Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 6934
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan tegas dari Nabi ﷺ tentang munculnya sekelompok orang (Khawarij) dari arah Iraq yang rajin membaca Al-Qur'an secara lisan, tetapi bacaan itu tidak sampai ke hati mereka. Mereka keluar dari Islam dengan sangat cepat, seperti anak panah yang menembus dan keluar dari tubuh hewan buruan. Hadits ini mengajarkan kita agar berhati-hati terhadap sikap berlebihan dalam beragama, takfir (mengafirkan orang lain) tanpa ilmu, dan agar kita mengutamakan ilmu yang benar serta pemahaman yang lurus.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
"Dan janganlah kamu katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: 'Engkau bukan mukmin.'"
(QS. An-Nisa' [4]: 94)
Ayat ini menjadi dasar larangan tergesa-gesa mengafirkan seseorang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa seorang Muslim tidak boleh menuduh saudaranya keluar dari iman tanpa bukti yang jelas.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Istisyhab al-Murtaddin, no. 6934, dari sahabat Sahl bin Hunaif رضي الله عنه. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa'i dari beberapa sahabat seperti Abu Sa'id Al-Khudri dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهم.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tanda-tanda Khawarij yang telah disebutkan Nabi ﷺ jauh sebelum mereka muncul.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa Khawarij adalah kelompok pertama yang keluar dari ketaatan kepada jamaah Muslim dan mengafirkan pelaku dosa besar.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa Khawarij adalah orang yang beribadah banyak tetapi keliru dalam memahami nash, sehingga mereka menghalalkan darah kaum Muslimin.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Nabi ﷺ mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Iraq, memberi tahu bahwa dari sana akan muncul kelompok yang:
- Rajin membaca Al-Qur'an — secara lisan dan hafalan, tetapi bacaan itu "tidak melewati tenggorokan mereka." Artinya, ayat-ayat itu hanya di lisan, tidak masuk ke hati, tidak dipahami dengan benar, dan tidak diamalkan dengan pemahaman yang lurus. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah mereka membaca dengan lisan tetapi tidak merenungkan dan tidak mengamalkan kandungannya.
- Keluar dari Islam seperti anak panah dari sasaran — ungkapan yamruquna minal Islam muruqas sahmi minar ramiyyah menunjukkan bahwa mereka sangat cepat keluar dari agama, sebagaimana anak panah yang menembus hewan buruan dan langsung keluar dari sisi lainnya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa amal mereka tidak bermanfaat karena rusaknya keyakinan dan niat mereka.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Ibn Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menjelaskan bahwa Khawarij adalah kelompok yang pertama kali mengafirkan kaum Muslimin karena dosa, dan mereka menghalalkan darah serta harta kaum Muslimin. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini adalah salah satu mukjizat kenabian karena terjadi persis seperti yang dikabarkan Nabi ﷺ.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa penyakit utama Khawarij adalah ghuluw (berlebihan) dalam beragama dan jahil (bodoh) terhadap maksud sebenarnya dari nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka mengambil ayat-ayat tentang ancaman kepada orang kafir, lalu menerapkannya kepada kaum Muslimin yang berbuat dosa.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa judul bab yang dipilih Imam Al-Bukhari — "Bab tentang siapa yang meninggalkan memerangi Khawarij untuk mendamaikan" — menunjukkan bahwa tidak setiap saat harus diperangi; jika memerangi mereka justru menimbulkan kerusakan lebih besar, maka menahan diri untuk kemaslahatan yang lebih besar adalah sikap yang dibenarkan.
- Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwa-fatwanya menjelaskan bahwa Khawarij adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada penguasa Muslim, mengafirkan kaum Muslimin karena dosa, dan menghalalkan darah mereka. Beliau menegaskan bahwa sikap Ahlus Sunnah adalah menasehati dengan ilmu, bukan dengan kekerasan atau takfir sembarangan.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita agar tidak tertipu dengan banyaknya ibadah seseorang jika pemahamannya menyimpang. Beliau juga menekankan pentingnya ilmu sebelum beramal.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Khawarij yang disebut dalam hadits ini adalah kelompok tertentu yang sudah muncul di masa sahabat (seperti kelompok Dzul Khuwaishirah) atau mencakup semua kelompok yang memiliki ciri-ciri serupa sepanjang zaman. Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi cenderung memahami bahwa hadits ini mencakup semua kelompok yang memiliki sifat-sifat tersebut, bukan hanya satu kelompok tertentu. Pendapat ini yang lebih kuat karena didukung oleh banyak riwayat lain dan kenyataan sejarah yang berulang.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang membagikan harta (ghanimah), lalu datang seorang laki-laki bernama Dzul Khuwaishirah (dari Bani Tamim) dan berkata dengan kasar: "Ya Rasulullah, berlaku adillah!" Nabi ﷺ menjawab: "Celakalah engkau, siapa yang lebih adil dariku?"
Kemudian Nabi ﷺ bersabda tentang orang ini dan pengikut-pengikutnya:
يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
"Akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka; mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari sasaran."
Sahl bin Hunaif رضي الله عنه — yang meriwayatkan hadits dalam riwayat ini — pernah berkata ketika terjadi fitnah di masa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه: "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang mereka, dan aku tidak akan pernah memerangi mereka selama aku ingat hadits ini." Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menyikapi fitnah Khawarij.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa penampilan luar yang saleh, rajin ibadah, dan banyak membaca Al-Qur'an tidak cukup jika tidak disertai dengan ilmu yang benar dan pemahaman yang lurus. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Ilmu adalah imam, dan amal adalah pengikutnya." Artinya, amal tanpa ilmu yang benar bisa menyesatkan.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan ilmu sebelum beramal. Banyak membaca Al-Qur'an adalah baik, tetapi harus disertai dengan pemahaman yang benar dan perenungan maknanya, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dan Ibn Qayyim.
- Jauhi sikap ghuluw (berlebihan) dan takfir. Jangan tergesa-gesa mengafirkan saudara Muslim karena dosa atau perbedaan pendapat. Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa ini adalah ciri utama Khawarij.
- Hati-hati terhadap fitnah syubhat. Kelompok Khawarij muncul dari pemahaman yang salah terhadap nash. Karena itu, belajarlah kepada ulama yang terpercaya dan berpegang pada pemahaman salafus shalih.
- Jaga persatuan dan ketaatan kepada jamaah Muslimin. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Khawarij keluar dari ketaatan kepada jamaah. Maka jagalah persatuan selama masih dalam kebenaran.
- Bersikap adil dan bijak dalam menyikapi perbedaan. Sebagaimana judul bab Imam Al-Bukhari, terkadang menahan diri dari memerangi lebih baik untuk menjaga kemaslahatan yang lebih besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.