Penjelasan Hadits Bukhari No. 7049 tentang Peringatan tentang fitnah setelah wafatnya Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ akan menjadi pendahulu umatnya di telaga Kautsar pada hari kiamat. Beliau akan menyambut umatnya yang datang, namun sebagian orang akan dijauhkan karena mereka mengubah dan menyimpang setelah wafatnya Nabi ﷺ. Ini adalah peringatan keras agar kita berpegang teguh pada sunnah dan menjauhi bid'ah serta penyimpangan dalam agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 208

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

QS. Ali 'Imran [3]: 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Terjemahan: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Fitnah, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam kitab shahihnya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab tentang orang-orang murtad dan ahli bid'ah yang meninggalkan agama setelah Nabi ﷺ wafat.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting. Pertama, Nabi ﷺ menyebut dirinya sebagai "farath" yaitu orang yang mendahului dan menunggu umatnya di telaga Kautsar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "farath" berarti orang yang pergi lebih dahulu untuk menyiapkan tempat dan menunggu orang-orang yang akan datang setelahnya.

Kedua, Nabi ﷺ akan mengenali sebagian umatnya dan ingin memberi mereka minum dari telaga tersebut. Namun mereka "diikhtilaju" yaitu ditarik dan dijauhkan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kata "ikhtilaj" berarti dirampas atau ditarik dengan paksa.

Ketiga, ketika Nabi ﷺ bertanya tentang keadaan mereka, Allah menjawab bahwa Nabi tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelah beliau wafat. Ini menunjukkan bahwa mereka mengubah agama, berbuat bid'ah, atau murtad.

Pemahaman ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud "ditarik jauh" dalam hadits ini. Sebagian ulama berpendapat mereka adalah orang-orang murtad. Sebagian lagi berpendapat mereka adalah ahli bid'ah yang mengubah agama namun masih mengaku Muslim.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menguatkan bahwa yang dimaksud adalah mereka yang murtad dan mengubah agama, berdasarkan riwayat lain yang menyebutkan "irtadda ba'daka" (mereka murtad setelahmu). Namun ada juga riwayat yang menyebutkan mereka adalah orang-orang yang berbuat bid'ah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya berpegang teguh pada sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi segala bentuk penyimpangan, karena penyimpangan itulah yang menyebabkan seseorang dijauhkan dari telaga Nabi ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa bid'ah dan penyimpangan adalah sebab terhalangnya seseorang dari telaga Nabi ﷺ. Beliau juga menekankan bahwa yang dimaksud "sahabat-sahabatku" dalam ucapan Nabi adalah orang-orang yang secara lahir tampak bersama Nabi, namun hakikatnya mereka telah menyimpang.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari sendiri dalam penamaan babnya mengaitkan hadits ini dengan fitnah dan peringatan terhadap kezaliman. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Al-Bukhari sengaja memasukkan hadits ini dalam kitab fitnah untuk menunjukkan bahwa fitnah dapat menyebabkan seseorang keluar dari jalan yang benar.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja tampak bersama Nabi ﷺ secara lahir, namun hakikatnya terputus darinya karena mengubah agama. Beliau menekankan bahwa yang menjadi ukuran adalah mengikuti sunnah, bukan hanya klaim atau penampilan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ yang mulia, meriwayatkan hadits ini dengan penuh perhatian. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling mengetahui Al-Qur'an. Ketika beliau menyampaikan hadits ini, beliau ingin mengingatkan umat agar tidak menyimpang setelah Nabi ﷺ wafat.

Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya menempatkan hadits ini dalam Kitab Fitnah, menunjukkan bahwa beliau ingin mengingatkan umat tentang bahaya fitnah yang dapat memisahkan seseorang dari Nabi ﷺ di akhirat. Imam Al-Bukhari sendiri dikenal sangat teliti dalam memilih hadits, dan beliau memasukkan hadits ini sebagai peringatan bagi umat Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpegang teguh pada sunnah Nabi ﷺ dalam ibadah dan muamalah, karena penyimpangan adalah sebab terhalangnya seseorang dari telaga Nabi ﷺ.
  2. Menjauhi bid'ah dalam agama, karena bid'ah adalah salah satu bentuk mengubah agama yang dapat menjauhkan seseorang dari Nabi ﷺ di akhirat.
  3. Memohon kepada Allah agar tetap istiqamah di atas jalan yang lurus hingga akhir hayat.
  4. Mempelajari agama dengan benar melalui Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  5. Berhati-hati terhadap fitnah yang dapat merusak agama, baik fitnah syubhat (keraguan) maupun fitnah syahwat (hawa nafsu).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?