Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang kita untuk berharap atau menginginkan kematian, baik karena kesusahan hidup maupun karena hal lainnya. Larangan ini mengandung hikmah yang sangat dalam: selama masih hidup, seorang mukmin memiliki kesempatan untuk terus menambah amal kebaikan, dan seorang yang berdosa memiliki kesempatan untuk bertaubat. Kematian adalah rahasia Allah, dan kita tidak tahu kapan ia datang. Oleh karena itu, yang terbaik adalah memanfaatkan umur yang ada untuk beribadah dan memperbaiki diri, bukan malah berharap agar ajal segera menjemput.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits 7235), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafadznya:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ ـ اسْمُهُ سَعْدُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ ـ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " لاَ يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ "
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian. Jika dia seorang yang baik (muhsin), mungkin dia akan menambah (amal kebaikannya), dan jika dia seorang yang buruk (musi'), mungkin dia akan berhenti dari keburukan dan bertaubat (istitabah)."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 96:
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Artinya: "Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) sebagai manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan lebih tamak lagi daripada orang-orang musyrik. Setiap orang dari mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari azab. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan."
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir sangat tamak terhadap kehidupan dunia, sementara seorang mukmin seharusnya tidak demikian. Namun, larangan dalam hadits ini bukan berarti kita tidak boleh mencintai hidup, melainkan kita tidak boleh berharap mati karena putus asa atau tidak sabar. Sebaliknya, seorang mukmin justru menghargai setiap detik kehidupannya untuk beribadah.
Kaitan dengan Ulama
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah seorang ulama tabi'in yang sangat dihormati dan termasuk dalam daftar rujukan kami. Beliau adalah seorang imam dalam bidang hadits dan fiqih, dan periwayatannya sangat dipercaya oleh para ulama hadits.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini bersifat tahrim (haram) jika diiringi dengan rasa tidak sabar dan putus asa terhadap takdir Allah. Namun, jika seseorang berharap mati karena takut terjerumus dalam fitnah yang lebih besar dalam agama, maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam riwayat lain.
Penjelasan Makna Hadits:
- Larangan Berharap Kematian: Rasulullah ﷺ melarang seorang mukmin untuk berharap kematian. Ini adalah bentuk adab kepada Allah, karena kematian adalah perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya. Berharap mati berarti tidak ridha dengan takdir dan ketentuan Allah, serta menunjukkan kelemahan dalam kesabaran.
- Alasan Larangan (Illat): Nabi ﷺ memberikan alasan yang sangat mendalam:
- Jika dia seorang yang baik (muhsin): Maka dengan hidup lebih lama, dia akan memiliki kesempatan untuk menambah amal kebaikannya. Setiap hari yang dilaluinya adalah ladang pahala yang bisa dia panen. Oleh karena itu, kematian akan memutus amalnya, dan itu adalah kerugian baginya.
- Jika dia seorang yang buruk (musi'): Maka dengan hidup lebih lama, dia memiliki kesempatan untuk bertaubat dari dosa-dosanya. Kematian akan menutup pintu taubat baginya. Oleh karena itu, hidup adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri.
- Pemahaman Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini adalah untuk orang yang berharap mati karena kesulitan duniawi. Adapun jika seseorang berharap mati karena takut fitnah dalam agama, maka hal itu diperbolehkan, bahkan bisa menjadi sunnah jika kondisinya sangat mengkhawatirkan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan berharap mati secara mutlak, kecuali jika ada sebab syar'i yang membolehkannya. Beliau juga mengutip perkataan para ulama bahwa makna "yastatibu" adalah meminta untuk diampuni dosanya, atau berhenti dari keburukan dan kembali kepada ketaatan.
- Penerapan dalam Kehidupan: Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam beribadah. Jangan pernah merasa cukup dengan amal yang telah kita lakukan. Selama masih ada nafas, kita harus terus berusaha meningkatkan kualitas ibadah dan ketaatan kita kepada Allah. Jangan pula berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu taubat masih terbuka lebar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika sebagian sahabat merasa sangat berat menghadapi ujian dan cobaan, mereka terkadang berharap agar kematian segera datang. Namun, Nabi ﷺ selalu mengajarkan mereka untuk bersabar dan tidak berputus asa.
Dalam sebuah kisah, ada seorang sahabat yang sangat tua dan lemah, sehingga ibadahnya menjadi sangat terbatas. Ia pun berharap agar Allah segera mewafatkannya. Namun, Nabi ﷺ melarangnya dan bersabda, "Janganlah engkau berharap mati. Sesungguhnya jika engkau seorang yang baik, maka dengan hidup lebih lama, engkau akan menambah kebaikanmu. Dan itu lebih baik bagimu." (Muttafaqun 'alaih dari Anas bin Malik).
Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang sudah tua dan lemah, niat baik dan kesabarannya dalam menghadapi ujian tetap menjadi amal yang sangat berharga di sisi Allah. Bahkan, sakit dan kesulitan yang dialaminya bisa menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajatnya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Berharap Mati: Hindari perasaan ingin cepat mati karena putus asa, tidak sabar, atau tidak ridha dengan takdir Allah.
- Manfaatkan Umur: Anggaplah setiap hari sebagai kesempatan berharga untuk menambah amal kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Segera Bertaubat: Jika kita memiliki dosa, jangan menunda taubat. Hidup adalah kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.
- Bersabar dalam Ujian: Ketika menghadapi kesulitan, bersabarlah dan yakinlah bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.
- Berdoa dengan Bijak: Jika kita ingin berdoa, mohonlah kepada Allah agar diberikan umur yang berkah, bukan umur yang panjang tanpa amal, atau kematian yang cepat tanpa persiapan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.