Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6983 tentang Mimpi baik orang saleh bagian dari kenabian

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa mimpi baik yang dialami oleh orang saleh merupakan bagian dari kenabian, tepatnya satu dari empat puluh enam bagian. Ini menunjukkan bahwa mimpi baik adalah kabar gembira dari Allah dan termasuk salah satu sisa dari wahyu kenabian setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Namun mimpi ini tidak bisa dijadikan sumber hukum atau keyakinan, melainkan sekadar kabar gembira yang perlu disikapi dengan bijak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, Bab Mimpi Orang Saleh, no. 6983
  • Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya

Teks Hadits:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ"

Terjemahan: "Mimpi yang baik dari seorang laki-laki yang saleh adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian."

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (12/361) menjelaskan bahwa maksud "bagian dari kenabian" adalah bahwa mimpi baik merupakan salah satu bentuk kabar gembira yang dulu diberikan kepada para nabi melalui wahyu, dan sekarang diberikan kepada umat ini melalui mimpi yang benar.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/23) mengatakan bahwa mimpi baik adalah bagian dari mukjizat kenabian yang masih tersisa, dan ini merupakan karunia khusus bagi orang-orang saleh.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits:

Hadits ini menunjukkan keutamaan mimpi yang baik, terutama yang dialami oleh orang saleh. Yang dimaksud "bagian dari kenabian" bukan berarti orang yang bermimpi menjadi nabi, tetapi bahwa mimpi baik merupakan salah satu sisa dari wahyu kenabian. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, para nabi dulu menerima wahyu dalam bentuk mimpi yang jelas, dan setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat, tidak ada lagi wahyu, namun mimpi baik tetap ada sebagai kabar gembira bagi orang beriman.

Penjelasan Angka 46:

Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa angka ini menunjukkan bahwa masa kenabian secara keseluruhan terdiri dari 46 bagian, dan mimpi baik hanyalah satu bagian darinya. Ada beberapa pendapat tentang maksud angka ini:

  1. Bahwa wahyu turun kepada Nabi ﷺ dalam 46 bentuk, dan mimpi adalah salah satunya
  2. Bahwa masa kenabian secara total adalah 46 tahun (23 tahun sebelum hijrah dan 23 tahun sesudahnya), dan mimpi baik adalah satu bagian dari masa itu

Syarat Mimpi Baik:

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Mimpi orang mukmin adalah bagian dari kenabian, selama ia tidak menceritakannya kepada orang yang tidak tepat." Ini menunjukkan bahwa mimpi baik perlu dijaga dan tidak diceritakan sembarangan.

Peringatan Ulama:

Ibnu Sirin rahimahullah, seorang ahli tafsir mimpi terkenal dari kalangan tabi'in, sangat hati-hati dalam menafsirkan mimpi. Beliau tidak langsung menerima setiap mimpi sebagai kebenaran, tetapi memeriksa kondisi orang yang bermimpi dan kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa mimpi tidak bisa dijadikan dasar hukum syariat. Mimpi baik hanya sebagai kabar gembira, bukan sumber penetapan halal-haram atau kewajiban.

Story Telling

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau adalah seorang tabi'in yang sangat ahli dalam menafsirkan mimpi. Suatu hari ada seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, "Aku bermimpi melihat burung terbang di atas kepalaku." Ibnu Sirin menjawab, "Engkau akan mendapatkan kebaikan, insya Allah." Laki-laki itu pergi dengan senang.

Kemudian datang laki-laki lain dengan mimpi yang sama persis. Ibnu Sirin berkata, "Engkau akan mendapatkan musibah." Orang-orang heran dan bertanya, "Wahai Ibnu Sirin, mengapa engkau memberikan jawaban berbeda untuk mimpi yang sama?"

Ibnu Sirin menjawab, "Karena aku melihat kondisi keduanya. Yang pertama adalah orang saleh yang taat beribadah, maka mimpinya adalah kabar gembira. Yang kedua adalah orang yang lalai dalam ketaatan, maka mimpinya adalah peringatan agar ia bertobat."

Kisah ini menunjukkan bahwa tafsir mimpi tidak bisa disamaratakan, tetapi harus melihat kondisi orang yang bermimpi, sebagaimana dipahami oleh para ulama salaf.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah jika mendapatkan mimpi baik, karena itu adalah kabar gembira dari Allah
  2. Jangan terlalu bergantung pada mimpi dalam mengambil keputusan hidup atau beribadah
  3. Jangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain, dan mintalah perlindungan kepada Allah
  4. Jadilah orang saleh agar mimpi kita lebih mendekati kebenaran
  5. Konsultasikan mimpi kepada orang yang berilmu jika ingin menafsirkannya

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.