Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua hal: (1) keutamaan umat Nabi ﷺ yang datang terakhir namun menjadi yang terdepan pada Hari Kiamat, dan (2) mimpi Nabi ﷺ yang ditafsirkan sebagai isyarat lenyapnya dua pendusta besar yang mengaku nabi di masa beliau, yaitu Musailamah (Yamamah) dan Al-Aswad Al-'Ansi (Shan'a). Mimpi Nabi ﷺ adalah wahyu, dan penafsirannya beliau sendiri, sehingga kita menerimanya sebagai kabar yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 7037), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Hammam bin Munabbih.
Hadits lain yang semakna dan menguatkan bagian pertama, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
نَحْنُ الآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Kami adalah yang terakhir (di dunia) tetapi yang terdepan pada Hari Kiamat."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi rujukan umum tentang kebenaran mimpi para nabi dan bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah bagian dari wahyu, Allah berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
"Dan dia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan."
(QS. An-Najm [53]: 3–4)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa apa yang disampaikan Nabi ﷺ, termasuk berita-berita seperti ini, adalah wahyu dari Allah, bukan perkataan hawa nafsu.
Penjelasan Rinci
Pertama: "Kami adalah yang terakhir tetapi yang terdepan."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa umat Islam datang paling akhir dalam urutan zaman (setelah Yahudi dan Nasrani), namun mereka didahulukan masuk surga dan didahulukan hisabnya pada Hari Kiamat. Ini adalah keutamaan dari Allah, bukan karena usaha manusia semata, sehingga menuntut syukur dan amal, bukan berbangga diri.
Kedua: Mimpi dua gelang emas.
Nabi ﷺ melihat dalam mimpi beliau diberi harta karun bumi, lalu diletakkan dua gelang emas di tangan beliau. Gelang itu terasa berat dan mengganggu beliau. Lalu beliau diilhami untuk meniupnya, dan keduanya terbang lenyap. Nabi ﷺ sendiri menafsirkan bahwa kedua gelang itu adalah dua pendusta yang muncul di masa beliau: Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah dan Al-Aswad Al-'Ansi di Shan'a (Yaman).
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu dan penafsiran Nabi ﷺ atas mimpinya adalah penafsiran yang benar, bukan tebakan. Kedua pendusta itu memang muncul dan mengaku sebagai nabi, lalu Allah menghancurkan keduanya: Al-Aswad dibunuh di Yaman, dan Musailamah dibunuh dalam Perang Yamamah pada masa Abu Bakr رضي الله عنه. Lenyapnya kedua gelang dalam mimpi menjadi isyarat lenyapnya kedustaan mereka.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan kisah kedua pendusta ini sebagai bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ: beliau telah mengabarkan sebelumnya melalui mimpi, dan terjadinya persis seperti yang beliau tafsirkan.
Catatan penting tentang adab: Hadits ini mengajarkan bahwa mimpi yang benar bisa menjadi kabar gembira atau peringatan, tetapi penafsiran mimpi bukanlah ilmu yang bisa dimainkan sembarangan. Nabi ﷺ menafsirkan mimpinya sendiri karena beliau ma'shum (terjaga dari kesalahan). Kita tidak boleh meniru-niru menafsirkan mimpi orang lain tanpa ilmu.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Musailamah dari Yamamah datang kepada Nabi ﷺ bersama delegasi kaumnya, lalu ia mengaku sebagai nabi dan meminta agar Nabi ﷺ memberinya sebagian kekuasaan setelah beliau wafat. Nabi ﷺ menolaknya dengan tegas. Setelah Nabi ﷺ wafat, Musailamah memberontak dan memerangi kaum muslimin, hingga akhirnya dibunuh oleh Wahsyi bin Harb dalam Perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakr رضي الله عنه. Adapun Al-Aswad Al-'Ansi di Shan'a, ia juga mengaku nabi dan menguasai Yaman, lalu dibunuh oleh kaum muslimin di sana. Keduanya lenyap sebagaimana lenyapnya dua gelang dalam mimpi Nabi ﷺ. (Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad.)
Hikmahnya: kebatilan memang bisa muncul dan mengganggu, tetapi Allah menjanjikan akhir yang baik bagi kebenaran. Tugas kita adalah tetap teguh dan tidak tertipu oleh gemerlapnya kedustaan.
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa umat Islam adalah umat terakhir secara zaman namun terdepan secara keutamaan di akhirat; jadikan ini motivasi beramal, bukan kesombongan.
- Terima kabar-kabar Nabi ﷺ dalam hadits shahih sebagai kebenaran, termasuk berita tentang lenyapnya para pendusta.
- Jangan menafsirkan mimpi sembarangan; cukup ambil pelajaran dari mimpi yang ditafsirkan Nabi ﷺ sendiri.
- Waspadai segala bentuk kedustaan atas nama agama, dan teguhlah pada Al-Qur'an dan sunnah dengan pemahaman para ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.