Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6928 tentang Bab jika seorang dhimmi dan lainnya mencela Nabi ﷺ dan tidak menyatakan seperti ucapan 'as-sam 'alaika'

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa jika orang Yahudi (atau non-Muslim lainnya) memberi salam dengan ucapan buruk yang terselubung, seperti “Sam ‘alaika” (kematian atasmu), maka kita cukup menjawab “Wa ‘alaika” (dan atasmu) atau “Wa ‘alaikum” (dan atas kalian). Jawaban ini adalah bentuk perlindungan dari doa buruk mereka, sekaligus adab yang dicontohkan Nabi ﷺ. Tidak boleh menambahi jawaban dengan ucapan yang lebih keras kecuali dalam batas syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang terkait:

QS. Al-Mumtahanah [60]: 8-9 (tentang berbuat adil dan berlaku baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi, namun tetap membedakan dalam hal agama). Namun ayat yang paling langsung adalah QS. Al-Mujadilah [58]: 8 tentang orang-orang yang memutarbalikkan salam.

Teks Arab QS. Al-Mujadilah [58]: 8 (potongan yang relevan):

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ ۖ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Terjemahan: “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (melanggar) larangan itu dan mereka saling membicarakan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam dengan cara yang tidak seperti yang telah Allah tentukan untukmu (yakni mengucapkan “as-sāmu ‘alaika” = kematian atasmu), dan mereka berkata dalam hati mereka, ‘Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan?’ Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan seburuk-buruk tempat kembali itulah.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Hadits yang dimaksud:

Shahih al-Bukhari, Kitab tentang penetapan kembali orang-orang yang murtad dan menentang serta memerangi mereka, Bab jika seorang dhimmi dan lainnya mencela Nabi ﷺ dan tidak menyatakan seperti ucapan 'as-sam 'alaika', no. 6928. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْيَهُودَ إِذَا سَلَّمُوا عَلَى أَحَدِكُمْ إِنَّمَا يَقُولُونَ سَامٌ عَلَيْكَ فَقُلْ عَلَيْكَ

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi jika memberi salam kepada salah seorang di antara kalian, mereka hanyalah mengatakan ‘Sam ‘alaika’ (kematian atasmu), maka katakanlah ‘Alaika’ (atasmu).” (HR. Bukhari no. 6928)

Penjelasan ulama:

Imam Al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan bahwa ucapan “Sam ‘alaika” termasuk bentuk celaan terhadap Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (12/292) menjelaskan bahwa Yahudi sengaja memutarbalikkan lafaz salam menjadi doa kematian. Perintah “qul ‘alaika” (katakanlah: atasmu) adalah jawaban yang setimpal, tidak perlu ditambah lagi. Namun dalam riwayat Muslim dari Aisyah, Nabi ﷺ menjawab “wa ‘alaikum” (dan atas kalian) sebagai bentuk umum. Maka kedua riwayat ini bisa digabungkan: jika mereka mengucapkan “Sam ‘alaika”, kita jawab “wa ‘alaika” atau “wa ‘alaikum” (atasmu/atas kalian) – yang berarti semoga doa buruk itu kembali kepada mereka.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (14/145) mengatakan bahwa jawaban seperti ini diperbolehkan, dan tidak menyalahi perintah untuk berbuat adil karena ini bagian dari membalas kejahatan dengan keadilan. Ulama mazhab Syafi’i dan lainnya membolehkan menjawab salam non-Muslim dengan “wa ‘alaikum” saja, tanpa menambahi doa kebaikan seperti “warahmatullah”.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

  1. Latar belakang turunnya perintah: Orang-orang Yahudi di Madinah biasa mengucapkan “as-sāmu ‘alaika” (semoga kematian menimpamu) kepada Nabi ﷺ dengan maksud mengejek. Mereka menyembunyikan niat buruk di balik lafaz yang mirip salam. Maka Nabi ﷺ mengajarkan para sahabat untuk membalas dengan “wa ‘alaika” (dan atasmu) – artinya semoga doa buruk itu kembali kepada mereka.
  2. Hukum menjawab salam non-Muslim: Mayoritas ulama – seperti Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah – berpendapat bahwa jika non-Muslim memulai salam dengan lafaz yang jelas atau terselubung, kita tidak boleh mendahului mereka, tetapi jika mereka memberi salam, kita wajib menjawab dengan “wa ‘alaikum” (dan atas kalian). Inilah yang difatwakan oleh ulama dalam daftar kita, seperti Ibn Hajar dan an-Nawawi.
  3. Bentuk jawaban yang tepat: Imam al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz “qul ‘alayka” (atasmu). Sementara dalam riwayat Muslim disebut “wa ‘alaykum” (dan atas kalian). Ibn Hajar menjelaskan bahwa keduanya sahih, dan bisa diamalkan. Yang penting adalah membalas tanpa menambahi doa kebaikan seperti “warahmatullahi wabarakatuh” karena itu hanya untuk sesama muslim. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits riwayat Muslim: “Apabila ahli kitab memberi salam kepada kalian, maka jawablah: wa ‘alaikum.”
  4. Sikap terhadap penghinaan agama: Apabila seorang dhimmi atau kafir mencela Nabi ﷺ secara terang-terangan, maka hukumnya berbeda – bisa dikenakan hukuman mati menurut jumhur. Namun dalam konteks salam yang samar, jawaban seperti hadits ini sudah cukup.

Story Telling

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa suatu ketika sekelompok Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan mengucapkan “as-sāmu ‘alaika” (kematian atasmu). ‘Aisyah langsung marah dan menjawab, “Wa ‘alaikum (kematian dan laknat Allah atas kalian)!” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau kasar. Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala urusan.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?” Nabi ﷺ menjawab, “Aku telah menjawab dengan ‘wa ‘alaikum’ (dan atas kalian).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari kisah ini: Seorang muslim harus tetap mempertahankan adab dan kelembutan, meskipun mendapat perlakuan buruk. Cukup menjawab sepadan tanpa menambah amarah. Inilah akhlak Nabi ﷺ yang diajarkan kepada umatnya.

Kesimpulan Praktis

  • Jika ada non-Muslim (Yahudi, Nasrani, atau lainnya) yang memberi salam dengan ucapan yang tampak baik tetapi tersirat buruk, jawablah dengan “wa ‘alaika” atau “wa ‘alaikum”.
  • Jangan menambahi doa kebaikan seperti “warahmatullahi wabarakatuh” kepada mereka ketika menjawab salam.
  • Tetaplah beradab dan lembut dalam menjawab, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  • Perbedaan niat mereka bukan alasan untuk kita bersikap kasar; cukup balas dengan jawaban yang setimpal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.