Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6867 tentang Larangan membunuh dan dosa pelopor pembunuhan pertama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang bahaya besar memulai suatu perbuatan buruk, khususnya pembunuhan. Setiap kali ada jiwa yang terbunuh secara zalim, maka dosa dari pembunuhan itu juga dicatat untuk orang yang pertama kali memulai tradisi membunuh, yaitu Qabil (putra Nabi Adam). Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang mencontohkan keburukan akan menanggung dosanya sendiri dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Diyat, Bab "Perkataan Allah Ta'ala Dan Barangsiapa yang menghidupkannya", no. 6867, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Firman Allah Ta'ala:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya." (QS. Al-Ma'idah [5]: 32)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan kisah Qabil yang membunuh Habil. Beliau menukil perkataan para ulama salaf bahwa Qabil adalah orang pertama yang memulai pembunuhan di bumi, dan karena itu ia menanggung dosa setiap pembunuhan yang terjadi setelahnya. Ini sesuai dengan makna hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung prinsip agung dalam Islam: barangsiapa yang memulai suatu perbuatan baik atau buruk, maka ia akan mendapatkan pahala atau dosa dari perbuatan tersebut, ditambah pahala atau dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "كِفْلٌ" (kifl) di sini adalah bagian atau porsi dosa. Jadi, setiap kali ada jiwa yang dibunuh secara zalim, maka Qabil mendapatkan bagian dosa dari pembunuhan tersebut, karena dialah yang pertama kali mencontohkan perbuatan keji ini.

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga menjadi peringatan bagi kita semua agar berhati-hati dalam memulai sesuatu. Jika seseorang memulai kebaikan, ia akan mendapat pahala kebaikan itu dan pahala orang yang mengikutinya. Sebaliknya, jika ia memulai keburukan, ia akan mendapat dosa keburukan itu dan dosa orang yang mengikutinya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menegaskan bahwa makna "menghidupkan jiwa" dalam ayat di atas adalah menyelamatkannya dari kematian, baik dengan mencegah pembunuhan, menyelamatkan dari kelaparan, atau menyembuhkan dari penyakit. Ini adalah perbuatan yang sangat agung di sisi Allah.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan bahwa dosa pembunuhan pertama yang dilakukan Qabil tidak terhapus, dan ia terus bertambah dosanya setiap kali ada pembunuhan zalim yang terjadi di muka bumi. Ini adalah bentuk keadilan Allah yang sempurna.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama (Qabil) menanggung sebagian dosanya. Karena dialah yang pertama kali memulai tradisi pembunuhan."

Para ulama menyebutkan bahwa kisah ini bermula ketika Qabil dan Habil, kedua putra Nabi Adam 'alaihis salam, mempersembahkan kurban kepada Allah. Habil mempersembahkan kurban yang baik, sedangkan Qabil mempersembahkan yang buruk. Allah menerima kurban Habil dan menolak kurban Qabil. Karena iri dan dengki, Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil.

Setelah membunuh saudaranya, Qabil bingung harus berbuat apa dengan mayat saudaranya. Allah kemudian mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan gagak lain yang mati. Melihat hal itu, Qabil menyesal dan berkata, "Celakalah aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti gagak ini untuk menguburkan mayat saudaraku?" Maka jadilah ia termasuk orang-orang yang menyesal. (QS. Al-Ma'idah [5]: 31)

Dari kisah ini, kita belajar bahwa iri dan dengki adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menyeret seseorang melakukan kejahatan terbesar, yaitu membunuh saudaranya sendiri. Dan karena Qabil memulai tradisi buruk ini, dosanya terus bertambah setiap kali ada pembunuhan zalim di dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Berhati-hatilah dalam memulai sesuatu — baik atau buruk, karena kita akan menanggung akibatnya dan akibat orang yang mengikuti kita.
  2. Jauhilah iri dan dengki — karena keduanya adalah akar dari banyak kejahatan besar, termasuk pembunuhan.
  3. Semangatlah memulai kebaikan — karena pahalanya akan terus mengalir selama orang lain mengamalkannya.
  4. Jangan pernah meremehkan dosa kecil — karena bisa menjadi pintu menuju dosa besar.
  5. Menjaga nyawa manusia adalah perkara yang sangat agung — dalam Islam, membunuh satu jiwa tanpa hak bagaikan membunuh seluruh manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.