Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6997 tentang Mimpi melihat Nabi adalah benar, setan tak bisa menyerupainya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar dan nyata, bukan tipuan setan. Setan tidak mampu menyerupai bentuk Nabi ﷺ dalam mimpi. Maka, siapa yang melihat beliau dalam mimpi, berarti ia benar-benar melihat beliau. Namun, mimpi ini tidak bisa dijadikan sumber hukum atau dalil syariat, karena wahyu telah sempurna dengan wafatnya beliau ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي ابْنُ الْهَادِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ خَبَّابٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: "مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَكَوَّنُنِي"

Terjemahan: Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa melihatku (dalam mimpi), maka sungguh ia telah melihat kebenaran, karena setan tidak dapat menyerupai bentukku."

Hadits penguat dari riwayat lain:

Dalam Shahih Al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي"

"Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga, dan setan tidak dapat menyerupakan dirinya denganku." (HR. Al-Bukhari, no. 6993)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir karena berkaitan dengan firman Allah tentang mimpi dan kebenarannya.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang makna hadits ini, termasuk bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah benar dan setan tidak bisa menyerupainya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits semakna dan menegaskan bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah haq (benar).

Penjelasan Rinci

Makna "Melihat Kebenaran" (رَأَى الْحَقَّ)

Para ulama menjelaskan bahwa maksud "melihat kebenaran" dalam hadits ini adalah bahwa mimpi tersebut benar-benar terjadi, bukan sekadar khayalan atau tipuan setan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna ini:

  1. Pendapat pertama: Mimpi melihat Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar dan nyata, karena setan tidak bisa menyerupai beliau. Ini adalah pendapat jumhur ulama.
  2. Pendapat kedua: Maknanya adalah orang itu akan melihat kebenaran di dunia dan akhirat, atau akan diberi petunjuk kepada kebenaran.

Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya, termasuk dalam rujukan umum) menegaskan bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah benar, dan ini merupakan karomah (kemuliaan) dari Allah bagi orang yang melihatnya.

Mengapa Setan Tidak Bisa Menyerupai Nabi ﷺ?

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ, sebagaimana Allah juga melindungi beliau dari gangguan setan saat beliau menyampaikan wahyu. Ini adalah bentuk penjagaan Allah terhadap kemuliaan Nabi-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keistimewaan Nabi ﷺ, bahwa setan tidak mampu menyerupai bentuk beliau dalam mimpi, berbeda dengan manusia biasa yang bisa ditiru oleh setan dalam mimpi.

Apakah Mimpi Melihat Nabi ﷺ Bisa Menjadi Dalil Hukum?

Ini adalah poin penting yang harus dipahami. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa meskipun mimpi melihat Nabi ﷺ adalah benar, namun tidak boleh dijadikan sumber hukum syariat. Alasannya:

  1. Wahyu telah sempurna dengan wafatnya Nabi ﷺ.
  2. Mimpi bukanlah hujjah (dalil) dalam menetapkan hukum syariat.
  3. Orang yang bermimpi melihat Nabi ﷺ tidak bisa memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah perintah atau larangan yang mengikat.

Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal memiliki pendapat bahwa jika seseorang bermimpi melihat Nabi ﷺ dan Nabi memerintahkannya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat yang sudah tetap, maka mimpi itu tidak bisa diterima. Namun jika mimpi itu sesuai dengan syariat, maka itu hanya sebagai kabar gembira dan penguat, bukan sumber hukum baru.

Syaikh Al-Albani juga menegaskan bahwa mimpi tidak bisa menetapkan hukum syariat, karena hukum syariat hanya dari Al-Qur'an dan hadits shahih.

Hikmah dan Pelajaran dari Hadits Ini

  1. Kemuliaan Nabi ﷺ: Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah, sampai-sampai setan tidak diberi kemampuan untuk menyerupai beliau.
  2. Kebenaran mimpi orang beriman: Mimpi orang beriman adalah bagian dari kenabian, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Mimpi orang beriman adalah satu dari 46 bagian kenabian." (HR. Al-Bukhari)
  3. Bukan sumber hukum: Mimpi melihat Nabi ﷺ tidak bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum baru atau membatalkan hukum yang sudah ada.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang bermimpi melihat Nabi ﷺ dan Nabi memerintahkannya melakukan sesuatu. Imam Ahmad menjawab: "Jika perintah itu sesuai dengan sunnah, maka ia boleh mengamalkannya. Jika bertentangan dengan sunnah, maka mimpi itu tidak bisa diterima, karena setan bisa menyerupai manusia biasa, dan tidak ada jaminan bahwa yang dilihatnya benar-benar Nabi ﷺ."

Kisah ini menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam menyikapi mimpi, meskipun hadits ini menyatakan bahwa setan tidak bisa menyerupai Nabi ﷺ. Namun para ulama tetap berhati-hati karena orang yang bermimpi bisa saja keliru dalam menafsirkan atau mengingat mimpinya.

Imam Ibnu Hajar juga menceritakan bahwa sebagian ulama salaf sangat berhati-hati dalam menceritakan mimpi mereka melihat Nabi ﷺ, karena takut salah dalam menggambarkan atau menceritakan. Ini menunjukkan adab dan kehati-hatian mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar dan merupakan kabar gembira bagi yang melihatnya.
  2. Jangan jadikan mimpi sebagai sumber hukum syariat, karena syariat telah sempurna dengan Al-Qur'an dan hadits shahih.
  3. Jika bermimpi melihat Nabi ﷺ, maka bersyukurlah dan perbanyaklah shalawat kepada beliau.
  4. Jika ada orang mengaku mendapat perintah dari Nabi ﷺ dalam mimpi yang bertentangan dengan syariat, maka tolaklah, karena itu bukan dari Nabi ﷺ.
  5. Perbanyaklah mengingat Nabi ﷺ dengan mempelajari sirah dan sunnahnya, karena orang yang banyak mengingat beliau akan lebih mungkin bermimpi melihat beliau.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.