Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa mimpi ada dua macam: mimpi baik yang berasal dari Allah sebagai kabar gembira, dan mimpi buruk yang berasal dari setan untuk menakut-nakuti. Sikap yang benar adalah bersyukur dan memuji Allah atas mimpi baik, serta berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi dan tidak menceritakannya kepada orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Mimpi dari Allah", no. 6984, dari sahabat Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ـ هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ ـ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا قَتَادَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ، وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ"
Makna ringkas: "Mimpi (yang baik) dari Allah, dan mimpi (yang buruk) dari setan."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan lafaz lengkapnya dalam riwayat lain menyebutkan bimbingan Nabi ﷺ: "Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang ia sukai, maka itu dari Allah, hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya. Dan jika ia bermimpi yang tidak ia sukai, maka itu dari setan, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada seorang pun, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya." (HR. Al-Bukhari no. 6984 dan Muslim no. 2261)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa mimpi terbagi menjadi tiga macam sebagaimana disebutkan dalam hadits lain: (1) mimpi baik dari Allah sebagai kabar gembira, (2) mimpi buruk yang berasal dari setan untuk membuat sedih dan takut, dan (3) mimpi yang berasal dari bisikan hati/angan-angan seseorang.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata ar-ru'ya dalam hadits ini bermakna mimpi yang baik, sedangkan al-hulum bermakna mimpi buruk. Ini adalah pembagian umum yang disebutkan Nabi ﷺ, dan bukan berarti semua mimpi baik pasti dari Allah secara langsung tanpa sebab, tetapi secara umum mimpi baik adalah karunia Allah, dan mimpi buruk adalah gangguan setan.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa mimpi baik adalah bagian dari kenabian, sebagaimana dalam hadits lain disebutkan bahwa mimpi baik adalah salah satu dari 46 bagian kenabian. Beliau juga menjelaskan bahwa setan tidak mampu menyerupai bentuk Nabi ﷺ dalam mimpi, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan hikmah mengapa mimpi buruk dinisbatkan kepada setan: karena setan ingin menyusahkan anak Adam dan menakut-nakutinya. Maka syariat memberikan obatnya, yaitu berlindung kepada Allah, meludah ke kiri tiga kali, dan tidak menceritakannya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menekankan bahwa mimpi baik hendaknya disyukuri dan diceritakan kepada orang yang dicintai, sedangkan mimpi buruk hendaknya dirahasiakan dan tidak diceritakan, karena menceritakannya justru akan membuat setan semakin senang dan mimpi itu bisa memberikan efek negatif.
Adab ketika bermimpi buruk menurut hadits-hadits shahih:
- Berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi dan keburukan setan.
- Meludah ke arah kiri tiga kali (ludah ringan tanpa kotoran).
- Tidak menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun.
- Berpindah posisi tidur jika ingin tidur kembali.
- Berwudhu dan shalat jika mimpi buruk itu mengganggu.
Adab ketika bermimpi baik:
- Memuji Allah atas mimpi tersebut.
- Menceritakannya kepada orang yang dicintai dan dipercaya.
- Tidak menceritakannya kepada orang yang tidak disukai atau orang yang dengki.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin (ulama tabi'in yang sangat ahli dalam ta'bir mimpi) pernah ditanya tentang mimpi. Beliau berkata: "Sesungguhnya mimpi itu ada tiga: mimpi dari Allah sebagai kabar gembira, mimpi dari setan untuk menakut-nakuti, dan mimpi dari bisikan jiwa seseorang." Kemudian beliau menasihati: "Jika kalian bermimpi sesuatu yang tidak kalian sukai, janganlah kalian menceritakannya dan jangan pula kalian tafsirkan, karena mimpi itu berjalan di atas kaki burung (tidak tetap) selama belum diceritakan."
Kisah ini menunjukkan pemahaman para salaf yang sangat mendalam tentang hadits ini, bahwa mimpi buruk tidak perlu dipusingkan dan tidak perlu diceritakan, karena menceritakannya justru akan membuat hati gelisah dan membuka peluang bagi setan untuk terus mengganggu.
Kesimpulan Praktis
- Kenali jenis mimpimu: Mimpi baik adalah dari Allah, mimpi buruk dari setan.
- Sikapi mimpi baik dengan memuji Allah dan menceritakannya kepada orang yang kita cintai dan percaya.
- Sikapi mimpi buruk dengan berlindung kepada Allah, meludah ke kiri tiga kali, dan tidak menceritakannya.
- Jangan mencari-cari tafsir untuk mimpi buruk, karena itu hanya akan menambah kegelisahan.
- Jadikan mimpi baik sebagai motivasi untuk beramal saleh, bukan sebagai sumber kesombongan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.