Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang seorang muslim untuk berharap atau menginginkan kematian karena suatu musibah atau kesulitan yang menimpanya. Larangan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, karena seorang mukmin tidak mengetahui akhir hidupnya. Bisa jadi dengan bersabar, ia akan meraih kebaikan yang besar di sisi Allah. Namun, jika seseorang dalam keadaan terpaksa karena ujian yang sangat berat, ia diperbolehkan berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu meminta kematian jika itu lebih baik baginya.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sunnatullah. Allah memerintahkan kita untuk bersabar, bukan berputus asa atau mengharapkan kematian.
2. Hadits Terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Mardha (Orang Sakit) atau dalam riwayat lain Kitab Ar-Riqaq (Hadits tentang Hati yang Melunak), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh (dibenci) jika tujuannya karena tidak sabar menghadapi musibah. Namun, jika tujuannya karena takut fitnah dalam agama, maka hal itu diperbolehkan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa makna larangan ini adalah larangan mengharapkan kematian karena kesulitan duniawi. Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa seorang mukmin hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa larangan mengharapkan kematian dalam hadits ini memiliki beberapa hikmah yang dalam:
- Kematian adalah Hak Prerogatif Allah: Kematian adalah perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya. Seorang hamba tidak boleh meminta sesuatu yang merupakan hak mutlak Allah untuk menentukan waktunya.
- Kebaikan Seorang Mukmin: Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain (diriwayatkan Muslim): "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." Ini menunjukkan bahwa setiap keadaan bagi seorang mukmin adalah kebaikan, baik suka maupun duka. Dengan bersabar, ia akan mendapatkan pahala yang besar.
- Perbedaan Antara Mengharap dan Berdoa: Para ulama membedakan antara tamanni (mengharap/berangan-angan) dengan du'a (berdoa meminta). Mengharap kematian karena tidak tahan ujian adalah perbuatan tercela. Adapun berdoa memohon kebaikan akhirat, seperti yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku selama kematian itu lebih baik bagiku" (HR. Bukhari dan Muslim), maka ini diperbolehkan bahkan dianjurkan. Doa ini adalah permohonan agar Allah memilihkan yang terbaik, bukan karena putus asa.
- Sikap Para Sahabat: Kisah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam hadits ini sangat menyentuh. Beliau mengatakan bahwa jika bukan karena larangan Nabi ﷺ, beliau pasti akan mengharapkan kematian. Ini menunjukkan betapa beratnya ujian yang beliau hadapi, namun beliau tetap taat dan tidak melanggar larangan Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran tentang ketaatan yang sempurna.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ujian dan musibah bertubi-tubi menimpa kaum muslimin, banyak di antara para sahabat yang merasa sangat berat. Namun, mereka selalu ingat sabda Nabi ﷺ. Mereka lebih memilih untuk bersabar dan terus berjuang daripada berharap kematian.
Ada satu kisah tentang Al-Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in yang terkenal zuhud dan banyak menangis karena takut kepada Allah). Suatu hari, ia ditanya tentang orang yang mengharapkan kematian karena takut akan siksa Allah. Beliau menjawab dengan bijak, "Orang yang berakal tidak akan mengharapkan kematian, karena ia tidak tahu apakah setelah kematian itu ia akan mendapatkan kebaikan atau keburukan. Yang terbaik baginya adalah beramal saleh selama masih diberi kesempatan hidup."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami hakikat kehidupan dan kematian. Mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, dan mereka selalu melihat kehidupan sebagai ladang amal untuk akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Berputus Asa: Jangan pernah mengharapkan kematian karena kesulitan hidup. Yakinlah bahwa setiap ujian adalah cara Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya.
- Perbanyak Sabar dan Syukur: Hadapi setiap keadaan dengan sabar ketika susah dan syukur ketika senang. Ini adalah kunci kebahagiaan seorang mukmin.
- Berdoa dengan Doa yang Diajarkan Nabi: Jika merasa sangat berat, berdoalah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma ah-yinii maa kaanatil hayaatu khairan lii, wa tawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii" (Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku selama kematian itu lebih baik bagiku).
- Jadikan Hidup sebagai Ladang Amal: Gunakan waktu yang ada untuk memperbanyak ibadah dan kebaikan, karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.