Penjelasan Hadits Bukhari No. 7000 tentang Mimpi sebagai bagian dari wahyu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, bab tentang mimpi di malam hari. Intinya, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ menceritakan mimpinya, lalu Nabi ﷺ menjelaskannya. Hadits ini menunjukkan bahwa mimpi bisa memiliki makna dan perlu ditafsirkan dengan ilmu, bukan sekadar ditebak. Imam Al-Bukhari juga menyebutkan beberapa jalur periwayatan lain untuk memperkuat bahwa hadits ini bersumber dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, Bab Mimpi di Malam Hari (no. 7000). Perawi sahabatnya adalah Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dan dalam sebagian jalur juga disebut Abu Hurairah رضي الله عنه.

Terkait mimpi, terdapat ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kisah Nabi Yusuf عليه السلام:

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ

QS. Yusuf [12]: 43

"Dan raja berkata: 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau serta tujuh tangkai gandum yang kering. Hai para pembesar, terangkanlah kepadaku tentang mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.'"

Hadits lain yang sangat terkait, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ، وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ

HR. Al-Bukhari dan Muslim

"Rukya (mimpi yang baik) berasal dari Allah, sedangkan hulm (mimpi buruk) berasal dari setan."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Imam Al-Bukhari sengaja menyebutkan berbagai jalur periwayatan hadits ini untuk menunjukkan kuatnya sumber hadits, meskipun sebagian jalur ada yang menyebut Ibnu Abbas dan sebagian menyebut Abu Hurairah. Menurut Ibnu Hajar, perbedaan ini tidak melemahkan hadits karena keduanya adalah sahabat yang tsiqah (terpercaya).

Penjelasan Rinci

Hadits ini secara ringkas menceritakan seorang laki-laki yang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Aku melihat dalam mimpi malam tadi..." Lalu Ibnu Abbas menyebutkan kelanjutan riwayat tersebut. Imam Al-Bukhari dalam bab ini tidak menyebutkan teks lengkap mimpinya, tetapi menyebutkan jalur-jalur periwayatannya.

Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Ketika beliau menyebutkan beberapa jalur periwayatan (dari Sulaiman bin Katsir, Ibnu Akhi Az-Zuhri, Sufyan bin Husain, Az-Zubaidi, Syu'aib, Ishaq bin Yahya, dan Ma'mar), ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat) sehingga derajatnya kuat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:

  1. Mimpi bisa menjadi sumber pelajaran — Nabi ﷺ tidak mengabaikan orang yang menceritakan mimpinya, tetapi beliau mendengarkan dan menjelaskannya.
  2. Perbedaan jalur periwayatan tidak selalu berarti pertentangan — dalam ilmu hadits, jika seorang perawi menyebut Ibnu Abbas dan yang lain menyebut Abu Hurairah, maka bisa jadi keduanya benar-benar mendengar hadits ini, atau salah satu jalur lebih kuat. Imam Al-Bukhari dengan metode ilmiahnya menyebutkan semuanya agar pembaca mengetahui keadaan sebenarnya.
  3. Pentingnya sanad (rantai periwayatan) — perhatikan bagaimana Imam Al-Bukhari menyebutkan nama-nama perawi secara lengkap: Yahya, Al-Layts, Yunus, Ibnu Syihab (Az-Zuhri), Ubaidullah bin Abdullah, Ibnu Abbas. Ini menunjukkan betapa seriusnya ulama hadits dalam menjaga keaslian riwayat.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi yang benar (ru'ya shalihah) adalah bagian dari kenabian yang tersisa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

HR. Al-Bukhari dan Muslim

"Mimpi yang baik adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian."

Namun, Ibnu Hajar juga mengingatkan bahwa tidak semua mimpi perlu ditafsirkan, dan tidak semua orang boleh menafsirkan mimpi. Menafsirkan mimpi memerlukan ilmu yang dalam, sebagaimana Nabi Yusuf عليه السلام yang diberi ilmu takwil mimpi oleh Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan membagi mimpi menjadi tiga jenis:

  1. Ru'ya shalihah — mimpi baik dari Allah, sebagai kabar gembira atau peringatan.
  2. Hulm — mimpi buruk dari setan, yang harus diabaikan dan tidak diceritakan.
  3. Haditsun nafs — mimpi yang berasal dari pikiran dan keinginan sendiri, tidak memiliki makna khusus.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ibnu Abbas رضي الله عنهما, sepupu Nabi ﷺ dan ahli tafsir terkemuka, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang mimpi. Beliau dikenal sebagai Turjumanul Qur'an (juru bicara Al-Qur'an) karena kedalaman ilmunya.

Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan mimpinya. Nabi ﷺ mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menjelaskan maknanya. Ibnu Abbas yang mendengar hal ini menyimpannya dengan baik dan meriwayatkannya kepada murid-muridnya, termasuk Ubaidullah bin Abdullah dan Az-Zuhri.

Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri), salah satu tabi'in terkemuka dalam daftar ulama, adalah perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas. Beliau dikenal sebagai penghimpun hadits yang sangat teliti, dan Imam Al-Bukhari banyak meriwayatkan dari jalurnya.

Hikmahnya: menjaga ilmu dengan sanad yang jelas adalah cara para ulama menjaga kemurnian ajaran Nabi ﷺ. Sebagaimana kata Abdullah bin al-Mubarak:

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، لَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

"Isnad (rantai periwayatan) adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena isnad, siapa pun bisa berkata apa saja yang dia kehendaki."

Kesimpulan Praktis

  1. Mimpi yang baik adalah kabar gembira dari Allah — syukuri dan jangan sombong, karena itu bukan prestasi kita.
  2. Jangan menceritakan mimpi buruk — abaikan dan jangan cari-cari tafsirnya, karena itu dari setan.
  3. Jangan menafsirkan mimpi tanpa ilmu — tanyakan kepada orang yang berilmu, atau cukup diamkan jika tidak ada manfaat.
  4. Hargai ilmu sanad — sebagaimana Imam Al-Bukhari menjaga periwayatan dengan teliti, kita juga harus berhati-hati dalam menerima informasi agama, pastikan sumbernya jelas.
  5. Mimpi bukan sumber hukum — mimpi tidak bisa dijadikan dalil untuk menetapkan ibadah atau keyakinan. Sumber hukum kita adalah Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?