Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang paling dibenci Allah adalah al-aladdul khashim, yaitu orang yang sangat keras dan gemar berdebat/berselisih tanpa kebenaran. Ini bukan larangan berdiskusi untuk mencari kebenaran, tetapi larangan berdebat dengan tujuan menang, memutarbalikkan fakta, atau menolak kebenaran. Islam mengajarkan kita berbicara dengan lembut, mencari kebenaran, dan meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Hukum (Kitab Al-Ahkam), Bab "Orang yang Paling Dibenci", nomor 7188, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
<p>حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ".</p>
Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah orang yang paling suka berdebat (al-aladdul khashim)."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
<p>وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
(QS. Al-Ankabut [29]: 46)
Terjemahan: "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik."
Juga firman Allah:
<p>ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
(QS. An-Nahl [16]: 125)
Terjemahan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa al-aladdul khashim adalah orang yang keras dalam permusuhan dan perdebatan, yang tujuannya bukan mencari kebenaran tetapi memaksakan pendapat dan menolak kebenaran. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah orang yang suka membantah dengan batil dan keras kepala.
Penjelasan Rinci
Kata "al-aladd" (الأَلَدُّ) berasal dari akar kata ladad yang berarti sangat keras, keras kepala, dan sulit menerima kebenaran. Sedangkan "al-khashim" (الْخَصِمُ) berarti orang yang suka berdebat atau berselisih. Jadi, al-aladdul khashim adalah orang yang menggabungkan dua sifat buruk: keras kepala dan gemar berdebat.
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini mencela orang yang berdebat untuk membatalkan kebenaran atau untuk menang-menangan, bukan untuk mencari kebenaran. Beliau juga menyebutkan bahwa ini termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja menolak kebenaran.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan larangan berdebat dengan cara yang batil dan keras kepala. Adapun debat untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang baik, itu diperbolehkan bahkan terkadang wajib.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa perdebatan yang tercela adalah yang dilakukan karena gengsi, ingin menang, atau membela pendapat pribadi meskipun salah. Sedangkan diskusi untuk mencari kebenaran dengan niat ikhlas adalah sesuatu yang terpuji.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menambahkan bahwa orang yang suka berdebat biasanya jauh dari keikhlasan dan lebih mementingkan diri sendiri. Beliau menasihatkan agar seorang Muslim menghindari perdebatan yang tidak membawa manfaat dan lebih fokus pada amal saleh.
Para ulama sepakat bahwa hadits ini tidak melarang jidal (debat) secara mutlak, karena Al-Qur'an sendiri memerintahkan berdebat dengan cara yang baik (QS. An-Nahl: 125). Yang dilarang adalah jidal dengan cara batil, keras kepala, dan tujuan yang tidak benar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi'i pernah berdebat dengan seseorang tentang suatu masalah. Ketika orang itu mulai keras kepala dan menolak kebenaran, Imam asy-Syafi'i berkata, "Aku tidak akan berdebat denganmu lagi, karena aku mencari kebenaran, sedangkan engkau mencari kemenangan." Ini menunjukkan adab beliau dalam berdiskusi.
Abdullah bin al-Mubarak juga pernah ditanya tentang orang yang suka berdebat. Beliau menjawab, "Orang yang suka berdebat akan kehilangan teman dan jauh dari kebenaran." (Disebutkan dalam Kitab Az-Zuhd karya Abdullah bin al-Mubarak).
Kesimpulan Praktis
- Hindari perdebatan yang tujuannya hanya untuk menang atau memaksakan pendapat.
- Jika berdiskusi, niatkan untuk mencari kebenaran dengan cara yang lembut dan penuh adab.
- Jangan keras kepala menolak kebenaran ketika sudah jelas dalilnya.
- Fokuslah pada amal saleh dan meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat.
- Berbicaralah dengan hikmah dan pengajaran yang baik, sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nahl: 125.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.