Penjelasan Hadits Bukhari No. 6930 tentang Ciri khawarij dan perintah memerangi mereka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang munculnya sekelompok orang di akhir zaman yang secara lahir tampak baik—muda, fasih bicara, bahkan mengutip perkataan terbaik—tetapi iman mereka tidak sampai ke hati, dan mereka keluar dari agama seperti anak panah menembus hewan buruan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mengingatkan bahaya mereka dan bahwa memerangi mereka—setelah tegaknya hujjah—mendatangkan pahala di hari kiamat. Ini bukan ajakan mudah membunuh, melainkan penjelasan tentang kelompok Khawarij yang memberontak dan menumpahkan darah kaum Muslimin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 32

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَإِنَّمَا أَحْيَاهَا كَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Terjemahan: "Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia."

Ayat ini menunjukkan agungnya menjaga jiwa, sehingga pembunuhan hanya dibenarkan melalui jalan syariat yang benar, bukan berdasarkan hawa nafsu.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Pembunuhan Murtad dan Penentang, Bab Pembunuhan Khawarij. Perawi sahabat: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Suwaid bin Ghafalah.

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib, dan oleh Abu Dawud as-Sijistani serta An-Nasa'i dengan lafaz yang berdekatan.

Penjelasan ulama terkait:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tentang sifat-sifat Khawarij dan kewajiban memerangi mereka setelah mereka menempuh jalan pemberontakan dan menghalalkan darah kaum Muslimin.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dimaksud "iman tidak melewati tenggorokan" adalah iman yang hanya di lisan, tidak sampai ke hati.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Khawarij adalah kelompok pertama yang keluar dari jalan Ahlus Sunnah dan mengkafirkan kaum Muslimin dengan takwil yang rusak.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua bagian penting:

Pertama, sikap kejujuran Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dalam meriwayatkan hadits. Beliau bersumpah bahwa lebih baik jatuh dari langit daripada berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Namun dalam urusan strategi perang, beliau membolehkan adanya "tipu daya" (خدعة), karena ini bukanlah berdusta dalam agama, melainkan bagian dari siasat perang yang dibolehkan syariat.

Kedua, sifat-sifat Khawarij yang disebutkan Nabi ﷺ:

  1. حُدَّاثُ الأَسْنَانِ — usia mereka masih muda, biasanya mudah terpengaruh semangat tanpa ilmu.
  2. سُفَهَاءُ الأَحْلَامِ — akal mereka dangkal, tidak matang dalam berpikir.
  3. يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ — mereka mengucapkan perkataan yang paling baik, yaitu mengutip Al-Qur'an dan hadits, tetapi hanya di lisan.
  4. لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ — iman mereka tidak melewati tenggorokan, artinya tidak masuk ke hati.
  5. يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ — mereka keluar dari agama seperti anak panah menembus hewan buruan, yaitu keluar dengan cepat dan total.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa Khawarij adalah orang yang beribadah banyak tetapi keluar dari ketaatan kepada ulama dan pemimpin, serta menghalalkan darah kaum Muslimin. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa mereka memiliki semangat ibadah yang tinggi tetapi tanpa ilmu yang benar, sehingga jatuh dalam penyimpangan.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa hadits ini mengajarkan pentingnya ilmu sebelum amal, karena semangat tanpa ilmu bisa menjerumuskan seseorang keluar dari jalan yang benar.

Adapun perintah "faqtuluhum" (bunuhlah mereka), ini bukan berarti setiap Muslim boleh membunuh sembarangan. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa perintah ini berlaku setelah mereka menempuh jalan pemberontakan, menumpahkan darah, dan setelah ditegakkan hujjah atas mereka oleh pemerintah yang sah. Ini adalah tugas penguasa, bukan individu.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya menegaskan bahwa memerangi Khawarij adalah kewajiban penguasa Muslim setelah mereka jelas-jelas memberontak dan menumpahkan darah, bukan izin bagi individu untuk main hakim sendiri.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahaya berbicara agama tanpa ilmu dan bahaya semangat tanpa pemahaman yang benar.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memerangi Khawarij di Nahrawan, beliau menemukan di antara mereka seorang yang memiliki cacat fisik tertentu yang disebutkan Nabi ﷺ sebagai tanda mereka. Ali kemudian memerintahkan untuk mencari orang tersebut, dan ketika ditemukan, beliau bertakbir dan berkata, "Ini adalah tanda yang disebutkan Rasulullah ﷺ."

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa Nahrawan terjadi pada tahun 38 H, di mana sekitar 4.000 Khawarij dibunuh setelah mereka menolak bertaubat dan terus menumpahkan darah kaum Muslimin. Ini menjadi pelajaran bahwa penyimpangan akidah yang dibiarkan bisa berujung pada pertumpahan darah.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang Khawarij, "Mereka adalah kaum yang paling bersungguh-sungguh dalam ibadah, tetapi mereka keluar dari jalan yang lurus karena tidak memiliki ilmu yang benar."

Kesimpulan Praktis

  1. Belajar ilmu agama sebelum beramal — semangat tanpa ilmu bisa menjerumuskan pada penyimpangan.
  2. Berhati-hati dalam berbicara atas nama agama — jangan mengutip dalil untuk membenarkan hawa nafsu.
  3. Menghormati otoritas ulama dan penguasa — urusan memerangi pemberontak adalah tugas penguasa, bukan individu.
  4. Menjaga persatuan kaum Muslimin — jangan mudah mengkafirkan atau menghalalkan darah saudara seiman.
  5. Berdoa agar Allah menjaga kita dari penyimpangan — baik penyimpangan akidah maupun penyimpangan dalam beramal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?