merinci hal ini dalam Fathul Bari. Yang paling kuat adalah bahwa yang dimaksud adalah Kisra yang berkuasa pada masa Nabi ﷺ, yaitu Khosrau II (Abrawiz), sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat lain.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Nabi ﷺ pada tahun keenam Hijriyah mengirim surat kepada beberapa raja besar dunia: Heraklius (Romawi), Kisra (Persia), Muqauqis (Mesir), dan Najasyi (Habasyah). Surat kepada Kisra dibawa oleh Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi رضي الله عنه. Nabi ﷺ memerintahkan agar surat itu diserahkan kepada penguasa Bahrain terlebih dahulu, lalu penguasa Bahrain menyerahkannya kepada Kisra.
Ketika surat itu sampai dan dibacakan kepada Kisra, ia marah besar dan merobek surat tersebut. Ia bahkan sempat ingin mengirim pasukan untuk menangkap Nabi ﷺ, namun Allah menggagalkan rencananya. Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda — sebagaimana disebutkan dalam riwayat — "Semoga Allah merobek-robek kerajaannya." Tidak lama setelah itu, kerajaan Persia dilanda kekacauan internal, perang saudara, dan akhirnya hancur. Kisra sendiri dibunuh oleh anaknya sendiri. Ini adalah bukti kebenaran doa Nabi ﷺ dan akibat buruk dari kesombongan terhadap kebenaran.
Ibn Katsir menyebutkan dalam kitab sejarahnya bahwa setelah peristiwa ini, kerajaan Persia tidak pernah lagi mencapai kejayaannya seperti semula, dan akhirnya ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada masa Umar bin Khattab رضي الله عنه.
Kesimpulan Praktis
- Sampaikan kebenaran dengan hikmah — Nabi ﷺ menggunakan perantara dan cara yang bijak dalam berdakwah kepada penguasa.
- Jangan sombong terhadap kebenaran — Kisra merobek surat Nabi ﷺ dan akibatnya kerajaannya hancur. Kesombongan adalah penghalang terbesar dari petunjuk.
- Doa orang yang dizalimi mustajab — Nabi ﷺ mendoakan keburukan bagi Kisra, dan Allah mengabulkannya. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang dizalimi tidak tertolak.
- Terimalah nasihat dan kebenaran dengan lapang dada — sebagaimana diajarkan para ulama Ahlus Sunnah.
- Pelajari sejarah untuk mengambil pelajaran — kisah ini mengingatkan kita bahwa kejayaan tidak abadi bagi orang yang menolak kebenaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.