Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6935 tentang Tanda kiamat: dua kelompok bertikai walau satu seruan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu tanda besar hari kiamat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa sebelum kiamat terjadi, akan ada dua kelompok besar dari umat Islam yang saling berperang, padahal keduanya sama-sama mengaku menyeru kepada Islam dan mengucapkan kalimat syahadat yang sama. Ini bukan perintah untuk berperang, melainkan kabar berita (ikhbar) tentang fitnah besar yang akan terjadi. Pelajaran utamanya adalah kita harus berhati-hati dalam menghadapi perselisihan, tidak mudah terprovokasi, dan tetap berpegang pada persatuan selama prinsip-prinsip utama agama tidak dilanggar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Fitan, bab "Qaulun Nabiyyi ﷺ La Taqumu As-Sa'ah..." (No. 6935), dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Lafazhnya:

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ ‏"‏

Artinya: "Tidak akan terjadi kiamat hingga dua kelompok bertikai, padahal seruan mereka satu."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al-Fitan wa Asyrat As-Sa'ah, dari jalur Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang telah terjadi. Yang dimaksud dengan "dua kelompok yang bertikai padahal seruan mereka satu" adalah dua kelompok besar dari kalangan umat Islam yang sama-sama mengaku berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah, sama-sama mengucapkan "Laa ilaaha illallah", namun terjadi peperangan di antara mereka karena faktor fitnah, ambisi kekuasaan, atau perbedaan pemahaman yang menyimpang.

Pandangan Ulama tentang Makna Hadits:

  1. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa mayoritas ulama menafsirkan dua kelompok ini sebagai pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhuma. Perang Shiffin adalah implementasi nyata dari kabar Nabi ﷺ ini. Kedua belah pihak sama-sama mengaku berada di atas kebenaran, dan keduanya adalah sahabat Nabi yang mulia. Namun, ini adalah takdir Allah yang terjadi sebagai ujian bagi umat.
  2. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini adalah berita tentang fitnah besar. Beliau menjelaskan bahwa peperangan ini terjadi di antara umat Islam sendiri, dan ini menunjukkan bahwa terjadinya perselisihan dan peperangan di kalangan umat adalah tanda dekatnya kiamat. Ini bukan berarti salah satu kelompok tersebut keluar dari Islam, karena Nabi ﷺ tetap menyebut mereka sebagai "dua kelompok" yang seruannya satu (sama-sama mengaku Islam).
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengabarkan tentang realita yang akan terjadi, bukan anjuran untuk melakukannya. Beliau menekankan bahwa seorang muslim wajib menjauhi fitnah dan berusaha menjadi penengah yang adil, bukan menjadi bagian dari kelompok yang saling bertikai tanpa dasar syar'i yang jelas.

Pelajaran Penting:

  • Ikhbar (Kabar) Bukan Insya' (Perintah): Hadits ini adalah kabar berita tentang masa depan, bukan perintah untuk berperang. Seorang mukmin tidak boleh menjadikan hadits ini sebagai dalih untuk memerangi sesama muslim.
  • Bahaya Perpecahan: Hadits ini menunjukkan bahwa perpecahan dan permusuhan di antara umat Islam adalah perkara yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi ﷺ, sampai-sampai beliau menjadikannya sebagai salah satu tanda kiamat.
  • Menjaga Persatuan: Selama seseorang masih mengucapkan syahadat dan menegakkan shalat, maka darah dan hartanya haram untuk dilanggar. Perselisihan harus diselesaikan dengan cara yang ma'ruf, bukan dengan pedang.

Story Telling

Dari kisah yang masyhur, ketika terjadi fitnah besar antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhuma, banyak sahabat yang justru memilih untuk mengasingkan diri dari peperangan tersebut. Di antaranya adalah Sa'id bin al-Musayyib (salah seorang ulama tabi'in yang sangat dihormati). Beliau dan para ulama tabi'in lainnya seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin sangat berhati-hati dalam menyikapi fitnah ini. Mereka tidak ikut serta dalam peperangan dan justru menasihati umat untuk menjauhi pertumpahan darah sesama muslim. Sikap mereka ini adalah wujud nyata dari pemahaman bahwa hadits ini adalah kabar tentang ujian yang berat, dan sikap terbaik adalah menjauhi fitnah serta menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa semua kabar Nabi ﷺ adalah benar, termasuk kabar tentang terjadinya peperangan di antara umat Islam sebagai tanda kiamat.
  2. Jangan pernah menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling membenci, apalagi berperang. Perbedaan yang masih dalam koridor ijtihad adalah rahmat.
  3. Jauhi fitnah dan jangan menjadi pemicu perpecahan. Jika terjadi perselisihan, jadilah penengah yang adil dan mengajak kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
  4. Perbanyak doa agar Allah menjaga hati kita dari sifat fanatik buta dan golongan (ashabiyah) yang tercela.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.