Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7057 tentang Kesabaran menghadapi pemimpin yang tidak adil

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, akan muncul para pemimpin yang tidak memberikan hak-hak rakyatnya secara penuh (atsarah). Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk bersabar menghadapi keadaan ini, tetap menunaikan hak mereka, dan tidak memberontak, hingga kita bertemu beliau di telaga pada hari kiamat. Ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ sekaligus bimbingan berharga bagi umat Islam dalam menyikapi pemimpin yang tidak adil.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ، أَنَّ رَجُلاً، أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَعْمَلْتَ فُلاَنًا وَلَمْ تَسْتَعْمِلْنِي. قَالَ " إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي ".

Makna Ringkas: Dari Usaid bin Hudair, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah! Engkau telah mengangkat si fulan dan tidak mengangkatku?" Nabi ﷺ bersabda, "Setelahku kalian akan melihat para penguasa yang tidak memberikan hak kalian (tetapi kalian harus memberikan hak mereka), dan bersabarlah sampai kalian bertemu denganku."

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab al-Fitan (Bab: Perkataan Nabi ﷺ "Kalian akan melihat setelahku perkara-perkara yang kalian ingkari").
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan makna atsarah dan bimbingan Nabi ﷺ untuk bersabar.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (hadits semakna) menjelaskan bahwa sabar terhadap kezaliman pemimpin adalah bagian dari ketaatan, selama tidak memerintahkan kemaksiatan.

Penjelasan Rinci

1. Makna Kata "Atsarah" (أَثَرَة)

Kata atsarah berasal dari akar kata atsara yang berarti mengkhususkan diri sendiri dalam sesuatu. Dalam konteks hadits ini, atsarah berarti para pemimpin yang mengkhususkan harta dan jabatan untuk diri sendiri dan kerabatnya, tidak memberikan hak-hak rakyat secara adil. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa atsarah adalah ketika pemimpin mengambil hak orang lain dan tidak memberikannya secara penuh.

2. Konteks Hadits

Hadits ini diriwayatkan dari Usaid bin Hudair radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia dari kalangan Anshar. Ada seorang laki-laki yang merasa kecewa karena tidak diangkat oleh Nabi ﷺ dalam suatu tugas, sementara orang lain diangkat. Beliau ﷺ tidak menjawab langsung tentang alasan pengangkatan tersebut, tetapi memberikan kabar ghaib yang lebih penting: bahwa setelah beliau wafat, akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak adil. Maka yang lebih penting bukanlah protes kepada Nabi ﷺ, tetapi bagaimana menyikapi keadaan setelahnya.

3. Bimbingan Nabi ﷺ: Sabar dan Tetap Memberikan Hak

Nabi ﷺ bersabda: "Maka bersabarlah kalian sampai bertemu denganku." Ini menunjukkan:

  • Larangan memberontak kepada pemimpin yang zalim selama mereka masih menegakkan shalat dan tidak memerintahkan kemaksiatan yang nyata. Ini adalah pendapat mayoritas ulama Ahlus Sunnah, di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ath-Thahawi (dalam Aqidah-nya), dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa.
  • Tetap menunaikan hak pemimpin berupa ketaatan dalam kebaikan, meskipun mereka tidak memberikan hak kita. Ini sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
  • Kesabaran ini berpahala besar dan menjadi sebab bertemu dengan Nabi ﷺ di telaga pada hari kiamat. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa sabar terhadap kezaliman penguasa adalah bagian dari kesabaran yang paling utama.

4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Memberontak

Para ulama dalam daftar rujukan kita berbeda pendapat dalam detail:

  • Mayoritas ulama (Imam Ahmad, Imam Ath-Thahawi, Ibnu Hajar, An-Nawawi) melarang pemberontakan terhadap pemimpin yang zalim selama mereka masih muslim dan menegakkan shalat. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya seperti hadits Ubadah bin Shamit tentang bai'at untuk tidak mencabut kekuasaan.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menegaskan bahwa pemberontakan seringkali menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kezaliman itu sendiri. Beliau mencontohkan peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan yang menjadi pintu terbukanya fitnah besar dalam sejarah Islam.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in menegaskan bahwa sabar terhadap pemimpin yang zalim adalah jalan yang ditempuh para sahabat dan tabi'in, dan mereka tidak pernah memberontak kepada pemimpin yang zalim.

5. Pengecualian: Jika Pemimpin Memerintahkan Kemaksiatan

Para ulama sepakat bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan yang nyata, maka tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan tersebut, tetapi tetap tidak boleh memberontak. Ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari dan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7144) dan Imam Muslim (no. 1843), dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

> "Kami berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, dan untuk tidak mencabut kekuasaan dari pemegangnya. Beliau bersabda: 'Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sejak awal telah dididik oleh Nabi ﷺ untuk taat kepada pemimpin, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Mereka tidak memberontak meskipun terjadi pembunuhan Utsman bin Affan, perang Jamal, dan perang Shiffin. Para sahabat yang tersisa seperti Abdullah bin Umar dan Usamah bin Zaid menolak untuk ikut berperang di tengah fitnah tersebut, karena mereka memahami sabda Nabi ﷺ: "Bersabarlah sampai kalian bertemu denganku."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menceritakan bahwa Al-Hasan al-Bashri ditanya tentang pemberontakan terhadap penguasa yang zalim, maka beliau menjawab: "Janganlah kalian memberontak. Demi Allah, sejak dahulu orang-orang yang memberontak tidak pernah menghasilkan kebaikan. Mereka justru menumpahkan darah, merampas harta, dan merusak agama."

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa kabar ghaib Nabi ﷺ pasti benar — akan ada pemimpin yang tidak memberikan hak rakyatnya. Ini bukan alasan untuk putus asa, tetapi untuk mempersiapkan diri dengan kesabaran.
  2. Jangan memberontak kepada pemimpin muslim selama mereka masih menegakkan shalat dan tidak memerintahkan kemaksiatan yang nyata. Pemberontakan justru membuka pintu kerusakan yang lebih besar.
  3. Tetap tunaikan hak pemimpin berupa ketaatan dalam kebaikan, nasihat dengan cara yang baik, dan doakan mereka agar diberi hidayah.
  4. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan tersebut, tetapi tetap jangan memberontak. Cukup ingkari dengan hati, dan jika mampu, nasihati dengan bijak.
  5. Perbanyak doa dan amal shalih di tengah keadaan yang sulit, karena kesabaran di masa fitnah memiliki pahala yang besar di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.