Penjelasan Hadits Bukhari No. 71 tentang Tanda kebaikan adalah paham agama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa tanda utama seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah adalah diberi pemahaman mendalam dalam agama (tafaqquh fiddin). Ini bukan sekadar banyaknya ilmu, tetapi kemampuan memahami inti ajaran Islam, mengamalkannya, dan menjaganya. Hadits ini juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ hanyalah penyampai (pembagi), sedangkan Allah yang memberi hidayah, serta menjamin bahwa akan selalu ada sekelompok umat Islam yang tegak di atas kebenaran hingga hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. At-Taubah [9]: 122

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri."

Hadits:

Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 71, dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Ilmu, bab ini) menjelaskan bahwa yang dimaksud "dijadikan paham agama" bukan sekadar menghafal, tetapi memahami maksud syariat dan mampu mengambil hukum darinya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menekankan bahwa tafaqquh adalah kunci kebaikan dunia dan akhirat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung tiga faedah besar:

1. Tanda Kebaikan: Tafaqquh fiddin

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati." (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi). Maka, tafaqquh bukan sekadar banyak tahu, tetapi kemampuan menggali inti agama, mengutamakan yang wajib, dan menjauhi yang haram. Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang dikehendaki Allah baik, Dia akan membukakan hatinya untuk memahami agama, dan menjadikannya zuhud di dunia serta waspada terhadap aibnya sendiri."

2. Peran Nabi sebagai Pembagi, Allah sebagai Pemberi

Sabda Nabi ﷺ, "Aku hanya pembagi, Allah yang memberi," mengajarkan adab tauhid. Manusia hanya bisa menyampaikan, tetapi hidayah dan taufik sepenuhnya di tangan Allah. Ini menepis anggapan bahwa guru atau da'i bisa memaksa seseorang menjadi baik. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sering mengulang, "Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah."

3. Jaminan Adanya Thaifah Manshurah (Kelompok yang Menang)

Sabda Nabi ﷺ, "Akan senantiasa ada segolongan umatku yang tegak di atas perintah Allah," menunjukkan bahwa kebenaran tidak akan pernah punah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Mughirah bin Syu'bah bahwa kelompok ini adalah ahlul hadits (pengikut sunnah). Imam Ahmad berkata, "Jika mereka bukan ahlul hadits, aku tidak tahu siapa mereka." Imam Ibnu Hajar menegaskan bahwa kelompok ini mencakup semua orang yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah serta membela keduanya, meskipun jumlah mereka sedikit.

Story Telling

Diriwayatkan dari Ibnu Syihab az-Zuhri rahimahullah, ia berkata: "Kami dahulu merasa bahwa ilmu itu hanya dihafal, hingga kami bertemu dengan Rabi'ah bin Abi Abdurrahman (guru Imam Malik). Ia berkata, 'Ilmu itu adalah pemahaman yang Allah berikan kepada hamba-Nya, bukan sekadar banyaknya riwayat.' Maka sejak itu, kami lebih bersemangat untuk memahami daripada sekadar menghafal." (Diriwayatkan oleh Al-Khatib al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih).

Kisah ini mengajarkan bahwa para ulama salaf sangat menekankan pemahaman yang benar, bukan sekadar banyaknya hafalan tanpa pengertian.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak doa agar Allah memberi kita pemahaman agama yang benar, karena itu tanda kebaikan.
  2. Jangan bangga dengan banyaknya ilmu jika belum diamalkan dan dipahami dengan benar.
  3. Tetap semangat menuntut ilmu meskipun banyak orang yang menyimpang, karena akan selalu ada kelompok yang tegak di atas kebenaran.
  4. Rendahkan hati dalam berdakwah, karena hidayah hanya milik Allah, kita hanya penyampai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?