Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda dekatnya Hari Kiamat, yaitu munculnya hari-hari al-harj (الْهَرْج). Al-harj menurut penjelasan sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu adalah pembunuhan dalam bahasa Habasyah (Etiopia). Pada masa itu, ilmu akan dicabut dan diangkat, sehingga kebodohan merajalela, dan akibatnya banyak terjadi pembunuhan yang tidak jelas alasannya. Ini adalah peringatan bagi kita untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu selagi masih ada kesempatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuril Fitan, no. 7066, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu secara marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ).
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاصِلٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، وَأَحْسِبُهُ رَفَعَهُ قَالَ: "بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامُ الْهَرْجِ، يَزُولُ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرُ فِيهَا الْجَهْلُ". قَالَ أَبُو مُوسَى: وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ.
Makna Ringkas:
Di antara tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah hari-hari al-harj (pembunuhan massal), ketika ilmu diangkat dan kebodohan tersebar luas.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan (tafaqquh) mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri?"
(QS. At-Taubah [9]: 122)
Ayat ini menunjukkan pentingnya ilmu sebagai benteng umat dari kebodohan yang menjadi sumber kerusakan dan pembunuhan.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan makna al-harj dan menukil perkataan Abu Musa Al-Asy'ari bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Habasyah yang berarti pembunuhan. Beliau juga menjelaskan bahwa hilangnya ilmu terjadi dengan wafatnya para ulama, bukan dengan dicabutnya ilmu dari dada manusia secara langsung.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna Al-Harj (الْهَرْج)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kata al-harj dalam bahasa Arab bisa berarti kekacauan atau pembunuhan. Namun, sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu—yang pernah tinggal di negeri Habasyah—menegaskan bahwa dalam bahasa Habasyah, kata ini secara khusus berarti pembunuhan. Ini menunjukkan bahwa pada akhir zaman akan terjadi pembunuhan massal yang sangat dahsyat, sehingga orang yang membunuh tidak tahu apa alasannya, dan orang yang dibunuh tidak tahu mengapa dia dibunuh.
2. Hilangnya Ilmu dan Munculnya Kebodohan
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 100) dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan."
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Fadhlu Ilmis Salaf 'alal Khalaf menjelaskan bahwa hilangnya ilmu ini adalah musibah terbesar bagi umat, karena dengan hilangnya ilmu, manusia tidak lagi mengenal yang halal dan haram, sehingga terjadi pertumpahan darah secara masif.
3. Urutan Terjadinya Fitnah
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat datang bertahap. Masa al-harj ini adalah masa di mana fitnah besar terjadi, dan ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa di akhir zaman akan banyak al-harj, dan para sahabat bertanya, "Apa itu al-harj, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Pembunuhan, pembunuhan." (HR. Muslim no. 157)
4. Pelajaran dari Perkataan Abu Musa
Perkataan Abu Musa Al-Asy'ari ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan makna kata-kata asing dalam hadits Nabi ﷺ, dan mereka menjelaskannya kepada umat. Ini juga menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki kekayaan makna, dan sebagian kosa katanya diserap dari bahasa lain yang sudah dikenal di kalangan Arab.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah (seorang tabi'in besar) pernah menangis ketika membaca hadits-hadits tentang hilangnya ilmu. Beliau berkata kepada murid-muridnya:
"Wahai anakku, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur'an sebagai surat-surat dari Rabb mereka. Maka mereka pun merenungkannya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari. Adapun kalian, kalian menjadikannya sebagai bacaan yang tidak kalian renungkan maknanya. Maka berlomba-lombalah dalam menuntut ilmu sebelum ilmu itu diangkat, dan sebelum hati kalian menjadi keras karena banyaknya maksiat."
Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat memahami bahwa ilmu adalah cahaya yang menjaga umat dari kebinasaan. Ketika ilmu hilang, manusia kehilangan arah, dan akibatnya adalah pembunuhan dan kehancuran.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh menuntut ilmu syar'i selagi masih ada ulama dan guru yang bisa dijadikan rujukan, karena ilmu akan diangkat dengan wafatnya para ulama.
- Menjauhi segala bentuk pembunuhan dan kekerasan, karena darah seorang muslim adalah perkara yang sangat agung di sisi Allah.
- Berhati-hati dari orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, karena mereka adalah sumber kesesatan di akhir zaman.
- Memperbanyak doa agar Allah menjaga kita dari fitnah, terutama fitnah yang memecah belah umat dan menumpahkan darah.
- Menjadi pribadi yang bermanfaat dengan ilmu, baik dengan mengajar, menasihati, atau setidaknya menjaga diri dan keluarga dari kebodohan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.