Penjelasan Hadits Bukhari No. 7048 tentang Peringatan umat yang murtad kembali ke belakang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang keadaan Nabi ﷺ di telaga (al-haudh) pada hari kiamat. Beliau menunggu umatnya untuk memberi minum, namun ada sebagian orang yang dihalau dan dijauhkan dari telaga tersebut. Mereka adalah orang-orang yang setelah wafatnya Nabi ﷺ melakukan kemurtadan dan bid'ah, sehingga mereka berpaling dari sunnah. Hadits ini menjadi peringatan keras bagi kita untuk senantiasa istiqamah di atas ajaran Islam yang murni, dan berlindung kepada Allah dari berpaling ke belakang (murtad) atau terjerumus dalam fitnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Fitnah, Bab: "Dan Takutlah terhadap Fitnah yang Tidak Menimpa Orang-orang yang Zalim di Antara Kalian" (no. 7048), dari sahabat Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Anfal [8]: 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya."

Ayat Lain yang Terkait:

QS. Ali 'Imran [3]: 103

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "berpaling ke belakang" (massyau 'alal qahqari) dalam hadits ini adalah mereka yang murtad dari agama Islam setelah wafat Nabi ﷺ, atau mereka yang melakukan perbuatan bid'ah yang mengeluarkan mereka dari sunnah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Tentang Telaga (Al-Haudh) Nabi ﷺ

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa telaga Nabi ﷺ adalah salah satu hal gaib yang wajib diimani. Telaga ini memiliki air yang lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa meminum darinya sekali, ia tidak akan haus selamanya.

2. Makna "Diambil sebagian orang dari kalanganku"

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang-orang yang dihalau dari telaga ini adalah mereka yang murtad setelah wafat Nabi ﷺ. Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa mereka adalah pelaku dosa besar dan bid'ah yang tidak bertaubat.

3. Makna "Mereka berpaling ke belakang"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah kiasan bagi orang yang keluar dari agama Islam, baik secara total (murtad) maupun dengan melakukan perbuatan bid'ah yang merusak amal. Mereka berjalan menjauh dari telaga Nabi ﷺ karena mereka tidak lagi berada di atas jalannya.

4. Peringatan dari Fitnah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa fitnah yang disebutkan dalam QS. Al-Anfal: 25 adalah ujian yang apabila terjadi, tidak hanya menimpa orang yang zalim saja, tetapi bisa melanda orang-orang shalih juga jika mereka diam dan tidak mencegah kemungkaran. Ini menunjukkan pentingnya amar ma'ruf nahi mungkar.

5. Doa Perlindungan dari Ibn Abi Mulaika

Perkataan Ibn Abi Mulaika (seorang tabi'in terpercaya) yang berdoa: "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu agar tidak kembali ke belakang atau diuji" menunjukkan bahwa para salaf sangat takut terjerumus dalam fitnah dan kemurtadan. Ini mengajarkan kita untuk selalu berdoa memohon keteguhan hati.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, terjadi peristiwa riddah (kemurtadan) di kalangan sebagian orang Arab. Mereka murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, padahal sebelumnya mereka telah menyaksikan cahaya Islam.

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu bersikap tegas terhadap mereka. Beliau berkata dengan penuh keyakinan, "Demi Allah, jika mereka menolak memberiku seutas tali yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, sungguh aku akan memerangi mereka karena penolakan itu."

Peristiwa ini menunjukkan betapa bahayanya berpaling dari ajaran yang dibawa Nabi ﷺ. Para sahabat memahami bahwa mempertahankan kemurnian Islam lebih utama daripada sekadar mempertahankan nyawa atau harta. Mereka lebih memilih berjuang daripada membiarkan umat berpaling ke belakang.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita harus senantiasa menjaga kemurnian aqidah dan ibadah kita, serta tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang menyimpang dari sunnah, sekecil apa pun bentuknya.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani adanya telaga Nabi ﷺ sebagai bagian dari perkara gaib yang wajib diyakini.
  2. Jaga kemurnian Islam dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan tabi'in.
  3. Hindari perbuatan bid'ah karena dapat menjadi sebab dijauhkan dari telaga Nabi ﷺ pada hari kiamat.
  4. Perbanyak doa memohon keteguhan hati, sebagaimana doa yang diucapkan Ibn Abi Mulaika.
  5. Amar ma'ruf nahi mungkar agar kita tidak tertimpa fitnah yang melanda orang-orang yang zalim.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?