Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6993 tentang Mimpi melihat Nabi ﷺ adalah benar dan setan tidak bisa menyerupainya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang melihat Nabi ﷺ dalam mimpi dengan bentuk asli beliau, maka ia akan mendapatkan kemuliaan bertemu beliau di alam nyata, baik di dunia maupun di akhirat. Hadits ini juga menegaskan bahwa setan tidak mampu menyerupai bentuk Nabi ﷺ, sehingga mimpi melihat beliau adalah mimpi yang benar dan bukan tipuan setan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

(QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Siapa yang Melihat Nabi ﷺ dalam Mimpi, nomor 6993. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

"Siapa yang melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan terjaga, dan setan tidak dapat meniru bentukku."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan perkataan Muhammad bin Sirin (seorang tabi'in besar) yang mengatakan: "Hanya jika dia melihat Nabi ﷺ dalam bentuknya (yang sebenarnya)." Ini menunjukkan bahwa syarat mimpi tersebut benar adalah melihat Nabi ﷺ dengan sifat dan rupa yang sesuai dengan deskripsi beliau yang shahih.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari kalangan tabi'in dan ulama setelahnya:

1. Makna "Melihat Nabi dalam Mimpi"

Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin rahimahumallah menjelaskan bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar dan bukan tipuan setan. Hal ini karena Allah telah melindungi Nabi ﷺ dari peniruan setan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah melihatku, karena setan tidak bisa menyerupaiku." (HR. Muslim)

2. Makna "Maka Dia Akan Melihatku dalam Keadaan Terjaga"

Para ulama berbeda pendapat tentang makna ini:

  • Pendapat pertama: Ini berlaku bagi orang yang hidup di zaman Nabi ﷺ, yaitu mereka yang melihat beliau dalam mimpi akan bertemu beliau secara nyata di dunia. Ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Al-Khattabi dan dinukil oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.
  • Pendapat kedua: Maknanya adalah bahwa mimpi tersebut akan terbukti kebenarannya di akhirat, yaitu orang yang melihat Nabi ﷺ dalam mimpi akan mendapatkan syafaat dan pertemuan dengan beliau di surga. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.
  • Pendapat ketiga: Maknanya adalah bahwa orang yang melihat Nabi ﷺ dalam mimpi dengan bentuk asli beliau, maka mimpinya itu benar dan bukan khayalan. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Sirin: "Jika dia melihatnya dalam bentuknya (yang sebenarnya)."

3. Syarat Mimpi yang Benar

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ dianggap benar jika:

  • Orang yang bermimpi melihat beliau dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat beliau yang shahih (tidak cacat, tidak terlalu tinggi atau pendek, berjanggut hitam, dll.)
  • Mimpi tersebut tidak bertentangan dengan syariat
  • Orang yang bermimpi adalah seorang muslim yang jujur dan baik agamanya

4. Hikmah Hadits

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang mencintai Nabi ﷺ. Barangsiapa yang sangat merindukan beliau, Allah akan mempertemukannya dalam mimpi. Dan ini adalah karunia yang besar.

Story Telling

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau adalah seorang tabi'in yang sangat ahli dalam menafsirkan mimpi. Suatu ketika, ada seseorang yang datang kepadanya dan berkata, "Aku bermimpi melihat Nabi ﷺ." Maka Ibn Sirin bertanya, "Ceritakan kepadaku bagaimana bentuk yang engkau lihat." Orang itu pun menceritakan, dan ternyata ada keanehan dalam sifat yang disebutkan. Maka Ibn Sirin berkata, "Engkau tidak melihat Nabi ﷺ. Karena setan tidak bisa menyerupai beliau, tetapi ia bisa menyerupai orang lain. Maka jika engkau melihat seseorang yang mirip dengan sifat Nabi ﷺ, itulah beliau."

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya mengetahui sifat-sifat Nabi ﷺ agar kita bisa membedakan mimpi yang benar dari yang palsu. Oleh karena itu, para ulama sangat menganjurkan untuk mempelajari sirah (sejarah hidup) dan sifat-sifat Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa mimpi melihat Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar jika sesuai dengan sifat-sifat beliau yang shahih.
  2. Pelajarilah sifat-sifat Nabi ﷺ melalui kitab-kitab sirah dan syama'il agar bisa mengenali beliau dalam mimpi.
  3. Jangan mudah percaya pada mimpi yang mengaku melihat Nabi ﷺ tetapi bertentangan dengan syariat atau menggambarkan beliau dengan sifat yang tidak sesuai.
  4. Perbanyaklah shalawat kepada Nabi ﷺ karena itu adalah sebab untuk mendapatkan cinta dan pertemuan dengan beliau.
  5. Jangan menceritakan mimpi buruk dan jangan terlalu memikirkan mimpi yang tidak jelas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.