Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6992 tentang Bab Ru'ya Ahl Al-Sujun

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan sikap tawadhu’ dan kejujuran Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bersabda bahwa jika beliau berada dalam penjara selama Nabi Yusuf ‘alaihis salam tinggal, lalu datang panggilan untuk keluar, beliau akan segera memenuhinya. Ini bukan celaan terhadap Nabi Yusuf, melainkan penjelasan tentang perbedaan kondisi dan pelajaran tentang adab terhadap panggilan penguasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an terkait (Kisah Yusuf ‘alaihis salam):

  1. QS. Yusuf [12]: 42

وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ أَنَّهُۥ نَاجٍ مِّنْهُمَا ٱذْكُرْنِى عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيْطَٰنُ ذِكْرَ رَبِّهِۦ فَلَبِثَ فِى ٱلسِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

Artinya: “Dan Yusuf berkata kepada orang yang ia ketahui akan selamat di antara keduanya: ‘Sebutkanlah aku kepada tuanmu.’ Maka setan melupakannya untuk menyebutkan (Yusuf) kepada tuannya, sehingga Yusuf tetap tinggal di penjara beberapa tahun lamanya.”

  1. QS. Yusuf [12]: 50

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُ ٱلرَّسُولُ قَالَ ٱرْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَسْـَٔلْهُ مَا بَالُ ٱلنِّسْوَةِ ٱلَّـٰتِى قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّى بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

Artinya: “Raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku.’ Maka ketika utusan datang kepadanya, Yusuf berkata: ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana hal wanita-wanita yang melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.’”

Hadits yang dimaksud:

Shahih al-Bukhari, Kitab Tafsir, Bab Ru'ya Ahl al-Sujun, no. 6992. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ، ثُمَّ أَتَانِي الدَّاعِي لأَجَبْتُهُ

“Seandainya aku tinggal di penjara selama Yusuf tinggal, kemudian datang kepadaku utusan (yang memanggil), niscaya aku akan memenuhi panggilannya.”

Rujukan ulama daftar:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (kitab syarah Shahih al-Bukhari) membahas hadits ini di jilid 8, halaman 399 (cet. Dar al-Hadits). Beliau menjelaskan makna dan kaitannya dengan kisah Yusuf.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (meski hadits ini di Bukhari, an-Nawawi juga membahas kisah serupa dalam Shahih Muslim) menerangkan adab menjawab panggilan.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (QS. Yusuf: 42, 50) mengupas alasan Yusuf menunda keluar dari penjara.
  • Al-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) dan Sa’id bin al-Musayyib adalah perawi dalam sanad hadits ini, keduanya termasuk tabi’in terpercaya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini membandingkan sikap Nabi Yusuf ‘alaihis salam dengan sikap Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi panggilan keluar dari penjara.

1. Konteks kisah Yusuf:

Allah mengisahkan bahwa Yusuf dipenjara setelah difitnah oleh Zulaikha. Setelah beberapa waktu, raja bermimpi dan memanggil para ahli tafsir, lalu mereka tidak mampu menafsirkan. Kemudian seorang mantan pelayan yang pernah bersama Yusuf di penjara mengingat keahlian Yusuf. Raja mengutus orang untuk memanggil Yusuf. Namun Yusuf berkata: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan tentang wanita-wanita yang melukai tangan mereka” (QS. Yusuf: 50). Ia ingin terlebih dahulu membersihkan nama baiknya di hadapan publik agar ia keluar bukan sebagai terhukum, melainkan sebagai orang yang terbukti tidak bersalah.

2. Makna sabda Nabi ﷺ:

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath al-Bari: “Nabi ﷺ bersabda demikian untuk menunjukkan bahwa beliau tidak menuntut agar dirinya dibebaskan dengan syarat tertentu, tidak pula menunda-nunda panggilan pemimpin. Ini adalah bentuk ketawadhu’an dan keinginan untuk segera mematuhi perintah yang hak. Bukan berarti celaan terhadap Yusuf, karena Yusuf melakukannya atas dasar pertimbangan syar’i dan kehati-hatian dalam perkara yang menyangkut kehormatan dan kebenaran.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tindakan Yusuf adalah sikap wara’ dan cinta kepada keadilan, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ memilih sikap yang lebih utama dalam konteks beliau, yaitu tidak menunda-nunda karena beliau adalah nabi yang diutus untuk menegakkan kebenaran tanpa perlu khawatir terhadap fitnah pribadi.

3. Pelajaran adab:

Ulama seperti Sa’id bin al-Musayyib diriwayatkan dalam hadits ini melalui sanadnya menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya memenuhi panggilan pemimpin atau siapa pun yang berhak memanggilnya, kecuali jika ada maslahat syar’i yang jelas untuk menunda. Namun dalam kondisi biasa, menyegerakan panggilan adalah sunnah.

4. Catatan penting:

Hadits ini tidak boleh dipahami sebagai celaan kepada Nabi Yusuf. Allah sendiri memuji Yusuf sebagai ṣiddīq (sangat jujur) dan mukhlaṣ (terpilih). Yusuf memilih menunda untuk menegakkan keadilan, sedangkan Nabi kita memilih untuk segera mematuhi panggilan sebagai bentuk kesederhanaan dan tidak ingin terlihat sombong.

Story Telling (Opsional)

Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu memanggil seorang sahabat. Sahabat itu terlambat datang karena sedang mengurus urusan penting. Umar berkata, “Mengapa engkau lambat?” Sahabat itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku sedang dalam suatu keperluan.” Umar tersenyum dan berkata, “Sungguh jika engkau menunda panggilanku tanpa alasan, maka itu tidak baik. Namun panggilan Allah dan Rasul-Nya lebih utama untuk disegerakan.” Kisah ini mengingatkan kita bahwa adab dalam memenuhi panggilan adalah cerminan penghormatan dan kepatuhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera memenuhi panggilan yang hak, terutama dari pemimpin yang adil atau orang tua, selama tidak melanggar syariat.
  2. Jangan menunda-nunda dengan alasan yang tidak syar’i, kecuali jika ada kebutuhan untuk menjelaskan kebenaran seperti yang dilakukan Yusuf.
  3. Tawadhu’ dalam menerima panggilan, jangan merasa tinggi hati atau merendahkan orang yang memanggil.
  4. Meneladani dua nabi dalam kebaikan: Yusuf dalam kehati-hatian menjaga kehormatan, dan Muhammad dalam kesederhanaan serta kejujuran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.