Penjelasan Hadits Bukhari No. 7115 tentang Tanda kiamat saat orang menginginkan kematian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda besar dekatnya hari Kiamat, yaitu ketika dunia sudah sangat buruk dan fitnah merajalela, manusia akan sangat menderita sehingga mereka menganggap kematian sebagai pelarian terbaik. Seorang yang masih hidup akan melewati kuburan dan berangan-angan, "Seandainya aku yang di dalam kubur itu," karena beratnya cobaan hidup yang mereka alami. Ini adalah peringatan keras tentang betapa dahsyatnya ujian di akhir zaman, sekaligus dorongan untuk kita berlindung kepada Allah dari fitnah dan mempersiapkan diri dengan amal shalih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan, Bab "Tidak Akan Terjadi Hari Kiamat Hingga Penduduk Kubur Diharapkan", no. 7115, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan riwayat Al-Bukhari.

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah tentang keinginan orang-orang yang beriman agar bisa bertemu dengan saudara-saudaranya yang telah mati syahid, karena mereka melihat kenikmatan yang diperoleh para syuhada:

QS. Ali 'Imran [3]: 169-170

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ۝ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Ayat ini menunjukkan bahwa kematian di jalan Allah adalah kenikmatan, dan orang-orang yang beriman di akhir zaman akan sangat merindukan kematian karena melihat besarnya pahala orang-orang yang telah mendahului mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di bahwa ayat ini menggambarkan keadaan para syuhada yang sangat membahagiakan, sehingga orang-orang mukmin yang masih hidup pun berangan-angan untuk menyusul mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda besar hari Kiamat. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah manusia akan mengalami penderitaan yang sangat berat di akhir zaman, berupa pembunuhan, fitnah, dan bencana yang bertubi-tubi, sehingga seorang yang hidup akan melihat kuburan dan berangan-angan untuk berada di tempat mayat itu karena menganggap kematian lebih ringan daripada cobaan yang ia hadapi.

Al-Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, namun penjelasan ini senada dengan ulama daftar) dan juga Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim menjelaskan bahwa ini terjadi ketika dunia telah dipenuhi kezaliman dan kekacauan, sehingga orang-orang beriman merindukan kematian sebagai jalan keluar. Namun perlu digarisbawahi, dalam riwayat lain (Muslim), Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak boleh seorang pun berangan-angan mati karena suatu musibah yang menimpanya, tetapi hendaknya berdoa: "Allahumma ahini ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li" (Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa dahsyatnya fitnah akhir zaman. Beliau menegaskan bahwa keinginan mati tersebut bukan karena putus asa dari rahmat Allah, tetapi karena beratnya ujian iman. Orang-orang yang beriman akan melihat bahwa mempertahankan iman di tengah fitnah sangat sulit, sehingga mereka lebih memilih mati dalam keadaan iman daripada hidup dalam ujian yang bisa menggoyahkan keyakinan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarah Kitab At-Tauhid juga menyinggung makna ini ketika membahas tentang tanda-tanda kiamat, bahwa kondisi ini adalah puncak keburukan dunia, di mana orang-orang shalih merasa asing dan tersiksa, sehingga mereka merindukan kematian.

Perlu dipahami, hadits ini tidak bertentangan dengan larangan berangan-angan mati. Karena larangan tersebut berlaku untuk musibah yang bersifat pribadi, sedangkan dalam hadits ini, keinginan mati muncul karena melihat kondisi umum umat yang sangat buruk dan fitnah yang besar. Ini adalah kabar tentang kondisi yang akan terjadi, bukan anjuran untuk melakukannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar tabi'in, pernah berkata: "Demi Allah, tidaklah seorang mukmin merasakan kelezatan iman kecuali ia akan merindukan kematian." Beliau juga sering berdoa: "Ya Allah, berikanlah kepadaku kematian dalam keadaan Engkau ridha kepadaku, dan janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang tertipu oleh dunia."

Al-Hasan Al-Bashri hidup di masa ketika fitnah besar terjadi di kalangan umat Islam, seperti terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Perang Jamal, Perang Shiffin, dan berbagai gejolak politik. Meskipun beliau tidak berangan-angan mati secara berlebihan, namun beliau sangat memahami bahwa beratnya ujian iman di masa fitnah membuat seorang mukmin lebih memilih bertemu Allah dalam keadaan selamat.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para salaf sangat memahami hakikat kehidupan dunia yang fana dan ujian yang berat, namun mereka tetap bersabar dan berjuang mempertahankan iman, tidak lari dari tanggung jawab, dan hanya berharap husnul khatimah.

Kesimpulan Praktis

  1. Menyadari tanda-tanda zaman: Hadits ini mengingatkan kita bahwa akhir zaman akan semakin berat, dan kita harus mempersiapkan diri dengan ilmu dan amal shalih.
  2. Tidak berputus asa: Meskipun fitnah besar, seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, tetapi tetap berdoa dan berikhtiar.
  3. Memperbanyak doa keselamatan: Berdoalah agar Allah menjaga iman kita dan memberikan husnul khatimah, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Menjauhi perbuatan yang menyebabkan kerusakan: Fitnah besar terjadi karena maksiat dan kezaliman, maka kita harus menjauhi dan mencegahnya sesuai kemampuan.
  5. Mempersiapkan bekal kematian: Karena kematian bisa datang kapan saja, perbanyaklah amal shalih, taubat, dan istighfar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?