Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, wahyu dan kenabian telah berakhir. Namun, Allah ﷻ masih memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman melalui mimpi yang baik dan benar (ru'yah shalihah). Mimpi ini bukanlah wahyu baru, melainkan bagian dari berita gembira yang disampaikan Allah kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya, sebagai penguat iman dan kabar baik di tengah umat yang telah ditinggal nabinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
> "لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتُ"
>
> "Tidak ada yang tersisa dari kenabian kecuali Al-Mubashshirat."
>
> Para sahabat bertanya, "Apa itu Al-Mubashshirat?" Beliau menjawab, "Ar-Ru'yash Shalihah (mimpi yang baik)."
(HR. Al-Bukhari, Kitab At-Ta'bir, Bab Al-Mubashshirat, no. 6990)
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
>
> "Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."
>
> (QS. Yunus [10]: 64)
Penjelasan Ulama tentang Ayat Ini:
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kabar gembira di dunia ini adalah mimpi-mimpi baik yang dilihat oleh orang mukmin, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Beliau merujuk pada hadits yang sedang kita bahas ini dan hadits-hadits lain yang semakna.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan sangat indah:
1. Makna "Tidak ada yang tersisa dari kenabian"
Imam Al-Qurthubi dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kenabian telah berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Tidak ada lagi nabi setelah beliau. Namun, Allah meninggalkan sisa-sisa peninggalan kenabian berupa kabar gembira, yaitu mimpi yang baik.
2. Mimpi yang baik adalah bagian dari kenabian
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi yang baik adalah salah satu dari 46 bagian kenabian. Ini bukan berarti mimpi itu wahyu, tetapi ia adalah pemberitahuan dari Allah kepada hamba-Nya yang shalih sebagai kabar gembira. Mimpi ini menjadi penguat iman dan penghibur hati.
3. Syarat mimpi yang baik
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa mimpi yang baik (ru'yah shalihah) adalah mimpi yang:
- Dilihat oleh orang yang shalih atau orang yang jujur
- Isinya sesuai dengan syariat dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah
- Membawa kabar gembira atau peringatan yang bermanfaat
4. Mimpi bukanlah sumber hukum
Penting untuk dipahami bahwa mimpi yang baik bukanlah sumber hukum syariat. Ia hanya kabar gembira. Syeikh Al-Albani rahimahullah menegaskan bahwa tidak boleh menjadikan mimpi sebagai dalil hukum atau dasar penetapan ibadah. Hukum hanya diambil dari Al-Qur'an dan Hadits yang shahih.
5. Mimpi para nabi adalah wahyu, sedangkan mimpi umat adalah kabar gembira
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan perbedaan ini dengan sangat baik. Mimpi para nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, sedangkan mimpi umat Islam hanyalah kabar gembira yang tidak bisa dijadikan dalil hukum.
6. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim
Imam Muslim meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz:
> "إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ، وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا"
>
> "Apabila zaman telah dekat (kiamat), mimpi seorang muslim hampir tidak pernah bohong. Dan orang yang paling jujur mimpinya adalah orang yang paling jujur perkataannya."
>
> (HR. Muslim no. 2263)
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang mimpi yang baik ini. Diriwayatkan bahwa suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan berkata, "Wahai Imam, aku bermimpi melihat Allah dalam mimpiku." Maka Imam Ahmad menjawab dengan bijak, "Engkau telah melihat dalam tidurmu apa yang menggembirakanmu. Mimpi orang mukmin adalah kabar gembira dari Allah. Namun ingatlah, jangan jadikan mimpimu itu sebagai dalil untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan syariat."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa mimpi yang baik adalah karunia Allah, tetapi kita harus tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber hukum utama.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah jika Allah memberikan mimpi yang baik dan menenangkan hati. Itu adalah kabar gembira dari Allah.
- Jangan menjadikan mimpi sebagai sumber hukum atau dasar penetapan ibadah. Hukum hanya dari Al-Qur'an dan Hadits shahih.
- Jangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain secara berlebihan, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukannya.
- Perbanyak amal shalih dan kejujuran, karena orang yang paling jujur mimpinya adalah orang yang paling jujur perkataannya.
- Jika bermimpi sesuatu yang baik, ceritakanlah kepada orang yang mencintaimu dan yang dapat memberikan nasihat baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.