Penjelasan Hadits Bukhari No. 6916 tentang Larangan mengunggulkan sebagian nabi atas nabi lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang kita mengangkat sebagian nabi di atas nabi lain dengan cara merendahkan yang lain, karena semua nabi sama-sama benar dan mulia sebagai utusan Allah. Yang boleh kita yakini adalah adanya keutamaan tertentu yang Allah sendiri tetapkan, seperti Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi. Jadi larangan ini bukan berarti menolak keutamaan, tetapi menolak sikap membanding-bandingkan yang menimbulkan perpecahan atau merendahkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Baqarah [2]: 285

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) kepadanya, dan Allah meninggikan sebagian mereka beberapa derajat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Diyat, Bab "Jika Seorang Muslim Menampar Seorang Yahudi Saat Marah", dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه. Sanadnya: Abu Nu'aim → Sufyan (ats-Tsauri) → Amr bin Yahya → ayahnya → Abu Sa'id → Nabi ﷺ.

Hadits senada juga diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dengan lafaz: "Laa tukhayyiru baina al-anbiya'" — dan dalam riwayat lain disebutkan konteks seorang Muslim dan Yahudi yang berselisih lalu saling menyebut keutamaan Musa عليه السلام dan Muhammad ﷺ.

Penjelasan Rinci

Makna lafaz hadits:

Kata "لاَ تُخَيِّرُوا" berasal dari takh-yiir, yaitu memilih atau mengunggulkan sebagian atas sebagian lain dengan cara membandingkan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini berkaitan dengan konteks perselisihan antara seorang Muslim dan Yahudi, di mana masing-masing mengklaim nabinya lebih utama, sehingga hampir menimbulkan pertengkaran. Maka Nabi ﷺ melarang sikap semacam itu.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti semua nabi sama derajatnya, karena Al-Qur'an sendiri menyebut adanya keutamaan (fadhilah) di antara para nabi. Yang dilarang adalah at-takhyir yang menimbulkan perdebatan, merendahkan, atau mengklaim tanpa ilmu. Adapun meyakini keutamaan yang Allah tetapkan — seperti Nabi Muhammad ﷺ sebagai khatamun nabiyyin dan sayyidul mursalin — itu adalah bagian dari aqidah yang benar.

Ibnu Hajar al-Asqalani menukil bahwa sebagian ulama memahami larangan ini sebagai larangan berdebat tentang keutamaan nabi dengan cara yang menimbulkan keraguan atau merendahkan salah satu nabi. Sedangkan penetapan keutamaan yang datang dari dalil tetap diterima.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 285 menegaskan bahwa Allah sendiri yang menetapkan keutamaan di antara para rasul, dan kita wajib mengimani semuanya tanpa membeda-bedakan dalam hal kenabian dan kebenaran risalah, namun tetap mengakui keutamaan yang Allah berikan kepada sebagian mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa iman kepada para rasul bersifat menyeluruh — kita beriman kepada semua nabi tanpa menolak salah satunya — dan keutamaan di antara mereka adalah hak Allah untuk menetapkannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam syarahnya bahwa larangan tukhayyiru di sini adalah larangan menjadikan perbandingan sebagai bahan perselisihan dan permusuhan, bukan larangan meyakini keutamaan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Kesimpulan pemahaman:

  • Wajib beriman kepada seluruh nabi tanpa membeda-bedakan dalam hal kebenaran kenabian mereka.
  • Keutamaan di antara nabi adalah hak Allah, dan kita menerima apa yang Allah tetapkan.
  • Dilarang membanding-bandingkan nabi dengan tujuan merendahkan, berdebat tanpa ilmu, atau memicu permusuhan.

Story Telling

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa seorang Muslim dan seorang Yahudi saling bertengkar. Si Yahudi berkata, "Tidak, demi Allah yang memilih Musa di atas seluruh manusia." Mendengar itu, si Muslim menampar wajahnya. Lalu keduanya mengadukan perkara itu kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Janganlah kalian mengunggulkan aku di atas Musa." Dalam riwayat lain: "Janganlah kalian membanding-bandingkan antara para nabi."

Hikmah kisah ini: Nabi ﷺ tidak membenarkan cara yang menimbulkan pertengkaran dan saling merendahkan, meskipun orang yang diperselisihkan adalah nabi yang mulia. Beliau mengajarkan adab dan menutup pintu perdebatan yang tidak bermanfaat. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ mengutamakan persatuan dan akhlak di atas perdebatan yang sia-sia.

Kesimpulan Praktis

  1. Beriman kepada semua nabi tanpa menolak atau merendahkan salah satunya.
  2. Meyakini keutamaan yang Allah tetapkan — seperti Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi terakhir dan paling utama — tanpa berdebat kusir.
  3. Menghindari perdebatan tentang keutamaan nabi yang menimbulkan permusuhan atau merendahkan.
  4. Menjaga adab dalam berbicara tentang para nabi, karena mereka semua adalah utusan Allah yang wajib dihormati.
  5. Fokus pada amal dan mengikuti sunnah, bukan pada perbandingan yang tidak membawa manfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?