Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan bahwa di antara dosa-dosa besar (al-kabā'ir) adalah menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada orang tua, sumpah palsu (al-yamīn al-ghamūs), dan membunuh jiwa tanpa hak. Hadits ini mengajarkan bahwa dosa besar bukan hanya satu, melainkan beberapa perkara yang harus dijauhi seorang muslim. Yang paling besar adalah syirik, lalu diikuti dosa-dosa besar lainnya seperti durhaka kepada orang tua dan sumpah palsu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Diyāt, Bab Firman Allah dan Barangsiapa yang Menghidupkannya (no. 6870), dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang sangat berkaitan dengan tema hadits ini:
QS. Al-Isra' [17]: 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."
QS. Al-Furqan [25]: 68
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Terjemahan: "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan yang demikian, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)."
Kaitan dengan ulama: Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk perbedaan riwayat Syu'bah yang ragu antara menyebut "sumpah palsu" atau "membunuh jiwa". Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits serupa tentang al-kabā'ir.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyebutkan beberapa dosa besar. Perlu dipahami bahwa hadits ini tidak membatasi dosa besar hanya pada yang disebutkan, karena dalam riwayat lain dari Abdullah bin Amr dan Abu Bakrah, Nabi ﷺ menyebutkan dosa-dosa besar yang berbeda-beda. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penyebutan sebagian dosa besar dalam hadits tertentu bukan berarti menafikan yang lain, melainkan untuk menekankan betapa beratnya dosa-dosa tersebut.
Pertama: Syirik (الإشراك بالله)
Ini adalah dosa terbesar. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 48 bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa syirik adalah kezaliman terbesar karena menyerupakan makhluk dengan Sang Pencipta.
Kedua: Durhaka kepada orang tua (عقوق الوالدين)
Ini adalah dosa besar setelah syirik. Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa yang disegerakan hukumannya di dunia sebelum di akhirat. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban besar, dan durhaka kepadanya adalah dosa yang sangat berat.
Ketiga: Sumpah palsu (اليمين الغموس)
Al-yamīn al-ghamūs adalah sumpah yang diucapkan dengan sengaja untuk berdusta, yang "menenggelamkan" pelakunya ke dalam dosa. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dinamakan "ghamūs" karena sumpah itu menenggelamkan pelakunya ke dalam neraka. Sumpah ini tidak ada kafaratnya menurut jumhur ulama, karena dosanya terlalu besar; yang harus dilakukan adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Keempat: Membunuh jiwa tanpa hak (قتل النفس)
Ini disebutkan dalam riwayat Mu'adz bin Mu'adz dari Syu'bah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa membunuh jiwa tanpa hak adalah dosa yang sangat besar, dan pelakunya diancam dengan azab yang pedih, kecuali jika bertaubat.
Perbedaan riwayat: Syu'bah ragu apakah Nabi ﷺ menyebut "sumpah palsu" atau "membunuh jiwa" sebagai dosa besar yang ketiga setelah durhaka kepada orang tua. Ini adalah keraguan perawi, bukan pertentangan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kedua-duanya memang termasuk dosa besar, sehingga tidak ada masalah dengan keraguan ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang sangat tekun beribadah. Ia pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dosa-dosa besar, dan Nabi ﷺ menyebutkan sebagaimana dalam hadits ini. Abdullah bin Amr juga dikenal sebagai sahabat yang banyak menulis hadits, hingga ia memiliki lembaran-lembaran catatan yang disebut ash-Shahifah ash-Shadiqah. Semoga Allah meridhainya.
Dalam kisah lain, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apa dosa besar itu?" Nabi ﷺ menjawab, "Engkau menyekutukan Allah padahal Dia yang menciptakanmu." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian apa?" Nabi ﷺ menjawab, "Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian apa?" Nabi ﷺ menjawab, "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bahwa dosa-dosa besar itu beragam, dan semuanya harus dijauhi.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi syirik dalam segala bentuknya, karena itu dosa terbesar yang tidak diampuni tanpa taubat.
- Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban besar; durhaka kepada mereka adalah dosa besar yang harus segera ditaubati.
- Jangan bersumpah palsu untuk menipu atau mengambil hak orang lain; sumpah palsu menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa.
- Jaga nyawa manusia; membunuh tanpa hak adalah dosa besar yang ancamannya sangat berat.
- Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh dari semua dosa besar, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.