Penjelasan Hadits Bukhari No. 69 tentang Memudahkan urusan dan memberi kabar gembira dalam dakwah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pedoman utama dalam berdakwah dan mengajar. Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk selalu bersikap mudah, tidak mempersulit orang lain, memberi kabar gembira, dan tidak membuat orang lari dari agama. Ini adalah prinsip dasar dalam menyampaikan ilmu dan ajaran Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ilmu, Bab: Apa yang Dikatakan Nabi ﷺ kepada Mereka dengan Nasehat dan Ilmu agar Tidak Menyebabkan Mereka Menjauh, no. 69. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا"

"Permudahlah dan jangan menyulitkan, dan berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari (dari Islam)."

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk kaidah agung dalam berdakwah. Beliau menekankan bahwa seorang guru, dai, atau pemimpin harus bersikap lembut dan tidak keras, karena kekerasan hanya akan membuat orang menjauh.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua perintah dan dua larangan yang saling berkaitan:

  1. "يَسِّرُوا" (Permudahlah): Ini adalah perintah untuk bersikap mudah dan memberikan kemudahan dalam segala urusan agama. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kemudahan ini mencakup:
  • Dalam mengajarkan ilmu: sampaikan dengan cara yang mudah dipahami, tidak berbelit-belit.
  • Dalam berfatwa: berikan fatwa yang paling ringan selama tidak bertentangan dengan dalil.
  • Dalam beribadah: ajarkan ibadah sesuai kemampuan, jangan memberatkan diri sendiri atau orang lain.
  1. "وَلاَ تُعَسِّرُوا" (Jangan menyulitkan): Ini adalah larangan untuk mempersulit. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mempersulit bisa berarti:
  • Meminta sesuatu di luar kemampuan.
  • Memperbanyak larangan tanpa kebutuhan.
  • Menyampaikan ilmu dengan cara yang rumit dan membingungkan.
  1. "وَبَشِّرُوا" (Berilah kabar gembira): Perintah untuk menyampaikan hal-hal yang menggembirakan tentang Islam. Imam Al-Qurthubi (dari kalangan ulama tafsir) menjelaskan bahwa kabar gembira ini adalah tentang luasnya rahmat Allah, besarnya pahala, dan kemudahan dalam beramal.
  2. "وَلاَ تُنَفِّرُوا" (Jangan membuat mereka lari): Larangan untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan orang menjauh dari agama. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa sikap keras, kasar, dan terlalu banyak melarang adalah penyebab utama orang lari dari agama.

Penerapan Ulama Salaf:

  • Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Jika kamu ingin saudaramu mendengar nasihatmu, maka nasihatilah dia dengan lembut, karena kekerasan hanya akan membuatnya keras kepala."
  • Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat membenci sikap keras dalam beragama. Beliau lebih memilih untuk memberikan keringanan dalam banyak masalah selama tidak ada dalil yang tegas melarangnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang Badui masuk masjid lalu kencing di dalamnya. Para sahabat marah dan hendak menghardiknya. Namun, Nabi ﷺ bersabda: "Biarkan dia, jangan kalian potong kencingnya." Setelah selesai, beliau memanggil orang Badui itu dan berkata dengan lembut: "Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk kencing atau kotoran. Masjid ini hanya untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ menerapkan hadits "yassiru wa la tu'assiru" (permudah dan jangan persulit). Beliau tidak memarahi atau membuat orang itu lari, tetapi justru mengajarkan dengan lembut sehingga orang Badui itu pun memahami dan kemudian menjadi lebih baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Dalam mengajar: Gunakan bahasa yang mudah, berikan contoh, dan jangan membebani murid dengan ilmu yang terlalu berat sekaligus.
  2. Dalam berdakwah: Sampaikan kabar gembira tentang rahmat Allah, jangan hanya fokus pada ancaman dan larangan.
  3. Dalam bergaul: Bersikaplah lembut, jangan kasar, karena kekerasan hanya akan membuat orang menjauh.
  4. Dalam beribadah: Ambillah amalan yang ringan namun istiqamah, jangan memaksakan diri hingga akhirnya malah berhenti total.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?