Penjelasan Hadits Bukhari No. 7046 tentang Tafsir mimpi tentang Islam, Al-Qur'an, dan kepemimpinan

Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 7046

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang lelaki yang datang kepada Nabi ﷺ menceritakan mimpinya, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu meminta izin untuk menakwilkannya. Nabi ﷺ membenarkan sebagian tafsir Abu Bakar dan menyalahkan sebagian lainnya, namun beliau tidak mau menjelaskan letak kesalahannya ketika Abu Bakar bersumpah. Pelajaran utamanya: mimpi bisa memiliki takwil, namun takwil mimpi bukanlah wahyu yang pasti benar, dan seorang mukmin hendaknya tidak memaksa-maksa gurunya dengan sumpah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari jalur Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan mimpi dan takwilnya, Allah ﷻ berfirman tentang Nabi Yusuf 'alaihissalam:

QS. Yusuf [12]: 6

لَا تَقُصُّ الرُّؤْيَا عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat tipu daya kepadamu. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia."

Makna ringkas: mimpi memiliki nilai dan takwil, sehingga perlu dijaga dan tidak diceritakan sembarangan.

QS. Al-Hajj [22]: 54

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتَخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (Al-Qur'an) itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya, dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus."

Penjelasan Rinci

1. Konteks hadits

Seorang lelaki menceritakan mimpinya kepada Nabi ﷺ:

  • Ada awan (ظُلَّة) yang meneteskan mentega dan madu.
  • Orang-orang mengumpulkannya dengan tangan, ada yang banyak dan ada yang sedikit.
  • Ada tali yang membentang dari bumi ke langit.
  • Nabi ﷺ memegang tali itu dan naik.
  • Kemudian orang kedua memegangnya dan naik.
  • Kemudian orang ketiga memegangnya dan naik.
  • Kemudian orang keempat memegangnya, tali itu putus lalu tersambung kembali.

2. Takwil Abu Bakar radhiyallahu 'anhu

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Abu Bakar menakwilkan:

  • Awan (ظُلَّة) = Islam, karena ia menaungi dan melindungi pemeluknya.
  • Mentega dan madu yang menetes = Al-Qur'an, karena manisnya dan kelezatannya bagi hati orang beriman.
  • Orang yang banyak/sedikit mengambil = orang yang banyak/sedikit mengambil bagian dari Al-Qur'an (ilmu dan amal).
  • Tali dari langit ke bumi = kebenaran (الحق) yang dipegang Nabi ﷺ, yang mengangkat derajat beliau.
  • Orang-orang yang memegang tali setelahnya = para khalifah setelah Nabi ﷺ.

3. Penilaian Nabi ﷺ

Nabi ﷺ bersabda: "أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا" — "Engkau benar sebagian dan salah sebagian."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa takwil mimpi bukanlah wahyu, sehingga bisa benar dan bisa salah. Yang benar dari takwil Abu Bakar adalah sebagian besar maknanya, sedangkan yang salah menurut para ulama — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar — adalah penentuan orang-orang tertentu yang memegang tali (yaitu para khalifah secara berurutan), karena takwil mimpi tidak boleh memastikan individu tertentu tanpa dalil.

4. Adab ketika Nabi ﷺ menolak menjelaskan

Ketika Abu Bakar bersumpah: "Demi Allah, engkau harus memberitahuku di mana aku salah," Nabi ﷺ menjawab: "لَا تُقْسِمْ" — "Jangan bersumpah."

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah adab Nabi ﷺ dalam mendidik: beliau tidak ingin memberatkan Abu Bakar dengan menjelaskan kesalahannya, dan beliau mengajarkan agar seorang murid tidak memaksa gurunya dengan sumpah. Ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ terhadap sahabatnya.

5. Perbedaan pendapat ulama daftar

Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam An-Nawawi sepakat bahwa takwil mimpi tidak bersifat pasti (qath'i), sehingga bisa mengandung benar dan salah. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lamul Muwaqqi'in menegaskan bahwa takwil mimpi adalah ijtihad, bukan wahyu, sehingga tidak boleh dijadikan hujah syar'i. Pendapat yang paling kuat adalah: takwil mimpi boleh dilakukan oleh orang berilmu, namun tidak boleh diyakini sebagai kebenaran mutlak, dan tidak boleh memastikan hal-hal gaib tanpa dalil.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang sahabat muda yang doanya diminta Nabi ﷺ agar Allah memberinya pemahaman dalam agama dan takwil Al-Qur'an. Beliau tumbuh menjadi salah satu ulama terbesar di kalangan sahabat, dan banyak meriwayatkan hadits tentang mimpi serta takwilnya. Az-Zuhri — guru dari banyak tabi'in — meriwayatkan hadits ini dari 'Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah, dari Ibnu 'Abbas. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan memahami hadits, tidak menambah dan tidak mengurangi.

Kesimpulan Praktis

  1. Mimpi bisa memiliki takwil, namun takwilnya tidak pasti benar — bisa benar dan bisa salah.
  2. Takwil mimpi adalah ijtihad, bukan wahyu, sehingga tidak boleh dijadikan dalil syar'i yang mengikat.
  3. Adab kepada guru: jangan memaksa guru dengan sumpah untuk menjelaskan sesuatu yang beliau tidak ingin jelaskan.
  4. Keutamaan Abu Bakar: beliau berani berijtihad dan Nabi ﷺ mengakui sebagian kebenarannya.
  5. Hendaknya seorang mukmin fokus pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber kebenaran yang pasti, bukan pada takwil mimpi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?