Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab penting: ketika ada situasi yang bisa menimbulkan prasangka buruk, Islam membolehkan bahkan menganjurkan menjelaskan keadaan yang sebenarnya agar hati orang lain tidak tergores syak (keraguan). Nabi ﷺ menegaskan bahwa beliau mengantar istrinya, Shafiyyah رضي الله عنها, lalu menjelaskan alasannya: setan mengalir dalam tubuh manusia seperti darah, sehingga prasangka bisa muncul tanpa disadari. Ini bukan larangan berprasangka, tetapi tuntunan agar kita menutup pintu prasangka dengan kejelasan dan adab.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7171), dari jalur Ali bin Husain (Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib), dari Shafiyyah binti Huyai رضي الله عنها. Al-Bukhari juga menyebut beberapa perawi lain yang meriwayatkan dari Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), yaitu Syu'aib, Ibnu Musafir, Ibnu Abi 'Atiq, dan Ishaq bin Yahya.
Teks hadits yang disebutkan:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَتَتْهُ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ فَلَمَّا رَجَعَتِ انْطَلَقَ مَعَهَا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَدَعَاهُمَا فَقَالَ: «إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ». قَالاَ: سُبْحَانَ اللَّهِ. قَالَ: «إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ»
Terjemahan ringkas: Dari Ali bin Husain, bahwa Nabi ﷺ didatangi Shafiyyah binti Huyai. Ketika ia kembali, beliau berjalan bersamanya. Lalu dua orang Ansar melewati beliau, maka beliau memanggil mereka dan bersabda: "Sesungguhnya dia adalah Shafiyyah." Keduanya berkata: "Subhanallah." Beliau bersabda: "Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan berprasangka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
QS. Al-Hujurat [49]: 12
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa."
Ayat ini menjadi landasan bahwa prasangka buruk harus dijauhi, dan hadits di atas menunjukkan cara Nabi ﷺ menutup jalan prasangka dengan penjelasan yang jelas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan para ulama dalam daftar rujukan:
1. Kejelasan untuk mencegah prasangka (sadd adz-dzari'ah).
Nabi ﷺ sengaja memanggil dua orang Ansar itu dan menjelaskan bahwa wanita yang berjalan bersamanya adalah istrinya, Shafiyyah. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berada dalam situasi yang bisa disalahpahami, menjelaskan keadaan adalah tindakan terpuji. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melakukannya karena khawatir kedua sahabat itu menyangka sesuatu yang tidak layak, sehingga beliau menutup pintu prasangka. Ini bukan karena beliau takut kepada manusia, tetapi karena kasih sayang kepada umat agar hati mereka selamat dari syak.
2. Ucapan "Subhanallah" dari dua sahabat.
Keduanya berkata "Subhanallah" sebagai bentuk penolakan terhadap prasangka buruk yang mungkin terlintas. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ucapan ini menunjukkan rasa takjub dan penolakan terhadap bisikan setan, bukan tuduhan kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan adab sahabat: segera menolak prasangka buruk dan mengembalikan hati kepada Allah.
3. "Setan mengalir dalam tubuh manusia seperti darah."
Ini adalah pernyataan Nabi ﷺ yang menjadi inti hadits. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maknanya: setan memiliki pengaruh dan jalan masuk ke dalam hati manusia sebagaimana darah mengalir di tubuh. Karena itu, prasangka buruk bisa muncul tanpa disadari, dan manusia perlu waspada. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa setan berusaha menyusup ke dalam hati melalui bisikan, dan salah satu pintunya adalah prasangka buruk terhadap orang lain. Maka menjelaskan keadaan yang sebenarnya adalah cara menutup pintu itu.
4. Bukan larangan berprasangka, tetapi tuntunan adab.
Hadits ini tidak berarti kita boleh berprasangka buruk. Justru sebaliknya: Islam mengajarkan agar kita menjauhi prasangka (QS. Al-Hujurat: 12), dan salah satu caranya adalah dengan kejelasan. As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa prasangka buruk tanpa bukti adalah dosa, dan seorang mukmin hendaknya berbaik sangka serta mencari kejelasan sebelum menilai.
5. Kesaksian di hadapan hakim.
Hadits ini ditempatkan Al-Bukhari dalam Kitab Hukum, bab tentang kesaksian di hadapan hakim. Para ulama memahami bahwa kejelasan dan kesaksian yang benar adalah bagian dari keadilan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa bab ini berkaitan dengan pentingnya keterangan yang jelas dalam menyelesaikan perselisihan, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama membahas apakah Nabi ﷺ mengantar Shafiyyah karena malam atau karena safar. Namun inti hadits tetap sama: kejelasan untuk mencegah prasangka. Yang paling kuat adalah pemahaman yang disebutkan Ibnu Hajar dan an-Nawawi: Nabi ﷺ menjelaskan agar hati sahabat tidak tergores syak, dan beliau menegaskan bahwa setan bisa menyusup melalui prasangka.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Shafiyyah binti Huyai رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ, datang menemui beliau. Setelah urusannya selesai, ia kembali, dan Nabi ﷺ berjalan mengantarnya. Di tengah jalan, dua orang Ansar lewat. Mereka adalah sahabat yang mulia, namun sebagai manusia, bisa saja terlintas di hati mereka pertanyaan: siapa wanita yang berjalan bersama Nabi ﷺ di malam hari?
Nabi ﷺ yang mengetahui hal itu segera memanggil mereka dan bersabda dengan lembut: "Sesungguhnya dia adalah Shafiyyah." Mendengar penjelasan itu, keduanya segera berkata: "Subhanallah!" — sebuah ucapan yang menunjukkan penolakan terhadap prasangka dan pengagungan kepada Allah. Lalu Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah."
Hikmahnya: betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap hati umatnya. Beliau tidak membiarkan prasangka tumbuh, tetapi menjelaskan dengan cara yang santun. Dan beliau mengingatkan bahwa setan selalu berusaha menyusup, sehingga kita perlu waspada dan saling menjelaskan dengan baik. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan menjadi pelajaran abadi tentang adab dan kejelasan.
Kesimpulan Praktis
- Jelaskan keadaan bila berada dalam situasi yang bisa disalahpahami, dengan niat menjaga hati orang lain dari prasangka.
- Jauhi prasangka buruk (QS. Al-Hujurat: 12), dan bila muncul keraguan, carilah kejelasan dengan cara yang baik.
- Waspadai bisikan setan yang mengalir seperti darah; perbanyak dzikir dan muhasabah.
- Berbaik sangka kepada sesama mukmin, terutama kepada orang-orang shalih.
- Sampaikan penjelasan dengan lembut dan penuh adab, sebagaimana Nabi ﷺ menjelaskan kepada dua sahabat Ansar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.